Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

2021-02-25

Balada Abimanyu ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim

2/25/2021 02:20:00 PM 0
Balada Abimanyu ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim
Ilustrasi wayang Abimanyu
 ==========================

Baca juga ceritaku di KBM App ya 😊


“Bagaimana Tun, tentang tawaranku tadi? Pak Harja menatap Atun sembari membenahi letak kacamata tebalnya.
Atun masih juga tertunduk. Tiada keberanian menatap balik ke wajah Pak Harja. Wajah yang selalu dikaguminya. Hening. Hingga detak detik jam dinding terdengar amat jelas. Tik… tik… tik… tak putus-putus. Kecuali berkeloneng saat nanti menunjuk pada pukul tertentu,  mengingatkan waktu yang terus melaju. Pak Harja sudah sangat gelisah menunggu seperti ini. Diliriknya arloji di pergelangan tangannya, hampir Maghrib, sudah sejam lebih rupanya dia menunggu.
“Tun, jawablah. Bapak tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” desaknya lagi.
Dengan masih menunduk, Atun akhirnya mengeluarkan jawabannya. Meski hal itu dilakukannya dengan agak tersendat dan parau.
“Maafkan saya, Pak. Saya tidak bisa menerimanya. Saya belum siap. Saya takut akan mengecewakan dia nantinya. Maafkan….”
Pak Harja tidak berkata-kata lagi. Sepertinya dia sudah menduga akan begini jadinya. Perangai Atun semenjak dia datang tadi telah menyiratkan penolakan. Sedikit jengah dia saat ini. Aduh, sendi-sendinya serasa terlolosi seluruhnya. Lemas tiada daya.
Jika begini akhirnya, apa yang akan dikatakannya nanti pada Abimanyu? Dibayangkannya bergumpal-gumpal kekecewaan akan terhampar di wajah Abimanyu. Pak Harja menarik napas berat. Dia mencoba membuyarkan lamunan tentang anak angkat lelakinya itu.
“Ya sudahlah, Tun. Sekarang kamu pulanglah dulu. Jangan merasa terbebani oleh permintaanku tadi ya… Besok kembalilah bekerja layaknya biasa. Bapak tidak marah sama sekali kepadamu.”
“Iya Pak, terima kasih.”
Cekak saja jawaban itu.
Toko kelontong itu pun kembali sepi. Toko terbesar di kampung, kepunyaan Pak Harja itu, telah ditinggal satu per satu karyawannya, kecuali dua orang penjaga. Tinggal Atun karyawan yang terakhir. Gara-gara urusan tadi ia mesti terlambat pulang. Lekas-lekas pula ia menghambur pulang seiring petang yang merangkak. Sayap kelelawar mulai menebah-nebah udara kelam.
##

