Tampilkan postingan dengan label Bengkulu Ekspress. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bengkulu Ekspress. Tampilkan semua postingan

2017-05-30

MENYOAL GELIAT LITERASI DI INDONESIA

5/30/2017 02:57:00 PM 4
Sumber gambar: dakwatuna.com

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.
Menurut UNESCO, pengertian literasi adalah sebagai berikut. “Literacy as the “ability to identify, understand, interpret, create, communicate and compute, using printed and written materials associated with varying contexts. Literacy involves a continuum of learning in enabling individuals to achieve their goals, to develop their knowledge and potential, and to participate fully in their community and wider society”(The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)).

Di Indonesia sendiri, fakta memprihatinkan terungkap dari pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016. Dari penelitian tersebut terungkap fakta kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara (www.jpnn.com, 13 April 2016).

Menilik dari fakta tersebut, sudah semestinya program literasi terus diupayakan secara maksimal. Pemerintah sudah mulai memberikan perhatian serius pada program-program literasi. Upaya untuk meningkatkan minat baca dan menjaga agar kegiatan literasi terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat pun terus dilakukan. 

Permendikud nomor 23 tahun 2015 yang mengharuskan para siswa membaca 15 menit sebelum memulai KBM adalah langkah revolusioner pemerintah untuk memulai kebiasaan membaca di kalangan siswa, sekaligus Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini adalah gerakan wajib baca buku sukarela di sekolah setiap hari selama minimal 15 menit. Gerakan ini dikenal dengan nama sustained silent reading. Meskipun wajib kegiatan ini termasuk bersifat rekreatif dan free voluntary reading. Berdasarkan 51 dari 54 penelitian pada program SSR ini siswa meningkat prestasinya dan semakin lama program ini dilaksanakan semakin besar pula keberhasilannya. (Krashen, S. 2007). Gerakan ini diharapkan mampu memacu dan memicu kebiasaan membaca di kalangan pelajar. 

Di tahun 2017 ini, Direktorat Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Dit. Bindiktara), Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyelenggarakan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Kampung Literasi (KL) di beberapa Kabupaten/Kota di tanah air. 

GIM yang dicanangkan pertama kali di tahun 2015 ini merupakan kegiatan membangun budaya baca masyarakat yang diselenggarakan secara lintas sektoral dengan melibatkan lembaga swasta, organisasi sosial, kemasyarakatan, keagamaan, kepemudaan, profesi, satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan nonformal, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan forum-forum yang menjadi mitra dinas pendidikan. GIM bertujuan agar masyarakat dapat memperoleh informasi dan mengakses bahan bacaan yang dibutuhkannya dan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup serta bisa menjadikannya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Menurut informasi, GIM 2017 akan diselenggarakan di 19 Kabupaten/Kota dan KL 2017 akan diselenggarakan di 34 lembaga. (http://donasibuku.kemdikbud.go.id)

Berbagai gerakan literasi juga sedang dikembangkan oleh para pegiat literasi. Berbagai upaya pun dilakukan untuk memupus kesenjangan bahan bacaan di kota besar dengan di daerah. Pemerintah pun menanggapi positif. Salah satunya dengan solusi menggratiskan biaya ongkir untuk pengiriman donasi buku melalu kantor pos. Dengan menggratiskan biaya ongkir buku, diharapkan donatur semakin bersemangat untuk mendistribusikan buku kepada TBM dan perpustakaan yang dituju. Bagaimanapun, upaya meningkatkan minat baca masyarakat perlu ditunjang dengan ketersediaan bahan bacaan yang memadai.

Dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk menyukseskan gerakan literasi ini. Salah satu yang utama adalah peran keluarga. Sebagai unit masyarakat terkecil, keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Oleh karena itu, berkaitan dengan gerakan literasi, tentunya peran keluarga harus diperkuat. 

Mewujudkan gerakan literasi dimulai dari rumah bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Perlu ditumbuhkan pondasi awal berupa kesadaran dan rasa butuh terhadap pentingnya membaca. Jika hal tersebut belum terbangun, maka akan sulit budaya literasi terwujud.

*Artikel ini dimuat di Harian Bengkulu Ekspress edisi Selasa, 30 Mei 2017.

