Tampilkan postingan dengan label Badan Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Badan Bahasa. Tampilkan semua postingan

2023-12-06

Mengatasi Tantangan dan Hambatan dalam Belajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (Overcoming Challenges and Obstacles in Learning Indonesian for Foreign Speakers)

12/06/2023 09:28:00 AM 0


Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan resmi Republik Indonesia. Bahasa pertama bagi sekitar 260 juta orang di Indonesia itu juga digunakan sebagai bahasa kedua oleh masyarakat internasional yang tinggal di Indonesia.


Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu-Polynesian dan memiliki kaitan dengan bahasa-bahasa lain seperti Jawa, Sunda, dan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia. Bahasa ini juga memiliki pengaruh dari bahasa Arab, Portugis, dan Belanda akibat pengaruh sejarah kolonial.


Untuk penutur asing, belajar bahasa Indonesia dapat memberikan keuntungan dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal dan memahami budaya Indonesia. Ada beberapa hal penting untuk diperhatikan saat belajar bahasa Indonesia, seperti:


Pronounsiasi: Pronounsiasi bahasa Indonesia sangat jelas dan mudah dipelajari.


Struktur kalimat: Struktur kalimat bahasa Indonesia sederhana dan mudah dipahami.


Kemudahan belajar: Bahasa Indonesia mudah dipelajari karena memiliki tata bahasa yang sederhana dan kosa kata yang berasal dari bahasa Melayu.


Masyarakat yang ramah: Masyarakat Indonesia umumnya sangat ramah dan sangat welcome terhadap orang asing yang belajar bahasa Indonesia.


Untuk belajar bahasa Indonesia, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti: mengikuti kelas bahasa, mempelajari secara mandiri melalui buku atau sumber online/daring, atau berinteraksi langsung dengan orang-orang yang berbicara bahasa Indonesia.


Dengan belajar bahasa Indonesia, penutur asing dapat memperluas jaringan dan memahami budaya Indonesia lebih dalam. Bahasa ini juga akan membantu dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal dan meningkatkan pengalaman di Indonesia.


Bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi negara Indonesia, menawarkan pengalaman belajar yang unik bagi penutur asing. Meskipun indah dan kaya akan budaya, belajar bahasa ini dapat menimbulkan tantangan dan hambatan tertentu. Berikut adalah panduan singkat tentang cara mengatasi rintangan tersebut:


Tantangan:

Struktur Bahasa yang Berbeda:

Penutur asing mungkin menghadapi kesulitan dengan struktur tata bahasa yang berbeda, seperti urutan kata yang berlawanan dengan bahasa asal mereka.


Pelafalan dan Fonologi:

Fonologi bahasa Indonesia bisa menjadi tantangan, terutama bagi yang tidak terbiasa dengan bunyi-bunyi tertentu.


Vokabuler (kosakata) yang Unik:

Bahasa Indonesia memiliki kosakata dan ekspresi yang mungkin tidak ada di bahasa penutur asing.


Hambatan:

Kurangnya Sumber Belajar Terstruktur:

Beberapa penutur asing mungkin kesulitan menemukan sumber belajar terstruktur yang memadai untuk belajar bahasa Indonesia.


Kurangnya Lingkungan Bahasa:

Jika tidak berada di lingkungan di mana bahasa Indonesia digunakan secara luas, sulit untuk berlatih dalam situasi sehari-hari.


Keterbatasan Rujukan Online:

Rujukan online untuk belajar bahasa Indonesia mungkin terbatas, dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain yang lebih populer secara global.


Cara Mengatasi:

Ikuti Kursus Bahasa:

Bergabung dengan kursus bahasa Indonesia dapat memberikan struktur pembelajaran dan bimbingan langsung.


Praktik Berbicara dengan Penutur Asli:

Terlibat dalam percakapan dengan penutur asli dapat membantu meningkatkan keterampilan berbicara dan pemahaman konteks penggunaan kata.