Pak Harja terpaku di kursinya. Apa yang harus dikatakannya pada Abimanyu nanti? Lagi-lagi pertanyaan itu yang menyeruak. Abimanyu, anak angkat yang sangat dikasihinya. Abimanyu kecil dulu mulai diasuhnya saat kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan bus yang ditumpanginya. Keduanya masih terhitung saudara jauhnya.
Ditimang-timang, diasuh layaknya buah hati sendiri, itulah tindakannya pada Abimanyu kecil. Demikian besar rasa cinta itu. Apalagi, semenjak kematian istrinya beberapa tahun lalu, hasratnya untuk beristri lagi seakan memudar. Entahlah, seperti trauma yang terus saja menghantuinya. Jadilah Abimanyu tumpuan curahan kasih sayang satu-satunya, hingga kini Abimanyu sudah menginjak dewasa.
Selama ini, Abimanyu dikenalnya sebagai anak penurut dan baik, pun tidak banyak tingkah. Pak Harja demikian bersyukur. Pilihannya pada Abimanyu dulu tidaklah salah. Abimanyu menjadi harapan masa depannya. Dialah yang akan mewarisi seluruh miliknya kelak.
Seiring usia Abimanyu yang semakin dewasa, pernah Pak Harja menanyakan kapan dia hendak menikah. Abimanyu hanya tersenyum-senyum kala itu. Sepertinya, dia sangat sungkan untuk berterus terang pada ayah angkatnya tersebut. Namun, Pak Harja menangkap ada isyarat lain. Abimanyu memang menaksir seseorang, tapi hal itu masih tersimpan rapat di hatinya.
Perlahan-lahan, Pak Harja mulai mengorek informasi siapakah gadis yang didambakan Abimanyu. Akhirnya, dari bisik-bisik para anak buah yang menjaga toko kelontongnya, dia mengetahui siapakah gadis itu sebenarnya. Gadis itu tak lain adalah Atun. Gadis itu memang pendiam dan beraut manis. Pak Harja bertekad membantu Abimanyu mendapatkan bunga pujaannya itu.
Lalu…
Entah mengapa jadi seperti ini kenyataannya? Atun dengan halus menolak Abimanyu. Pak Harja tidak habis mengerti. Apa yang kurang dari Abimanyu? Menurutnya anaknya itu cukup tampan, gagah, serta berkepribadian menawan. Apalagi? Lagipula, secara materi Abimanyu juga tak kekurangan. Bukankah Atun tahu kalau Abimanyu pewaris miliknya nanti? Atau Atun tak tahu hal itu, karena Abimanyu hanya anak angkatnya?
Masih kurangkah semua itu di mata Atun? Ah, pikiran perempuan memang kadang sulit dipahami. Penuh lika-liku misteri. Perasaan kadang jauh lebih mendominasi daripada pertimbangan logika.
Pak Harja tak jua beranjak dari duduknya. Sebentar lagi Abimanyu pulang. Dia memang sedang ikut kursus montir di kecamatan. Pak Harja sebenarnya menghendaki Abimanyu kuliah. Namun, Abimanyu menolak. Kuliah mahal dan belum tentu bisa langsung bekerja seusai lulus nanti, alasan Abimanyu kala itu. Ah, Abimanyu… Abimanyu… kau selalu saja bijaksana dalam menentukan pilihan. Tapi, kenapa Atun sampai menolak?
Abimanyu datang dan langsung mencium tangan ayah angkatnya. Wajahnya tampak tersaput keletihan dan berkilat-kilat. Namun, senyuman tak lepas-lepas dari bibirnya. Amat pantas Pak Harja begitu menyayanginya.
“Mandilah dulu, nanti kita makan bersama-sama,” Pak Harja mengusap pundak Abimanyu.
Tirai malam sempurna mengurung. Gelap dan pekat.
“Bagaimana kursus yang kamu ikuti?”
“Lancar-lancar saja, Pak. Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa selesai.”
“Oh, bagus sekali. Mmm… Abimanyu anakku, tidakkah kamu berkeinginan segera beristri?”
“Ah Bapak, hidup saya saja masih belum mandiri. Bagaimana nanti saya bertanggung jawab pada istri saya?”
“Rezeki seseorang kan tidak disangka-sangka datangnya. Tuhan Maha Kaya. Kenapa masih kamu takutkan?”
“Sebenarnya, saya mencintai seseorang, tapi…”
“Kamu masih ragu?”
“Ya, bisa dikatakan seperti itu. Saya belum sepenuhnya yakin.”
“Atunkah gadis itu?”
Amat terkejut Abimanyu dengan ucapan terakhir ayah angkatnya itu. Sendok yang hendak menyungkah nasi pun sontak terhenti. Dengan raut kebingungan dia tak henti menatap muka Pak Harja.
“Kenapa Bapak tahu?”
“Telinga bisa mendengar, mata pun bisa melihat apa saja. Firasat juga bisa menafsirkan apa yang tersirat. Aku masih peka untuk membaca perlambang-perlambang itu anakku. Tidak ada yang salah dengan perasaanmu, hanya saja…”
“Kenapa Bapak?”
“Dewi keberuntungan rupanya masih jauh dari kita. Tadi dia berkata padaku, dia belum bisa menerimamu.”
Bergetar tubuh Abimanyu. Apa yang baru saja didengarnya terasa bagai ribuan anak panah yang menghajar dan melumat tubuhnya. Sakit. Pilu.
“Maafkan Bapak, anakku. Bapak tadi bersungguh-sungguh menawari Atun agar bersedia menjadi istrimu kelak. Aku tahu pasti engkau akan sulit mengatakannya sendiri. Dengan keyakinanku sendiri, aku lancang menanyakannya pada Atun. Dan… seperti itulah jawabannya.”
Hening, tak ada jawaban.
Malam pun terus melaju dingin. Kelelawar masih menebah-nebah udara malam dengan sayapnya.
Dua bulan berselang. Abimanyu bersiap-siap dan mengemasi barang-barangnya. Tekadnya telah bulat. Dia akan merantau ke Kalimantan. Mencari kehidupan yang mandiri. Meninggalkan ayah angkatnya, kampungnya, terutama masa lalunya, Atun.
Pak Harja, bagaimanapun sedihnya, tak mampu membendung tekad bulat Abimanyu.
“Hati-hatilah anakku. Segera kirim kabar jika sudah sampai di tujuan.”
“Jangan khawatir, Bapak. Saya tidak akan lupa selalu berkirim kabar. Tolong juga saya lekas diberi kabar pabila Atun nanti sudah menikah. Seperti janji yang telah saya ucapkan, saya tidak akan pulang sebelum Atun menikah.”
Dengan hati hancur Pak Harja melepas kepergian Abimanyu. Anak kebanggaannya kini pergi dari pelukannya. Namun, dirinya akhirnya sadar. Tetap tinggal di kampung hanya akan menyiksa batin Abimanyu. Setiap hari dia akan bersua dengan Atun. Apalagi jika menyaksikan Atun menikah nanti. Tentu hal itu akan sangat mengiris-iris hatinya.  
# #