2017-03-02

TIKUS ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim (Sebuah Cerpen)

3/02/2017 10:01:00 AM 1
TIKUS ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim (Sebuah Cerpen)


T i k u s
Oleh: Ahmad Khoirus Salim

Pada mulanya Pak Lurahlah yang tiba-tiba ingin sekali memelihara tikus. Bukan tikus biasa, yang jorok dan menjijikkan, tetapi ini adalah tikus impor yang katanya lebih bersih dan tidak berpenyakit, maklumlah tikus luar negeri.
Aku sempat mengernyitkan dahi, aneh sekali keinginan pemimpinku itu. Ngapain, sih, susah-susah memelihara hama itu? Mending melihara burung, ayam bangkok, kek, eh, ini malah… tikus. Walaupun katanya impor, toh tetap saja sama bernama tikus, mouse, rat, mice. Hama penghancur produksi beras petani, perusak tatanan, binatang menjengkelkan!
Mataku semakin membulat melotot, sementara mulutku tak bisa kucegah untuk menganga. Betapa tidak, hanya berselang dua hari setelah Pak Lurah, para bawahannya ikut-ikutan keranjingan memelihara tikus. Entah hobi atau ewuh-pekewuh sama Pak Lurah. Agar dikatakan berselera tinggi mungkin, atau agar punya muka di hadapan Pak Lurah karena hobinya sama. Yang jelas mereka mulai beramai-ramai memborong tikus, berbagai jenis, yang penting dari luar negeri, made in import.
Hiii, aku sampai ngeri membayangkannya. Menaruh tikus di rumah? Bisa muntah aku nanti. Rumahku harus bebas hama. Istriku paling anti dengan makhluk jorok itu. Syukurlah, jadi tidak ada yang memaksaku memboyong pengerat itu ke rumah.
“Awas kalau sampai Mas ikut-ikutan membeli tikus. Tiba di rumah langsung kupukul!” istriku mengeluarkan ancamannya.
“Yang kamu pukul aku atau tikusnya?”
“Ya tikusnya dong, jijik tahu!”
“Lagipula siapa yang ingin memiara hama itu sih, Dik?”
“Tapi ngomong-ngomong mereka kok suka sekali hewan itu, ya? Heran aku.”
“Katanya sih cuma buat nyalurin hobi, membudayakan sikap-sikap pada pemimpin. Katanya pula hewan itu bisa menambah rezeki.”
“Ada-ada saja. Jadi panutan kok malah aneh-aneh tingkahnya.”
“Kalau tidak aneh kan tidak terkenal, seperti artis-artis di tivi itu. Kalau tidak kawin-cerai, selingkuh, kan malah tidak diekspos media.”
“Tetapi mereka itu jadi panutan harusnya, bukan tontonan hiburan semata.”
“Semua sudah beralih fungsi, tuntunan jadi tontonan, pun sebaliknya. Dunia jungkir-balik.”
“Apa yang bisa kita perbuat?”
“Sementara tak ada, kecuali menggerutu dan mencaci-maki dalam hati… karena kita orang lemah. Kecuali… seluruh warga desa ini bersatu.”
Istriku mendesah kecewa. Orang lemah, rakyat jelata, memang selalu tak punya daya upaya. Tak mampu melakukan perubahan. Bahkan seringkali dianggap batu sandungan dalam pembangunan. Terjaga dari mimpi pun tak sanggup. Melulu dibuai angan dan hayalan. Habis gelap tak terbit juga terang. Hutang menumpuk kadang sulit bukan main untuk membayarnya.
**
Sarapan pagi ini, nasi dingin berteman sebungkah tempe sisa tadi malam. Lotek  sayur yang baru dibuat istriku, alhamdulillah, bias menenteramkan perut yang merintih perih. Sempat kutoleh kanan-kiri, banyak yang tidak makan pagi ini.
Tiba-tiba pikiranku terantuk pada sebuah memori yang membuatku dijejali rasa iri. Kulihat kemarin dia sarapan roti-roti yang terhitung mahal untuk ukuranku, juga sayuran segar. Penuh gizi dan nutrisi. Kandangnya sendiri dari kuningan berukir sungguh indah. Berbanding 180 derajat dengan keadaanku. Namun, segera kutepis pikiran buruk ini. Tak mungkin manusia dibandingkan dengan tikus, aku dalam wujud yang jauh lebih sempurna.
Hari-hari berlalu demikian resah, hidup semakin sulit untuk disapa. Aku melihat tetangga-tetanggaku juga demikian adanya. Poyang-paying. Seret. Rezeki yang terhampar di tanah, air, dan udara sulit sekali meraihnya.
Rasa iri dan benci pada tikus-tikus milik aparat itu ternyata bukan hanya milikku semata. Semua tetanggaku, hampir seluruh warga kampung merasa serupa. Sayang tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika Pak Lurah dan para bawahannya lebih mementingkan hobi daripada mengurus warganya yang mulai tak karuan hidupnya. Tikus-tikus itu semakin gemuk. Sebaliknya para warga kampung semakin bertonjolan belulangnya. Muka pucat kurang gizi, perut lapar membusung. Para tikus tertawa dan kami tenggelam merana dalam lara dan air mata.