Gunakan Aplikasi Pembelajaran Bahasa:

Manfaatkan aplikasi pembelajaran bahasa Indonesia yang menyediakan latihan, tes, dan sumber daya belajar. Salah satu sumber rujukan yang bisa diakses adalah salah satu menu di laman Badan Bahasa yaitu https://bipa.kemdikbud.go.id/portal .


Baca dan Dengar Materi Berbahasa Indonesia:

Membaca buku, mendengarkan lagu, atau menonton film dalam bahasa Indonesia dapat membantu penutur asing merasakan ritme dan nuansa bahasa.


Terlibat dalam Komunitas Bahasa:

Bergabung dengan komunitas pembelajar bahasa Indonesia secara online atau offline untuk mendapatkan dukungan dan berbagi pengalaman.


Perluas Jaringan Sosial:

Membuat teman dari Indonesia atau orang asing yang juga belajar bahasa Indonesia dapat meningkatkan peluang untuk berbicara dan berlatih.


Berlatih Setiap Hari:

Konsistensi adalah kunci. Berlatih setiap hari, bahkan dalam durasi singkat, dapat menghasilkan kemajuan yang signifikan.


Dengan kesabaran dan komitmen, penutur asing dapat mengatasi tantangan dan hambatan dalam belajar bahasa Indonesia, membuka pintu ke kekayaan budaya dan pengalaman baru.













2018-10-18

Mengutamakan Bahasa Indonesia, Mengedepankan Jati Diri Bangsa

10/18/2018 04:17:00 PM 0
Indonesia adalah negara yang mempunyai kekayaan bahasa daerah yang sangat beragam. Setiap daerah mempunyai bahasa daerah yang menunjukkan jati diri masing-masing. Setiap bahasa daerah unik dan berciri khas tertentu. Dari beragam bahasa daerah tersebut, bahasa Indonesia dipilih untuk menjadi bahasa pemersatu bangsa. Penggunaan nama bahasa persatuan “bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. 


Kondisi di masyarakat saat ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik belum sepenuhnya diutamakan. Dapat kita saksikan secara gamblang di baliho-baliho, kain rentang/spanduk, papan-papan nama, reklame-reklame, rambu-rambu, papan petunjuk, dan media di ruang publik lainnya bahwa bahasa Indonesia masih “kalah pamor” dibandingkan bahasa asing. Apa indikatornya? Bahasa asing ditulis lebih dulu dibandingkan bahasa Indonesia. Padahal, seharusnya bahasa Indonesia lebih diutamakan penggunaannya sebagai bentuk mengedepankan jati diri dan martabat bangsa. Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa kita.   
Pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia sudah mempunyai dasar hukum yang jelas, yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Secara konstitusional, sudah sangat jelas bahwa kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara yang harus difungsikan sebagaimana mestinya dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Pengutamaan bahasa Indonesia dalam berbagai konteks resmi merupakan upaya nyata untuk menjaga kedaulatan bahasa Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan sudah sangat jelas bagaimana aturan penggunaan bahasa Indonesia tersebut.
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai sebuah lembaga kebahasaan mempunyai tugas melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia. Melalui Unit Pelaksana Teknis Balai/Kantor Bahasa yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus menggaungkan semboyan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”.