Kini, Pak Harja kembali berhadapan dengan Atun. Ada keinginan yang kuat di benaknya, dia harus tahu apa sebetulnya alasan Atun hingga sampai menolak Abimanyu. Masuk akalkah? Atau sekadar emosi sesaat? Atau mungkin sudah ada calon lain yang tersedia untuknya?
“Atun, sekarang Abimanyu sudah pergi jauh. Tidak ada yang perlu kau jadikan alasan untuk sungkan. Jujurlah pada Bapak apa sebenarnya alasanmu menolak Abimanyu jadi suamimu? Tidak usah sungkan atau takut. Bapak berjanji tak akan memarahimu atau memecatmu. Katakanlah…”
“Benarkah Bapak tidak akan marah?”
Keragu-raguan Atun terlihat jelas di roman mukanya.
“Iya, katakanlah.”
“Sesungguhnya sayalah yang sangat tidak tahu diri, Pak. Dari dulu, saya selalu bermimpi untuk membahagiakan keluarga saya. Bapak tahu sendiri kan keadaan ekonomi keluarga saya.  Saya ingin bersuamikan seseorang yang mapan. Tidak peduli siapa pun dia. Saya rela demi kebahagiaan keluarga saya.”
“Hmmm, Berarti kamu sudah punya calon suami, kan? Lalu siapakah calon suami yang kamu harapkan itu? Tenang saja, bapak tidak akan membuka hal ini pada siapa pun. Anggaplah bapak sebagai ayahmu sendiri.”
Sejenak hening. Bisu dan kaku.
“Saya… saya mencintai Bapak... Bukan Abimanyu.”
Duh Gusti, betapa gila cerita hidup ini. Pak Harja hampir terhuyung pingsan mendengar pengakuan jujur anak buahnya itu. Jadi… jadi… selama ini?
Senyuman indah Atun, kerlingan matanya yang sering beradu dengan mata Pak Harja, sapaan malu-malunya, perhatiannya yang terkadang terlalu tinggi, jadi, semua itu untuk dirinya?! Oalah… ini benar-benar edan!
Abimanyu, apa yang hendak kukabarkan padamu? Haruskah nanti ada surat undangan dari ayah untuk anaknya sendiri?

2017-03-02

TIKUS ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim (Sebuah Cerpen)

3/02/2017 10:01:00 AM 1
TIKUS ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim (Sebuah Cerpen)


