Antara Sauvinisme, Nasionalisme, dan Kapitalisme (Sebuah Persepsi tentang Sepakbola)


Siapa di dunia ini yang tak kenal cabang olahraga sepakbola? Penulis yakin sepakbola adalah salah olahraga yang sangat fenomenal dengan penggemar paling banyak di muka bumi ini. Sepakbola menjadi trend, gaya hidup, sumber hidup, dan tujuan hidup sebagian orang di sekitar kita. Ya, itulah magis sepakbola. Sepakbola telah mengakar kuat di kehidupan manusia.

Dengan demikian mengakarnya sepakbola pada kehidupan manusia, membuat sepakbola seakan-akan memiliki tuah/kesaktian untuk mengendalikan manusia, terutama dalam hitungan jamak (kelompok). Dengan berdasar sepakbola, sekelompok manusia menjadi merasa satu tujuan, satu harapan, dan satu identitas. Di situlah ‘ruh’ pengendalian itu berada.

Bagi kelompok ekstrim, klub sepakbola kesayangan harus mereka puja sampai titik darah penghabisan, sedangkan para pemain ibarat para malaikat yang akan mewakili mereka –para pemuja itu- untuk meraih kemenangan. Namun, mereka yang memandang sepakbola tetap cabang olahraga biasa, akan mendukung tim kesayangan dengan tetap memerhatikan logika.

Dalam lingkup lokal, sepakbola bisa menyulut semangat sauvinisme sekelompok manusia yang bernama suporter. Suporter ini akan bersatu padu membela timnya dengan risiko apapun. Meski hanya kepuasan diri yang diperoleh, tidak menjadi masalah bagi mereka. Kemenangan adalah kebanggaan, dan kekalahan adalah aib memalukan.

Bagi pemerintah daerah, prestasi sepakbola bisa mengharumkan nama daerah tersebut. Klub sepakbola selalu membawa nama daerah dan dikenal di seantero negeri. Hal ini didukung dengan media televisi yang menyiarkan pertandingan-pertandingan sepakbola antarklub daerah secara live.

Di level internasional, sepakbola adalah perjuangan mengharumkan nama bangsa dan negara. Para pemainnya adalah para pejuang yang akan berjuang sekuat tenaga demi kehormatan bangsa dan negara. Kemenangan akan mengharumkan nama negeri tercinta dan para pemainnya bak pahlawan di medan perang.
Ketika tiba saatnya tim nasional bertanding, pada titik tersebut nasionalisme tiba-tiba menjadi bergelora. Seluruh anak bangsa bersatu padu di bawah satu bendera merah putih. Tak ada pendukung klub A, klub B, atau klub C, yang ada hanya satu barisan pendukung tim nasional. Tanpa canggung mereka akan duduk bersama, tertawa dan bersorak bersama, atau mugkin menangis bersama. Tak ada perbedaan, yang ada hanya persatuan.

Dan ketika kita melihat dari sisi yang lain, sisi ekonomi, sepakbola adalah sebuah industri. Selain timnas, klub-klub sepakbola didanai swasta. Kreatifitas dan inovasi untuk meraih titik aman angka pendapatan klub mutlak diperlukan.

Terlepas dari dalam negeri yang terkesan masih karut-marut dalam manajerial dan pendanaan, kita bisa melihat contoh riil di klub-klub mapan Eropa misalnya. Betapa mereka telah memiliki penetrasi pasar yang sangat luas. Penghasilan tak hanya datang dari penjualan tiket dan sponsor. Beragam produk dan kerjasama mereka luncurkan untuk menghasilkan profit. Kaum kapitalis turut berlomba ambil bagian dari industri yang menggiurkan ini. Sepakbola telah berhasil menggabungkan semangat juang, nasionalisme, kepuasan, dan keuntungan ekonomis.
       
Antara Sauvinisme, Nasionalisme, dan Kapitalisme (Sebuah Persepsi tentang Sepakbola) Antara Sauvinisme, Nasionalisme, dan Kapitalisme (Sebuah Persepsi tentang Sepakbola) Reviewed by Ahmad Salim on November 03, 2015 Rating: 5

2 komentar:

~ Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak dengan berkomentar di sini. Jangan ada spam, SARA, pornografi, dan ungkapan kebencian. Semoga bermanfaat. ~