Baca juga: Menulis dan Menerbitkan Secara Online

Tujuan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik yaitu (1) memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, (2) menanamkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia, (3) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa, (4) meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik, (5) mendokumentasikan pemakaian bahasa ruang publik di wilayah kabupaten/kota, (6) mengevaluasi pemakaian bahasa di ruang publik, dan membina  pemakaian bahasa yang baik dan benar, dan (7) mewujudkan bahasa di ruang publik yang memartabatkan bahasa Indonesia.
Bahasa asing bukan dilarang untuk digunakan, melainkan harus diatur agar sesuai dengan semangat pengutamaan bahasa Indonesia. Misal dalam penulisan papan petunjuk, maka bahasa Indonesia dituliskan di bagian paling atas, kemudian baru bahasa asingnya. Namun, kenyataan di lapangan sering menunjukkan sebaliknya. Bahasa asing masih mendominasi tulisan-tulisan di ruang publik kita.
Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut. Di antara faktor-faktor tersebut, pertama perlu digarisbawahi tentang ketidaktahuan masyarakat akan aturan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik. Di sinilah terdapat tantangan besar untuk lebih membumikan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-Undang sudah disusun secara sistematis, tinggal bagaimana sosialisasi dan aplikasi di lapangan.
Faktor kedua ialah sikap masyarakat yang turut memengaruhi dominasi penggunaan bahasa asing. Tidak dapat dimungkiri di sebagian masyarakat kita ada perasaan “istimewa” ketika menggunakan istilah-istilah asing di ruang publik. Sosialisasi secara persuasif dan masif diperlukan agar tumbuh sikap positif masyarakat terhadap pengutamaan penggunaan bahasa indonesia. Di samping itu, diperlukan juga komitmen masyarakat untuk tetap setia dan bangga mengutamakan penggunaan bahasa negara, bahasa Indonesia, di ruang publik.
Tantangan pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini semakin berat karena terdapat faktor ketiga yakni gempuran arus informasi dari media sosial. Pengguna media sosial terus bertumbuh dengan pesat. Dampak negatifnya adalah bahasa Indonesia sering digunakan untuk mengungkapkan ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoaks). 
Seiring semakin beratnya tantangan pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dengan baik dan benar, lembaga kebahasaan memiliki peran strategis untuk mengantisipasi hal itu. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa harus bersinergi dengan berbagai pihak untuk menjawab tantangan tersebut. Instansi-instansi pemerintahan, insan media massa, dan para pelaku usaha juga penting dilibatkan karena merekalah yang kerap menggunakan media di ruang publik sebagai ajang promosi dan publikasi.
          Memang tidak mudah mengubah paradigma dan kultur masyarakat terkait penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Diperlukan waktu dan usaha yang terus-menerus agar program-program pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik yang dicanangkan Badan Bahasa bisa terlaksana dengan baik dan sukses. Masyarakat harus diberi pemahaman secara komprehensif bahwa memartabatkan bahasa Indonesia berarti menunjukkan jati diri bangsa yang sebenarnya.

2017-10-11

Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional Tahap II: Sebuah Refleksi

10/11/2017 11:15:00 AM 5
Sesekali suara notifikasi whatsapp terdengar memecah kebisuan rutinitas. Grup penulis GLN 2017 itu masih terus ramai dan aktif. Para penulis GLN memang dikumpulkan kembali untuk menyelaraskan bahan bacaan yang sudah ditulis dan direvisi pada pertemuan Penulis GLN Tahap I. Pertemuan ke-II juga sekaligus menjadi ajang penyerahan hadiah bagi peserta yang lolos seleksi.


Dok. pribadi
Akhirnya, hadiah itu diterima juga, hehehe. Alhamdulillah. Sayembara kali ini memang cukup unik. Meskipun sudah dinyatakan lolos seleksi, penulis tetap berkewajiban merevisi naskahnya sendiri, seperti pernah saya tuliskan di artikel sebelumnya tentang Pertemuan penulis Gerakan Literasi Tahap I

Bagi para penulis, ini merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, kami diharuskan merevisi menggunakan software indesign. Masalah pun bermunculan, mulai laptop atau notebook yang tidak mendukung, sampai kekurangmahiran untuk mengoperasikannya. Maklum, software indesign cukup besar kapasitasnya, perlu laptop dengan memori lumayan.

Mau tidak mau, meskipun ada prinsip tugas penulis ya menulis, soal tata letak, grafika, dan lain-lain itu lain soal. Bekerja sama dengan pengatak (layouter) profesional pun jadi pilihan, meskipun terpaksa ngutang dulu untuk honor mereka, deu...

Kover buku cerita Markas Rumah Pohon sebelum dan sesudah revisi
Meskipun demikian, kepuasan hakiki adalah ketika naskah buku kami lolos seleksi dan akan dijadikan bahan bacaan bagi siswa dan masyarakat. Buku tersebut menurut rencana akan disebarkan ke seluruh Indonesia. 