T i k u s
Oleh: Ahmad Khoirus Salim

Pada mulanya Pak Lurahlah yang tiba-tiba ingin sekali memelihara tikus. Bukan tikus biasa, yang jorok dan menjijikkan, tetapi ini adalah tikus impor yang katanya lebih bersih dan tidak berpenyakit, maklumlah tikus luar negeri.
Aku sempat mengernyitkan dahi, aneh sekali keinginan pemimpinku itu. Ngapain, sih, susah-susah memelihara hama itu? Mending melihara burung, ayam bangkok, kek, eh, ini malah… tikus. Walaupun katanya impor, toh tetap saja sama bernama tikus, mouse, rat, mice. Hama penghancur produksi beras petani, perusak tatanan, binatang menjengkelkan!
Mataku semakin membulat melotot, sementara mulutku tak bisa kucegah untuk menganga. Betapa tidak, hanya berselang dua hari setelah Pak Lurah, para bawahannya ikut-ikutan keranjingan memelihara tikus. Entah hobi atau ewuh-pekewuh sama Pak Lurah. Agar dikatakan berselera tinggi mungkin, atau agar punya muka di hadapan Pak Lurah karena hobinya sama. Yang jelas mereka mulai beramai-ramai memborong tikus, berbagai jenis, yang penting dari luar negeri, made in import.
Hiii, aku sampai ngeri membayangkannya. Menaruh tikus di rumah? Bisa muntah aku nanti. Rumahku harus bebas hama. Istriku paling anti dengan makhluk jorok itu. Syukurlah, jadi tidak ada yang memaksaku memboyong pengerat itu ke rumah.
“Awas kalau sampai Mas ikut-ikutan membeli tikus. Tiba di rumah langsung kupukul!” istriku mengeluarkan ancamannya.
“Yang kamu pukul aku atau tikusnya?”
“Ya tikusnya dong, jijik tahu!”
“Lagipula siapa yang ingin memiara hama itu sih, Dik?”
“Tapi ngomong-ngomong mereka kok suka sekali hewan itu, ya? Heran aku.”
“Katanya sih cuma buat nyalurin hobi, membudayakan sikap-sikap pada pemimpin. Katanya pula hewan itu bisa menambah rezeki.”
“Ada-ada saja. Jadi panutan kok malah aneh-aneh tingkahnya.”
“Kalau tidak aneh kan tidak terkenal, seperti artis-artis di tivi itu. Kalau tidak kawin-cerai, selingkuh, kan malah tidak diekspos media.”
“Tetapi mereka itu jadi panutan harusnya, bukan tontonan hiburan semata.”
“Semua sudah beralih fungsi, tuntunan jadi tontonan, pun sebaliknya. Dunia jungkir-balik.”
“Apa yang bisa kita perbuat?”
“Sementara tak ada, kecuali menggerutu dan mencaci-maki dalam hati… karena kita orang lemah. Kecuali… seluruh warga desa ini bersatu.”
Istriku mendesah kecewa. Orang lemah, rakyat jelata, memang selalu tak punya daya upaya. Tak mampu melakukan perubahan. Bahkan seringkali dianggap batu sandungan dalam pembangunan. Terjaga dari mimpi pun tak sanggup. Melulu dibuai angan dan hayalan. Habis gelap tak terbit juga terang. Hutang menumpuk kadang sulit bukan main untuk membayarnya.
**
Sarapan pagi ini, nasi dingin berteman sebungkah tempe sisa tadi malam. Lotek  sayur yang baru dibuat istriku, alhamdulillah, bias menenteramkan perut yang merintih perih. Sempat kutoleh kanan-kiri, banyak yang tidak makan pagi ini.
Tiba-tiba pikiranku terantuk pada sebuah memori yang membuatku dijejali rasa iri. Kulihat kemarin dia sarapan roti-roti yang terhitung mahal untuk ukuranku, juga sayuran segar. Penuh gizi dan nutrisi. Kandangnya sendiri dari kuningan berukir sungguh indah. Berbanding 180 derajat dengan keadaanku. Namun, segera kutepis pikiran buruk ini. Tak mungkin manusia dibandingkan dengan tikus, aku dalam wujud yang jauh lebih sempurna.
Hari-hari berlalu demikian resah, hidup semakin sulit untuk disapa. Aku melihat tetangga-tetanggaku juga demikian adanya. Poyang-paying. Seret. Rezeki yang terhampar di tanah, air, dan udara sulit sekali meraihnya.
Rasa iri dan benci pada tikus-tikus milik aparat itu ternyata bukan hanya milikku semata. Semua tetanggaku, hampir seluruh warga kampung merasa serupa. Sayang tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika Pak Lurah dan para bawahannya lebih mementingkan hobi daripada mengurus warganya yang mulai tak karuan hidupnya. Tikus-tikus itu semakin gemuk. Sebaliknya para warga kampung semakin bertonjolan belulangnya. Muka pucat kurang gizi, perut lapar membusung. Para tikus tertawa dan kami tenggelam merana dalam lara dan air mata.
