Sekilas tentang Cerpen

Cerpen ialah kata akronim atau kependekan bagi cerita pendek. Terdapat lima genre dalam kesusasteraan Melayu modern, yaitu cerpen, drama, esai atau kritik, novel dan puisi. Cerpen merupakan salah satu karya fiksi yang cukup populer di kalangan pembaca, terlebih keberadaannya didukung oleh berbagai media massa cetak yang terbit di Indonesia.

    Cerpen ialah cerita imajinasi pengarang yang disampaikan melalui bahasa yang indah dan teknik penceritaan yang menarik serta mempunyai nilai estetika. Cerpen juga merupakan satu gabungan antara pengalaman sebenarnya di dunia nyata (fakta) dengan rekaan atau imajinasi pengarang.
     Panjang sebuah cerpen antara 500-10.000 kata dan lebih fokus dibandingkan novelet, apalagi novel. Menurut Edgar Allan Poe, si bapak cerpen sekaligus kritikus cerpen pertama, prose tale (sebutan Poe untuk cerpen) adalah narasi yang bisa dibaca dalam sekali duduk, dengan lama waktu baca dari setengah hingga dua jam. Pandangan tersebut tentu menjadi sangat subjektif karena sekarang novel pun biasa dibaca habis dalam sekali duduk. Di dalam media massa cetak, panjang sebuah cerpen pun menjadi relatif karena dibatasi margin yang berbeda dari tiap redaksi.
     Cerpen dalam berbagai bentuknya telah ada sepanjang sejarah. Keberadaannya bisa terlacak dari bentuk fable, epik, dan dongeng dari abad pertengahan (abad ke-5 hingga ke-15). Cerpen menjadi genre sastra yang diakui sejak abad 19 sebagai hasil dari tumbuhnya media dan bacaan santai, serta munculnya Edgar Allan Poe, bapak cerpen sekaligus kritikus cerpen pertama.
     Cerpen harus unik dan memiliki efek tunggal tertentu apabila selesai dibaca. Untuk mencapai keunikan dan efek tunggal tertentu, menurut Poe, cerpen harus mempunyai plot dan karakter yang langsung diwujudkan dalam tindakan, bukan dalam deskripsi atau komentar penulisnya. Deskripsi hanya akan membuat cerpen terlalu panjang dan membosankan.

Apa yang perlu ada dalam karya sastra seperti cerpen?
Sebuah cerpen yang baik perlu mempunyai empat unsur pembangun utama yang jamak kita dengar yakni tema, plot (alur), setting, dan tokoh. Di samping itu ada beberapa unsur penting lain yang turut mempengaruhi keberhasilan sebuah cerpen yaitu nilai intelektual, pancaran emosi, konflik atau peristiwa, serta teknik penulisan.

Nilai Intelektual
     Sebuah cerpen yang baik mempunyai sesuatu pemikiran yang tinggi. Makna dalam karya tersebut adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca supaya menjadi bahan perenungan dan pemikiran oleh pembaca untuk selanjutnya dijadikan panduan. Dari sebuah karya cerpen yang baik pembaca juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman. Ada yang mengatakan karya yang baik itu dibaca seribu orang dan di antara seribu orang itu ada satu orang yang berubah lebih baik. Karya sastra, demikian juga cerpen, tidak hanya berfungsi sederhana sebagai hiburan belaka, tetapi lebih dalam lagi sebagai sumber pengetahuan dan pencerahan.
 
Emosi
     Dalam sebuah cerpen mesti terpancar adanya berbagai perasaan yang dilukiskan oleh pengarang. Ada gembira, sedih, sinis, dan berbagai emosi lain. Seorang pengarang cerpen hedaknya memilih persoalan dan gaya bahasa (diksi) yang bisa dihayati dengan baik oleh pembacanya sehingga dapat menimbulkan suatu efek pikiran dan perasaan khusus serta memberikan kesan pengajaran dan hiburan. Tanpa adanya ledakan emosi, cerpen beresiko menjadi hambar dan kaku, hingga akhirnya ditinggalkan pembaca begitu saja tanpa ada kesan yang berarti.

Konflik dan Peristiwa
     Konflik dan peristiwa dalam sebuah cerpen perlu ditulis oleh pengarang dengan mata hati dan daya pikir, yaitu dengan imajinasi yang di dalamnya terkandung unsur-unsur pemikiran, bukan hanya angan-angan belaka. Konflik merupakan daya tarik sebuah cerpen. Ada kalanya konflik langsung ditaruh di paragraf pembuka, hal ini karena pengarang bermaksud menggedor pembaca dan memaksa pembaca mengikuti cerpennya dari awal sampai akhir.

Teknik Penulisan
     Teknik penulisan adalah cara pengolahan sebuah cerpen oleh pengarangnya. Susunan peristiwa dan diksi yang dipilih adalah salah satu unsur penting dalam penulisan cerpen. Estetika adalah hal mendasar dalam karya sastra, termasuk dalam cerpen. Pengarang benar-benar membutuhkan kecermatan dalam mengolah tulisannya. Penting juga seorang pengarang memperhatikan segmentasi pembaca demi kesuksesan cerpen yang sedang ia tulis. 

Ciri-ciri khas cerpen:
     Kesuksesan sebuah cerpen dapat diukur berdasarkan pada ciri-ciri khasnya. Berikut ini adalah ciri-ciri khas yang ada pada cerpen.
1. Singkat, padu, dan intensif (ada peristiwa dan konflik yang ditekankan),
2. ada adegan dan perwatakan,
3. bahasa tajam dan menarik,
4. interpretasi pengarang kepada kehidupan sehari-hari,
5. dapat menimbulkan satu kesan (kesan tunggal),
6. menarik dan dapat mempengaruhi perasaan pembaca,
7. penggambaran jelas pada peristiwa dan konflik yang dipilih, dan
8. ada cerita/persoalan utama, watak utama, latar dan suasana.


(Dari berbagai sumber)







Sekilas tentang Cerpen Sekilas tentang Cerpen Reviewed by Ahmad Salim on November 10, 2015 Rating: 5

2 komentar:

  1. Wah, bisakah cerpen yang ditulis juga mencerminkan tingkat intelektual penulisnyakah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya bisa sekali, Mbak. Terdeskripsi melalui pemilihan tema, diksi, juga pengetahuan yang disisipkan dalam cerpen tersebut. Pembaca pun bisa memperoleh pemahaman yang baru dari cerpen yang dibacanya. Mungkin itu sih, hehehe

      Hapus

~ Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak dengan berkomentar di sini. Jangan ada spam, SARA, pornografi, dan ungkapan kebencian. Semoga bermanfaat. ~