Observasi Pribadi: Blog tentang gaya hidup

2017-08-07

5 Cara Selektif Memilah dan Memilih Informasi Lowongan kerja

Di era sekarang ini, informasi tentang lowongan pekerjaan banyak bertebaran di berbagai media massa, entah itu cetak maupun elektronik. Hampir setiap hari ada saja informasi pekerjaan yang ditawarkan oleh instansi, perusahaan, maupun perorangan. 
Sebagai penerima informasi yang cerdas, kita dituntut selektif menanggapi seliweran informasi yang setiap waktu hadir menghampiri kita. 
Berikut adalah 5 Cara Selektif Memilah dan Memilih Informasi Lowongan kerja yang perlu diperhatikan ketika mendapatkan informasi tawaran pekerjaan.

1. Cermati Informasi Penawaran Kerja
Informasi berbentuk iklan penawaran pekerja harus benar-benar dicermati secara mendalam agar kita tidak tertipu dan dirugikan. Sebagai contoh kecil, ada orang yang merasa tertipu oleh iklan setelah melamar di sebuah perusahaan. Dalam iklan tersebut dikatakan posisi yang ditawarkan oleh perusahaan adalah manajer marketing/pemasaran. Ketika pelamar dinyatakan diterima dan mulai bekerja di perusahaan tersebut, kenyataan sungguh jauh dari yang diangankan. Bukan posisi manajer marketing yang ditempati melainkan hanya salesman biasa. Jangan sampai cerita-cerita seperti itu terus bermunculan gara-gara kita tidak selektif dalam menerima informasi tawaran pekerjaan seperti itu. Sekali lagi kita harus selektif menerima informasi lowongan kerja sungguhan maupun lowongan kerja abal-abal.

Sumber gambar: http://lowongan.bagibagiinfo.net

2. Memilih Iklan Lowongan Pekerjaan Berdasarkan Keahlian
Persoalan lain yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana memilah informasi/iklan lowongan pekerjaan berdasarkan keahlian yang kita miliki. Kita tidak perlu memaksakan diri ikut melamar sebuah pekerjaan jika kita memang bukan ahli di bidang pekerjaan tersebut. Andaikata nanti bisa lolos seleksi dan masuk kerja, etos kerja kita akan tampak jauh lebih rendah dibanding rekan kerja yang lain. Hal tersebut tentu mengurangi posisi tawar kita di hadapan pimpinan atau bos. Tidak ada sesuatu yang istimewa bisa kita persembahkan untuk instansi atau perusahaan karena kita hanya melakoni rutinitas tanpa inisiatif.

3. Pertimbangkan Penghasilan
Gaji atau honor pun patut menjadi perhatian. Kita harus menyadari bahwa kita perlu income yang sepadan dengan pekerjaan kita. Semenarik apapun pekerjaan yang ditawarkan, apabila honornya tidak sesuai yang diharapkan tentu lebih baik tidak diambil. Lain halnya apabila pekerjaan itu adalah usaha mandiri kita yang baru berdiri, memang akan banyak rintangan dan hambatan di awal. Laba belum bisa kita peroleh secara maksimal. Namun, lambat laun jika usaha kita berkembang tentu kita akan menuai hasil seperti yang kita harapkan.

4. Pertimbangkan Jarak ke Lokasi Kerja
Jarak/lokasi tempat kerja juga perlu dipertimbangkan ketika menerima tawaran pekerjaan. Jarak tempat kerja yang terlalu jauh dari rumah kita akan memberikan banyak problem bagi kita. Selain menghambat poduktivitas kerja kita, jarak yang terlalu jauh akan membuat jumlah anggaran pengeluaran untuk transportasi juga semakin melambung. Hal tersebut dari sisi ekonomis tentu kurang menguntungkan. Fisik juga akan semakin terkuras karena perjalanan yang terlalu jauh. Akan tetapi problem ini bisa disiasati dengan cara indekos atau mengontrak di lokasi yang tak jauh dari tempat kerja. Meskipun apabila dilihat lagi dari sisi ekonomis akan membuat pos pengeluaran lagi untuk biaya tinggal indekos atau kontrak. Hanya saja, bila tidak ada pilihan lain selain bekerja di tempat yang jauh dari rumah maka problem-problem itu bisa sedikit ‘dikesampingkan’, tentu saja dengan catatan income yang kita dapatkan sepadan dengan pengorbanan kita.

5. Perhatikan Faktor Kelayakan/Kepantasan
Faktor kelayakan/kepantasan juga menjadi salah satu bahan pertimbangan. Ketika mendapatkan informasi lowongan pekerjaan, kita perlu menganalisis layak atau tidaknya pekerjaan itu kita lakukan. Memang hal ini bukan prinsip karena bisa jadi faktor kelayakan tidak berlaku ketika seseorang sudah kepepet tidak memiliki pekerjaan. Apa saja bisa dikerjakan asalkan menghasilkan keuntungan. Akan tetapi, bagi sebagian orang, faktor ini adalah faktor penting. Harga diri menjadi alasan utama untuk mempertimbangkan faktor ini. Di sisi lain, kita mesti salut pada orang-orang yang mau melakukan kerja apa saja untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Tentu kita pernah menemukan berita di media massa yang menyebutkan seorang guru yang nyambi menjadi pemulung, tukang parkir, bahkan penjual sosis.

Jadi pilihan ada di tangan Anda. Anda punya cara lain? Yuk, dibagikan di komentar...

7 komentar:

  1. Setuju banget jangan sampai karena butuh gak hati2 malah kena penipuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Mesti hati-hati.

      Hapus
  2. jangan lupa cek ricek kelayakan pemasang iklannya hehehe..jgn masuk jebakan betmen hehe

    BalasHapus
  3. iya. Teliti lagi dah ntar malah salah2 iklannya apa kerjanya di suruh apa

    BalasHapus
  4. Setuju banget ini jangan sampai kita ditipu org ga bertanggung jawab yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak. Harus hati-hati dan waspada.

      Hapus

~ Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar di sini. Komentar Anda sangat berharga bagi saya. Jangan ada spam, SARA, pornografi, dan ungkapan kebencian. Semoga bermanfaat. ~