Suatu sore yang redup, saat kami berkerumun di sebuah warung kopi…
“Bagaimana kalau kita unjuk rasa saja?” seorang tetangga mengusulkan. Kami terhenyak sejenak namun segera mafhum, itu ungkapan kejujuran.
“Demo? Bagaimana caranya?”
“Kita tinggal kumpulkan warga, rapat, buat tulisan-tulisan dari kardus, beres sudah.”
“Siapa yang akan mengoordinir semuanya? Bukankah harus ada pemimpin dan persiapannya?” aku ikut bertanya.
“Bagaimana kalau kamu? Kamu yang lebih pandai daripada kami, sekolahmu paling tinggi.” tetanggaku menunjukku. “Bagaimana yang lain? Setuju?”
“Ya, ya, setuju.”
“Ta… tapi?”
“Sudahlah, semua sudah setuju kamu yang memimpin kami. Kamu pasti bisa!”
Aku tercekat. Di pundakku kini terbeban harapan-harapan mereka. Tak kuasa aku menolak. Wajah-wajah kuyu warga kampung yang penuh harap. Sinar-sinar mata penuh permohonan. Aku harus berjuang untuk mereka. Rasa geramku pada ikus-tikus itu semakin menjadi. Merekalah biang semua masalah di kampungku. Mereka harus dimusnahkan demi ketentraman warga.
* *
Tibalah hari yang sudah ditentukan. Hanya satu tuntutan saja, PERHATIKAN WARGA DAN BUANG TIKUS-TIKUS ITU! Tidak muluk-muluk.
Barisan diatur dengan rapi. Sebagai korlap, aku bertanggung jawab penuh pada kelancaran unjuk rasa ini. Senantiasa kupanjatkan doa agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.
Pada mulanya demo berjalan dengan tertib. Warga duduk dengan tenang sambil mendengarkan orasi. Beberapa orang membacakan tuntutan satu-persatu. Ada juga yang membacakan puisi. Sekelompok pemuda berparodi, juga pantomim, melukiskan situasi kampung yang kacau.
Melihat sikap tenang warga, aku sedikit bernapas lega. Aku optimis ini akan berjalan lancar.
Namun, ternyata perkiraanku salah. Beberapa orang yang tidak kukenal mencoba merangsek barisan keamanan. Terjadi dorong-mendorong yang sengit. Aku yakin orang-orang itu bukanlah warga kampungku.
Provokator! Desisku marah. Segera aku berteriak-teriak ke arah mereka. Kuminta agar semuanya kembali tertib. Namun, suaraku kalah oleh dengusan dan teriakan emosi mereka. Sia-sia aku mengeraskan suaraku.
Dorong-mendorong semakin tak terkendali. Warga mulai terpancing emosinya. Mereka ikut merangsek maju. Kacau balau. Aku terduduk lemas. Hancur sudah demonstrasi ini gara-gara segelintir provokator edan, kacau!
Suasana sudah semakin menegangkan. Warga yang emosi mulai melempari kantor kelurahan. Batu, balok kayu, potongan besi, beterbangan menghajar kaca-kaca jendela kantor kelurahan. Pada saat itulah muncul satu truk pasukan keamanan dari kota. Bersenjata lengkap dan sangar.
Dar…der…dor
Berkali-kali tembakan peringatan meletus di udara. Warga mulai panik dan kocar-kacir berlarian ke sana kemari. Beberapa tertangkap dan digelandang ke truk.
Aku pun mencoba untuk kabur. Terlambat, dua orang anggota keamanan berhasil menangkapku. Aku digelandang menuju truk. Kami dianggap biang keonaran, pemicu kerusuhan. Kami terdiam membisu. Hanya doa yang terus mengalir. Kami yakin atas kebenaran yang kami suarakan.
* *
Ruang pengap sempit bau pesing tak karuan dan berterali besi, tempatku dikurung sekarang. Batinku merintih. Inikah rasanya penjara itu? Kutatap sekeliling, beberapa tetanggaku bernasib serupa, sayu menatap kosong tanpa cahaya.
Terbayang wajah istriku yang cemas. Pasti dia sangat kebingungan sekarang. Kenapa tak kuikuti sarannya tempo hari? Dia tegas melarangku turut campur dalam demo itu. Maafkan aku istriku, andai kuikuti saranmu saat itu. Namun, aku juga tak ingin dicap pengecut yang tak bertanggung jawab.
Sesal tinggal sesal. Kini hanya bisa kuhitung hari dalam sepi. Vonis untukku belum dijatuhkan. Ah, sebuah perjuangan konyol, perjuangan yang sia-sia. Betapa sangat hausnya dada ini pada aroma kebebasan. Samara-samar aku melihat bayang-bayang para tikus itu di tembok kusam penjara. Menyeringai sinis dengan tubuh tambun. Muak sekali rasanya melihat mereka. Ingin segera kubunuh dan kubakar habis mereka.
Mereka menyeringai dan berkata padaku sinis, “Hanya angan kalau kau ingin memusnahkanku anak muda, selama masih ada yang menyukai dan memelihara kami.”
Tuhan…!