Acara pertemuan penulis tahap ke-2 dalam rangka penyelarasan bahan bacaan literasi dengan slogan "Penulis Bahan Bacaan, Pencerah Masa Depan"tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Acara diselenggarakan di Hotel Santika TMII mulai tanggal 5—7 Oktober 2017. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyempurnakan buku berdasarkan rekomendasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), serta memperkuat pemahaman penulis mengenai bacaan yang baik dan layak digunakan serta dapat menumbuhkan budi pekerti.



Sumber foto: badanbahasa.kemdikbud.go.id
Pertemuan ini dihadiri oleh 110 penulis dan berbagai daerah di Indonesia. Acara pembukaan kegiatan dimeriahkan oleh Paduan Suara Labschool Jakarta dan penampilan dongeng anak, serta pemberian piagam penghargaan kepada pemenang sayembara secara simbolis untuk enam penulis, antara lain Zulfitra (Sumatra Barat, Jembatan Ratapan Ibu dan Kawa Daun), Rismawati (Aceh, Lanskap Negeri Saman), Tria Ayu K. (Yogyakarta, Batik Tambal untuk Kakek), Paskalina (Jakarta, Jajanan Tradisional Asli Indonesia), I Gusti Made Dwiguna (Bali, Nyoman Nuarta: Pematung Internasional yang Pantang Menyerah), Dzikri el Han (Papua, Cerita dari Lembah Baliem)

Penyediaan bahan bacaan literasi yang dilakukan oleh Badan Bahasa melalui Pusat Pembinaan pada tahun 2017, dilakukan melalui Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi 2017, dan telah menghasilkan bahan bacaan yang bertema lanskap dan perubahan sosial masyarakat perdesaan dan perkotaan, kekayaan bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kuliner Indonesia, dan arsitektur tradisional Indonesia. Bahan bacaan tersebut telah melalui berbagai proses penilaian dan perbaikan. Saat ini, bahan bacaan tersebut sudah masuk pada tahap akhir penyelarasan buku berdasarkan hasil penilaian dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Kemendikbud. Semua proses tersebut dilakukan untuk menghasilkan bahan bacaan yang layak bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. (badanbahasa.kemdikbud.go.id)

“Jika tahun lalu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah menerbitkan 165 buku bacaan cerita rakyat, tahun ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah menyerahkan 226 buku bahan bacaan kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan untuk dinilai, dan selanjutnya akan diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa jika lolos,” jelas Prof. Dr. Muhadjir Efendi, M.AP.


Ditambahkan bahwa dari 727 naskah yang masuk, telah terpilih 120 naskah bacaan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Aspek yang ditinjau dan diperbaiki adalah kesesuaiannya dengan tingkat pendidikan, materi yang mendukung budi pekerti, penggunan bahasa Indonesia, dan aspek grafika. (badanbahasa.kemdikbud.go.id)

Menjadi bagian dari mereka, para penulis hebat itu, adalah sebuah anugerah tersendiri. Selain bangga dengan karya yang diapresiasi, pertemuan penulis tersebut juga sebagai wadah menimba ilmu dari para penulis lain. Terbentuklah forum-forum diskusi kecil yang membahas sastra, perbukuan, penerbitan, dan tetek bengeknya.





Para panitia kegiatan yang luar biasa
Acara sudah usai, buku sudah direvisi, hadiah pun sudah diterima. Namun silaturahim dan persahabatan harus tetap terjalin. Grup whatsapp Penulis GLN 2017 yang semula dibuat untuk memudahkan koordinasi antara panitia dengan peserta, diharapkan tetap ada untuk ajang silaturahmi dan diskusi antarpenulis GLN 2017. Satu harapan lagi, semoga kami bisa bersemuka lagi di ajang sayembara GLN tahun 2018. Amiiin.


2017-06-14

Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi 2017

6/14/2017 11:00:00 AM 4
Pertemuan penulis bahan bacaan literasi nasional tahap 1 usai diselenggarakan pada Selasa-Kamis, 6-8 Juni 2017. Pertemuan Para penulis se-Indonesia ini merupakan tindak lanjut hasil Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi untuk Anak SD yang diadakan oleh Badan Bahasa Kemendikbud. Sebanyak 110 penulis yang karyanya terpilih, diundang pada pertemuan tersebut.

