Segenggam Sumbangan ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim


Huft …

Lagi-lagi ada peminta sumbangan datang ke rumah.

“Maaf, Pak, kami dari yayasan anu, memohon sedikit uluran tangan Bapak. Kami sedang menggalang dana untuk pembangunan gedung anu. Mohon Bapak berkenan membaca proposal yang kami bawa ini.”

Dengan ogah-ogahan kuambil dan kulihat lembaran proposal itu. Hanya kubolak-balik tanpa kubaca sedikit pun. Lalu kutaruh lagi di meja. Kuperhatikan wajah mereka. sinar-sinar penuh pengharapan memancar.

“Berapa?” tanyaku agak ketus.

“Seikhlasnya saja, Pak.”

“Hmm …”

Kuambil dompet dari saku celana. Sempat kulirik salah satu di antara mereka menyiapkan sebuah daftar. Sepertinya daftar nama para penyumbang dana. Okelah kali ini, pikirku. Tapi jangan harap lain kali. Kucabut selembar sepuluh ribuan dan kuletakkan di atas lembaran proposal mereka. seorang yang memegang daftar nama tadi bersiap-siap menulis.

“Maaf, namanya siapa, Pak?”

“Tulis saja hamba Allah,”

“Terima kasih atas segala keikhlasan Bapak. Hanya Tuhan nanti yang dapat membalasnya. Sekali lagi terima kasih banyak, kami mohon pamit sekarang, Pak.”

Ah, Klise.

Mereka menyalamiku satu persatu. Kupandangi mereka sampai di jalan. Kesal dan bosan. Masa sehari ini ada lima kali orang datang meminta sumbangan. Memangnya aku ini bos penyandang dana? Kalau memang belum ada cukup dana ya jangan dipaksakan membangun dulu, dong! Sungutku dalam hati.

“Sudahlah, Mas,” istriku yang tahu isi hatiku mencoba menenangkanku. Dipijitinya pundakku yang memang seperti habis menahan beban beberapa ton.

“Kita malahan harus bersyukur karena masih bisa menyumbang. Rezeki itu kan datangnya dari Allah. Pasti nanti ada balasan yang setimpal dari-Nya.”

“Beramal sih beramal. Tetapi masa tiap hari beruntun begitu? Tampaknya masyarakat kita lagi keranjingan membangun.”

“Bukankah itu tanda kemajuan masyarakat?”

“Bukan kemajuan, tapi pemaksaan. Mereka sedang berlomba membuat bangunan megah, entah nanti ada manfaatnya atau tidak.”

“Ah, itu kan hanya pemikiran Mas saja yang su’udzon. Bilang saja kalau malas menyumbang.” Istriku menyunggingkan senyum.

“Sudahlah, aku mau tidur dulu. Capek rasanya seharian ini.”

Istriku masih tersenyum melihatku. Istriku memang terlalu baik hati. Sebagai perempuan perasaannya terlalu peka. Selalu saja tidak tega jika ada orang datang meminta bantuan. Ah, memang perempuan.

* *

 “Ini proyek fiktif atau nyata?”

Lagi-lagi ada peminta sumbangan datang ke rumahku. Padahal saat-saat ini sedang tanggal tua. Persediaan rumah tangga sudah menipis dan perlu diirit.

“Demi Allah, Pak. Sebagai bukti, ini ada stempel dan tanda tangan dari kelurahan dan kecamatan. Proyek ini benar-benar nyata. Ini juga saya sertakan foto-foto lokasinya dan bangunan yang belum selesai.”

“Hmm… kalau dananya belum cukup kenapa masih nekat membangun?”

“Tapi, masyarakat di tempat saya benar-benar sangat membutuhkan kehadiran bangunan itu. Kami sudah mengajukan bantuan ke pemerintah juga, tapi lama menunggu keputusan cair. Alhamdulillah, sekarang bangunan itu hampir terwujud, sudah selesai sekitar 70 persen. Bangunan itu untuk sarana pendidikan di tempat kami, Pak. Dengan adanya bangunan itu, impian mengenyam pendidikan layak bagi anak-anak masyarakat kami lebih mudah tercapai.”

Kutarik napas dalam-dalam. Dari raut mukanya yang teduh dan berwibawa, hati nuraniku sangat yakin dia bukan seorang pembohong.

Tetapi entah kenapa, aku sama sekali tidak tertarik untuk memberinya sumbangan. Entah setan mana yang merasuki pikiranku. Sedekah jariyah yang kutahu pahalanya berlipat-lipat hampir kuabaikan begitu saja. Ataukah aku terlalu capek dengan rutinitas pekerjaanku, sehingga rasa kesal dan bosan kepada mereka, para pencari dana door to door, kambuh lagi. Entahlah.