Keterangan: Cerpen ini dimuat di Harian Bengkulu Ekspress, edisi Rabu, 17 Maret 2017.


2017-01-26

Segenggam Sumbangan ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim

1/26/2017 09:16:00 AM 0
Segenggam Sumbangan ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim

Huft …

Lagi-lagi ada peminta sumbangan datang ke rumah.

“Maaf, Pak, kami dari yayasan anu, memohon sedikit uluran tangan Bapak. Kami sedang menggalang dana untuk pembangunan gedung anu. Mohon Bapak berkenan membaca proposal yang kami bawa ini.”

Dengan ogah-ogahan kuambil dan kulihat lembaran proposal itu. Hanya kubolak-balik tanpa kubaca sedikit pun. Lalu kutaruh lagi di meja. Kuperhatikan wajah mereka. sinar-sinar penuh pengharapan memancar.

“Berapa?” tanyaku agak ketus.

“Seikhlasnya saja, Pak.”

“Hmm …”

Kuambil dompet dari saku celana. Sempat kulirik salah satu di antara mereka menyiapkan sebuah daftar. Sepertinya daftar nama para penyumbang dana. Okelah kali ini, pikirku. Tapi jangan harap lain kali. Kucabut selembar sepuluh ribuan dan kuletakkan di atas lembaran proposal mereka. seorang yang memegang daftar nama tadi bersiap-siap menulis.

“Maaf, namanya siapa, Pak?”

“Tulis saja hamba Allah,”

“Terima kasih atas segala keikhlasan Bapak. Hanya Tuhan nanti yang dapat membalasnya. Sekali lagi terima kasih banyak, kami mohon pamit sekarang, Pak.”

Ah, Klise.

Mereka menyalamiku satu persatu. Kupandangi mereka sampai di jalan. Kesal dan bosan. Masa sehari ini ada lima kali orang datang meminta sumbangan. Memangnya aku ini bos penyandang dana? Kalau memang belum ada cukup dana ya jangan dipaksakan membangun dulu, dong! Sungutku dalam hati.

“Sudahlah, Mas,” istriku yang tahu isi hatiku mencoba menenangkanku. Dipijitinya pundakku yang memang seperti habis menahan beban beberapa ton.

“Kita malahan harus bersyukur karena masih bisa menyumbang. Rezeki itu kan datangnya dari Allah. Pasti nanti ada balasan yang setimpal dari-Nya.”

“Beramal sih beramal. Tetapi masa tiap hari beruntun begitu? Tampaknya masyarakat kita lagi keranjingan membangun.”

“Bukankah itu tanda kemajuan masyarakat?”

“Bukan kemajuan, tapi pemaksaan. Mereka sedang berlomba membuat bangunan megah, entah nanti ada manfaatnya atau tidak.”

“Ah, itu kan hanya pemikiran Mas saja yang su’udzon. Bilang saja kalau malas menyumbang.” Istriku menyunggingkan senyum.

“Sudahlah, aku mau tidur dulu. Capek rasanya seharian ini.”