Suatu sore yang redup, saat kami berkerumun di sebuah warung kopi…
“Bagaimana kalau kita unjuk rasa saja?” seorang tetangga mengusulkan. Kami terhenyak sejenak namun segera mafhum, itu ungkapan kejujuran.
“Demo? Bagaimana caranya?”
“Kita tinggal kumpulkan warga, rapat, buat tulisan-tulisan dari kardus, beres sudah.”
“Siapa yang akan mengoordinir semuanya? Bukankah harus ada pemimpin dan persiapannya?” aku ikut bertanya.
“Bagaimana kalau kamu? Kamu yang lebih pandai daripada kami, sekolahmu paling tinggi.” tetanggaku menunjukku. “Bagaimana yang lain? Setuju?”
“Ya, ya, setuju.”
“Ta… tapi?”
“Sudahlah, semua sudah setuju kamu yang memimpin kami. Kamu pasti bisa!”
Aku tercekat. Di pundakku kini terbeban harapan-harapan mereka. Tak kuasa aku menolak. Wajah-wajah kuyu warga kampung yang penuh harap. Sinar-sinar mata penuh permohonan. Aku harus berjuang untuk mereka. Rasa geramku pada ikus-tikus itu semakin menjadi. Merekalah biang semua masalah di kampungku. Mereka harus dimusnahkan demi ketentraman warga.
* *
Tibalah hari yang sudah ditentukan. Hanya satu tuntutan saja, PERHATIKAN WARGA DAN BUANG TIKUS-TIKUS ITU! Tidak muluk-muluk.
Barisan diatur dengan rapi. Sebagai korlap, aku bertanggung jawab penuh pada kelancaran unjuk rasa ini. Senantiasa kupanjatkan doa agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.
Pada mulanya demo berjalan dengan tertib. Warga duduk dengan tenang sambil mendengarkan orasi. Beberapa orang membacakan tuntutan satu-persatu. Ada juga yang membacakan puisi. Sekelompok pemuda berparodi, juga pantomim, melukiskan situasi kampung yang kacau.
Melihat sikap tenang warga, aku sedikit bernapas lega. Aku optimis ini akan berjalan lancar.
Namun, ternyata perkiraanku salah. Beberapa orang yang tidak kukenal mencoba merangsek barisan keamanan. Terjadi dorong-mendorong yang sengit. Aku yakin orang-orang itu bukanlah warga kampungku.
Provokator! Desisku marah. Segera aku berteriak-teriak ke arah mereka. Kuminta agar semuanya kembali tertib. Namun, suaraku kalah oleh dengusan dan teriakan emosi mereka. Sia-sia aku mengeraskan suaraku.
Dorong-mendorong semakin tak terkendali. Warga mulai terpancing emosinya. Mereka ikut merangsek maju. Kacau balau. Aku terduduk lemas. Hancur sudah demonstrasi ini gara-gara segelintir provokator edan, kacau!
Suasana sudah semakin menegangkan. Warga yang emosi mulai melempari kantor kelurahan. Batu, balok kayu, potongan besi, beterbangan menghajar kaca-kaca jendela kantor kelurahan. Pada saat itulah muncul satu truk pasukan keamanan dari kota. Bersenjata lengkap dan sangar.
Dar…der…dor
Berkali-kali tembakan peringatan meletus di udara. Warga mulai panik dan kocar-kacir berlarian ke sana kemari. Beberapa tertangkap dan digelandang ke truk.
Aku pun mencoba untuk kabur. Terlambat, dua orang anggota keamanan berhasil menangkapku. Aku digelandang menuju truk. Kami dianggap biang keonaran, pemicu kerusuhan. Kami terdiam membisu. Hanya doa yang terus mengalir. Kami yakin atas kebenaran yang kami suarakan.
* *
Ruang pengap sempit bau pesing tak karuan dan berterali besi, tempatku dikurung sekarang. Batinku merintih. Inikah rasanya penjara itu? Kutatap sekeliling, beberapa tetanggaku bernasib serupa, sayu menatap kosong tanpa cahaya.
Terbayang wajah istriku yang cemas. Pasti dia sangat kebingungan sekarang. Kenapa tak kuikuti sarannya tempo hari? Dia tegas melarangku turut campur dalam demo itu. Maafkan aku istriku, andai kuikuti saranmu saat itu. Namun, aku juga tak ingin dicap pengecut yang tak bertanggung jawab.
Sesal tinggal sesal. Kini hanya bisa kuhitung hari dalam sepi. Vonis untukku belum dijatuhkan. Ah, sebuah perjuangan konyol, perjuangan yang sia-sia. Betapa sangat hausnya dada ini pada aroma kebebasan. Samara-samar aku melihat bayang-bayang para tikus itu di tembok kusam penjara. Menyeringai sinis dengan tubuh tambun. Muak sekali rasanya melihat mereka. Ingin segera kubunuh dan kubakar habis mereka.
Mereka menyeringai dan berkata padaku sinis, “Hanya angan kalau kau ingin memusnahkanku anak muda, selama masih ada yang menyukai dan memelihara kami.”
Tuhan…!

Keterangan: Cerpen ini dimuat di Harian Bengkulu Ekspress, edisi Rabu, 17 Maret 2017.