Tiba-tiba istriku muncul dari dalam. Dia membawa dua gelas teh. Dipersilakannya tamu itu untuk minum. Lalu dia ikut duduk di depanku. Ck … istriku. Pasti peminta sumbangan itu akan segera mendapatkan rezekinya. Aku sudah menduga apa yang akan dilakukan istriku.

“Bagaimana, Mas? Sudah belum?” dia bertanya padaku. Aku sedikit tergeragap lalu kemudian menggeleng.

“Gimana, sih? Kasihan bapak ini menunggu.”

Aku sudah tidak sanggup berkata-kata lagi di depan istriku. Terserah sudah! Teriakku dalam hati. Aku pasrah. Aku sudah terlalu capek di kantor. Di rumah ada lagi yang mengganggu. Betapa malangnya.

Istriku kembali masuk ke ruang dalam. Sejurus kemudian dia sudah kembali duduk di dekatku. Diletakkannya selembar amplop di atas proposal bapak itu.

“Maaf ya, Pak, ini hanya ada sedikit dari kami. Maklum tanggal tua.”

“Alhamdulillah, tidak apa-apa, Bu. Semoga amal baiknya dilipatgandakan oleh Allah.”

“Amin.”

Seperti biasanya kau sungguh baik hati istriku. Dan lagi-lagi, peminta sumbangan itu mendapatkan rejekinya hari ini. Sambil tersenyum kecut aku bergumam, lagi-lagi hanya dalam hati.

* *


Beberapa bulan berlalu semenjak kejadian itu. Amri, anak lelaki pertamaku, berniat untuk mengakhiri masa lajangnya. Dia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja mapan dia sebuah kantor pemerintahan. Umurnya memang sudah 27 tahun. Usia yang cukup matang untuk menikah.

Sebagai orang tua aku tak mau menekannya dalam hal menentukan pasangan hidup. Hanya saja kuberi dia pengarahan. Kalau bisa cari wanita yang baik-baik, dari keluarga baik-baik. Tiap orang tua pasti berharap menantunya seperti itu. Biarlah dipilihnya sendiri.

Katanya sekarang anakku sedang dekat dengan seorang gadis. Cantik dan berjilbab, katanya. Aku dan istriku hanya bisa bersyukur. Kami sudah tidak sabar untuk berkenalan dengan gadis itu dan keluarganya. Rencana hari Minggu besok kami akan bertandang ke rumahnya. Saling berkenalan antar keluarga, sekalian Amri akan meminangnya.

“Pokoknya dia sosok ideal saya, Pak, Bu. Muslimah yang cantik, pintar, keibuan, dan insyaallah sesuai harapan Bapak dan Ibu.”

“Alhamdulillah,” kata istriku. “Keluarganya bagaimana?”

“Ayahnya, namanya Haji Bakar, seorang kepala Madrasah Aliyah yang beliau dirikan sendiri beberapa waktu lalu. Ibunya, Hajjah Fatimah, seorang guru agama Islam di sebuah SMP Islam.”

Dengan bersemangat Amri menceritakan keluarga si gadis pujaannya. Kami manggut-manggut senang. Semoga kenyataannya memang sesuai dengan harapan kami.

Hari Minggu tiba. Kami sekeluarga mencarter mobil menuju kediaman calon besan. Satu setengah jam perjalanan ditempuh, akhirnya sampailah kami pada tujuan. Sebuah rumah joglo yang indah, semua dindingnya terbuat dari kayu jati. Suasananya asri, dikelilingi rindangnya pepohonan buah-buahan dan taman bunga. Terasa sejuk saat masuk di dalamnya.

Saat tuan rumah keluar menyambut kami, aku dan istriku terperanjat bukan main. Mukaku terasa panas dan mungkin sudah merah padam. Tubuhku gemetar, ada rasa malu yang sangat. Kami sungguh merasa sangat mengenali orang di depan kami ini.

Ya, orang tua yang mempersilakan kami duduk dengan ramah ini adalah… dia yang setahun lalu meminta sumbangan ke rumah kami! Orang tua berwajah teduh dan berwibawa itu…

Aku tak tahu apa yang sekarang akan terjadi jika waktu itu tidak ada istriku yang menyelamatkanku.

Orang tua berwajah teduh dan berwibawa itu menyalami dan kemudian merangkulku. Aku sungguh malu.

Pernah diterbitkan di: http://www.storial.co/book/segenggam-sumbangan
                     
                     
Segenggam Sumbangan ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim Segenggam Sumbangan ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim Reviewed by Ahmad Salim on Januari 26, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

~ Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan jejak dengan berkomentar di sini. Jangan ada spam, SARA, pornografi, dan ungkapan kebencian. Semoga bermanfaat. ~