Istriku masih tersenyum melihatku. Istriku memang terlalu baik hati. Sebagai perempuan perasaannya terlalu peka. Selalu saja tidak tega jika ada orang datang meminta bantuan. Ah, memang perempuan.

* *

 “Ini proyek fiktif atau nyata?”

Lagi-lagi ada peminta sumbangan datang ke rumahku. Padahal saat-saat ini sedang tanggal tua. Persediaan rumah tangga sudah menipis dan perlu diirit.

“Demi Allah, Pak. Sebagai bukti, ini ada stempel dan tanda tangan dari kelurahan dan kecamatan. Proyek ini benar-benar nyata. Ini juga saya sertakan foto-foto lokasinya dan bangunan yang belum selesai.”

“Hmm… kalau dananya belum cukup kenapa masih nekat membangun?”

“Tapi, masyarakat di tempat saya benar-benar sangat membutuhkan kehadiran bangunan itu. Kami sudah mengajukan bantuan ke pemerintah juga, tapi lama menunggu keputusan cair. Alhamdulillah, sekarang bangunan itu hampir terwujud, sudah selesai sekitar 70 persen. Bangunan itu untuk sarana pendidikan di tempat kami, Pak. Dengan adanya bangunan itu, impian mengenyam pendidikan layak bagi anak-anak masyarakat kami lebih mudah tercapai.”

Kutarik napas dalam-dalam. Dari raut mukanya yang teduh dan berwibawa, hati nuraniku sangat yakin dia bukan seorang pembohong.

Tetapi entah kenapa, aku sama sekali tidak tertarik untuk memberinya sumbangan. Entah setan mana yang merasuki pikiranku. Sedekah jariyah yang kutahu pahalanya berlipat-lipat hampir kuabaikan begitu saja. Ataukah aku terlalu capek dengan rutinitas pekerjaanku, sehingga rasa kesal dan bosan kepada mereka, para pencari dana door to door, kambuh lagi. Entahlah.

Tiba-tiba istriku muncul dari dalam. Dia membawa dua gelas teh. Dipersilakannya tamu itu untuk minum. Lalu dia ikut duduk di depanku. Ck … istriku. Pasti peminta sumbangan itu akan segera mendapatkan rezekinya. Aku sudah menduga apa yang akan dilakukan istriku.

“Bagaimana, Mas? Sudah belum?” dia bertanya padaku. Aku sedikit tergeragap lalu kemudian menggeleng.

“Gimana, sih? Kasihan bapak ini menunggu.”

Aku sudah tidak sanggup berkata-kata lagi di depan istriku. Terserah sudah! Teriakku dalam hati. Aku pasrah. Aku sudah terlalu capek di kantor. Di rumah ada lagi yang mengganggu. Betapa malangnya.

Istriku kembali masuk ke ruang dalam. Sejurus kemudian dia sudah kembali duduk di dekatku. Diletakkannya selembar amplop di atas proposal bapak itu.

“Maaf ya, Pak, ini hanya ada sedikit dari kami. Maklum tanggal tua.”

“Alhamdulillah, tidak apa-apa, Bu. Semoga amal baiknya dilipatgandakan oleh Allah.”

“Amin.”

Seperti biasanya kau sungguh baik hati istriku. Dan lagi-lagi, peminta sumbangan itu mendapatkan rejekinya hari ini. Sambil tersenyum kecut aku bergumam, lagi-lagi hanya dalam hati.

* *


Beberapa bulan berlalu semenjak kejadian itu. Amri, anak lelaki pertamaku, berniat untuk mengakhiri masa lajangnya. Dia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja mapan dia sebuah kantor pemerintahan. Umurnya memang sudah 27 tahun. Usia yang cukup matang untuk menikah.

Sebagai orang tua aku tak mau menekannya dalam hal menentukan pasangan hidup. Hanya saja kuberi dia pengarahan. Kalau bisa cari wanita yang baik-baik, dari keluarga baik-baik. Tiap orang tua pasti berharap menantunya seperti itu. Biarlah dipilihnya sendiri.

Katanya sekarang anakku sedang dekat dengan seorang gadis. Cantik dan berjilbab, katanya. Aku dan istriku hanya bisa bersyukur. Kami sudah tidak sabar untuk berkenalan dengan gadis itu dan keluarganya. Rencana hari Minggu besok kami akan bertandang ke rumahnya. Saling berkenalan antar keluarga, sekalian Amri akan meminangnya.

