Tampilkan postingan dengan label resensi buku haiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku haiku. Tampilkan semua postingan

2018-01-02

BUKU HAIGA YANG LANGKA DI INDONESIA KARYA GUNA DAN IRA

1/02/2018 08:17:00 AM 20

Antologi 101 Haiku
Embara Embun Mimpi
karya: I Gusti Made Dwi Guna & Ira Diana

Buku langka? 

Haiga?

Pasti beberapa di antara kita bertanya-tanya, apa itu buku haiga? Mengapa langka? 

Sebelum menjelaskan mengenai buku haiga, kita bahas dahulu tentang haiku. Mengapa haiku? karena haiku erat kaitannya dengan haiga. Haiku adalah jenis puisi tradisional Jepang yang muncul pada abad ke dua puluh. Master haiku seperti Basho menggunakan aturan 5 suku kata pada baris pertama, 7 suku kata pada baris kedua dan 5 suku kata pada baris ketiga. Belakangan, banyak haiku-haiku yang tidak terlalu terpaku terhadap aturan-aturan itu lagi karena banyak pertimbangan. Beberapa unsur dalam haiku tradisional pun mulai ditinggalkan.

Haiku sendiri cukup dikenal di beberapa negara di dunia, termasuk di Indonesia. Komunitas haiku Indonesia pun cukup banyak. Kumpulan buku antologi haiku pun sudah banyak diterbitkan. Buku karya I Gusti Made Dwi Guna dan Ira Diana yang berjudul Embara Embun Mimpi ini merupakan buku kumpulan 101 haiku. Namun buku ini cukup berbeda dibandingkan buku yang sudah ada dan terbit di Indonesia. Buku antologi haiku ini dilengkapi ilustrasi menggunakan lukisan tangan menggunakan tinta Cina. Kombinasi haiku dan ilustrasi inilah yang kemudian disebut haiga.

Buku haiga di Indonesia, saat ini tidak banyak. Kalaupun ada, tidak full lukisan seperti buku karya Guna dan Ira tersebut. 

Makanya, sesuai judul, buku ini tergolong langka. Pencinta puisi tentu akan menikmati sekali puisi pendek tradisional Jepang ini dengan ilustrasi yang cantik. Membaca menjadi tidak membosankan. Atau setidaknya membacanya dengan penuh penghayatan dengan adanya ilustrasi.

Karena penulisnya berasal dari dua pulau berbeda di Indonesia tentu cita rasa yang disajikan pun berbeda. Guna lebih menyoroti alam dan pulau Bali khususnya. Sedangkan Ira, lebih ke panorama pulau sumatera tepatnya Bengkulu dan ada beberapa haiku yang berkaitan dengan pulau Jawa karena sekarang Ira tinggal di Jakarta. 

Selain itu, kolaborasi laki-laki dan wanita pun terasa di tulisan-tulisan haiku di buku tersebut. Ira, layaknya wanita lainnya, membuat sentuhan perasaan lebih terasa di haiku-haikunya. Hal ini terungkap dari penuturan kritikus yang memberi pengantar pada buku tersebut. Ira dikatakan memiliki imaji tenggelam atau imaji mengendap sebagai seorang haikuis alias “si pengamat alam yang mungil-mungil”

Narudin dalam pengantarnya di buku tersebut, menyampaikan bahwa Guna mempunyai bakat filosofis yang cukup bagus tatkala ia melukis, dan lukisan itu dijadikan rujukan haiku-haikunya dengan interpretasi yang lebih mendalam -sebut saja citra tenggelam (sunken image), yaitu imaji (daya bayang batin), Guna lebih spesifik wataknya dan memiliki penghayatan yang cenderung detail.

Membahas detail isi buku tersebut kiranya tidaklah pernah habis. Kita dapat saja membahas teks (haiku) maupun seni lukisan yang ada di sana, atau bahkan kaitan keduanya. Peluncuran buku antologi 101 haiku Guna dan Ira dilaksanakan di PSD HB Jassin Taman Ismail Marzuki pada 20 Januari 2018 mendatang. Layak kiranya Anda untuk hadir dan mendengarkan diskusi untuk buku yang tidak biasa ini. Selain undangan terbuka dan gratis itu, menurut informasi juga akan ada “haiga” yang disiapkan untuk dua puluh tamu yang registrasi di awal. Sungguh hadiah indah di awal tahun 2018 ini.