Para peserta, pejabat Badan Bahasa, dan panitia
berfoto bersama seusai acara pembukaan.
Saya begitu bahagia mendapati kenyataan bahwa saya adalah salah satu di antara mereka. Jujur saja saya merasa minder karena banyak penulis senior yang berada di pertemuan tersebut. Ajang tersebut tidak saya sia-siakan untuk menimba ilmu dari para penulis lain, Selain, tentu saja, sebagai ajang berswafoto dengan penulis lain, he he he. 

Pertemuan hari pertama diisi dengan pembukaan dan pengarahan dari panitia. Pada acara tersebut, kepala Bidang Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bpk Gufran Ali Ibrahim dan Kepala Badan Bahasa, Prof. Dadang Sunendar, turut memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. 

Pertemuan hari kedua diisi dengan kegiatan perbaikan naskah hasil seleksi. Para penulis dibagi menjadi tiga kelas. Setiap kelas diampu oleh seorang penulis senior. Saya berada di kelas A dan kebetulan diampu oleh Bapak Ahmadun Yosi Herfanda. 



Kelas perbaikan naskah yang dipandu oleh Bapak Ahmadun Yossi Herfanda
Pada saat kelas perbaikan naskah, metode yang digunakan di kelas A adalah metode presentasi. Jadi, setiap peserta menampilkan buku yang sudah direvisinya untuk dilihat oleh pengampu. Di sinilah kami bisa saling melihat karya setiap peserta yang sangat bagus. Baik dari sisi cerita, ilustrasi, maupun layout-nya. Saya bisa banyak menimba ilmu dari sini.

Salah satu hal yang agak dikeluhkan oleh kebanyakan peserta adalah format file akhir yang dikumpulkan harus berformat indesign. keluhan itu lebih disebabkan karena sejak awal penulis sudah menata letak bukunya menggunakan program Ms. Office Word. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena banyak peserta, termasuk saya, yang belum pernah berkenalan sama sekali dengan program indesign. Saat ingin mencoba, laptop ternyata tidak support karena ukurannya yang cukup besar dan membutuhkan spesifikasi laptop yang berkapasitas lumayan. Akhirnya, menggunakan jasa pengatak (layouter) menjadi solusi terbaik.

Tampilan sampul buku saya yang terpilih.
Buku yang sudah terseleksi oleh Badan Bahasa akan diseleksi kembali oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Insyaallah bulan September akan keluar hasil seleksi tersebut. Jadi, para penulis akan dihubungi kembali kalau nanti ada hal yang perlu direvisi ulang. 

Hari ketiga diisi dengan penutupan dan penyelesaian administrasi. Saat acara penutupan, Bang Iyut Fitra dan Marhalim Zaini, penyair dari Riau, membacakan puisi mereka. Acara pun akhirnya ditutup secara resmi oleh Bapak Fairul Zabadi, Kepala Bidang Pembelajaran, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Usai sudah seluruh rangkaian acara, saatnya kami pulang ke daerah masing-masing untuk beraktifitas sesuai dengan profesi masing-masing.

Acara penutupan.
Menjadi pemenang lomba menulis sampai ke level nasional ialah pengalaman pertama bagi saya. Ini menjadi sebuah pengalaman sangat berharga. Saya masih harus banyak belajar dan belajar. Satu hal yang ingin terus saya tekuni ialah tentang menulis cerita anak. Dunia anak itu menarik, sangat menarik. Menulis cerita mempunyai tantangan tersendiri, dikatakan mudah, tidak, dibilang sulit, iya, he he he.






Foto-foto bersama teman-teman penulis.
Maaf, foto ini cuma tambahan, he he he...
(Menulis bisa membawamu naik pesawat, guys..)
Baiklah, sekian dulu cerita saya, ya. Sampai bertemu lagi di tulisan berikutnya.