“Pokoknya dia sosok ideal saya, Pak, Bu. Muslimah yang cantik, pintar, keibuan, dan insyaallah sesuai harapan Bapak dan Ibu.”

“Alhamdulillah,” kata istriku. “Keluarganya bagaimana?”

“Ayahnya, namanya Haji Bakar, seorang kepala Madrasah Aliyah yang beliau dirikan sendiri beberapa waktu lalu. Ibunya, Hajjah Fatimah, seorang guru agama Islam di sebuah SMP Islam.”

Dengan bersemangat Amri menceritakan keluarga si gadis pujaannya. Kami manggut-manggut senang. Semoga kenyataannya memang sesuai dengan harapan kami.

Hari Minggu tiba. Kami sekeluarga mencarter mobil menuju kediaman calon besan. Satu setengah jam perjalanan ditempuh, akhirnya sampailah kami pada tujuan. Sebuah rumah joglo yang indah, semua dindingnya terbuat dari kayu jati. Suasananya asri, dikelilingi rindangnya pepohonan buah-buahan dan taman bunga. Terasa sejuk saat masuk di dalamnya.

Saat tuan rumah keluar menyambut kami, aku dan istriku terperanjat bukan main. Mukaku terasa panas dan mungkin sudah merah padam. Tubuhku gemetar, ada rasa malu yang sangat. Kami sungguh merasa sangat mengenali orang di depan kami ini.

Ya, orang tua yang mempersilakan kami duduk dengan ramah ini adalah… dia yang setahun lalu meminta sumbangan ke rumah kami! Orang tua berwajah teduh dan berwibawa itu…

Aku tak tahu apa yang sekarang akan terjadi jika waktu itu tidak ada istriku yang menyelamatkanku.

Orang tua berwajah teduh dan berwibawa itu menyalami dan kemudian merangkulku. Aku sungguh malu.

Pernah diterbitkan di: http://www.storial.co/book/segenggam-sumbangan
                     
                     

2015-11-17

HUTAN SENJAKALA

11/17/2015 04:16:00 PM 0
HUTAN SENJAKALA
Oleh: Ahmad Khoirus Salim

Menikmati suasana langit senja, itulah yang biasa aku lakukan untuk melepaskan segala kepenatan rutinitas. Aku biasa duduk berlama-lama di atas batu di tepian hutan ini. Letaknya memang tidak seberapa jauh dari pondok sederhana yang kutempati. Bagiku, langit senja memberikan selaksa kekuatan baru. Langit senja tiba-tiba saja memberiku suntikan energi saat aku jenuh dan jengah kala memikirkan segala pekerjaanku.

2015-11-03

R u m i

11/03/2015 08:06:00 AM 0
Oleh: Ahmad Khoirus Salim

Titik-titik embun masih menetes di sela sejuknya hembusan angin pagi. Mentari belum secuil pun menyunggingkan senyum hangatnya. Kabut pelan merayap dan mulai menghilang, menelusup di antara lebat dedaunan pinus. Rumi mencoba untuk terus berlari, berlari, dan berlari. Telapak kakinya berdarah-darah karena teriris tajamnya bebatuan kali dan duri-duri semak serta ranting-ranting yang runcing. Namun hal itu tak sedikit pun meretaskan niat hatinya untuk keluar dari barak terkutuk itu. Hangatnya keringat yang menetes dari pori-porinya semakin mengukuhkan niatnya. Aku harus terus berlari.
##

2015-10-27

L I L I

10/27/2015 02:47:00 PM 0
L I L I
Karya: Ahmad Khoirus Salim

“Lili, ibumu di mana?”

“Lili, ayahmu di mana?”

“Lili, asalmu dari mana?”

Pertanyaan-pertanyaan serupa terus-menerus berseliweran di benak Lili. Tanpa ampun lagi pertanyaan-pertanyaan itu mencincang hatinya. Lili pun hanya bisa terdiam seribu bahasa. Meski aneh, sungguh dia pun tak tahu apa jawaban semua pertanyaan itu. Lili hanya merasa sendiri di dunia, sendiri dalam sunyi dan sepi. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang mau menemani menemukan jawab atas pertanyaan yang terus menyerangnya.