Apa kabar sahabat? Semoga selalu dilimpahi kesehatan dan keberkahan. Kali ini saya ingin bercerita tentang perjalanan ke Kota Bintuhan, Kabupaten Kaur.
Hari Minggu, 9 April, saya dan rombongan dari Kantor Bahasa Bengkulu bertolak dari Bengkulu menuju Kota Bintuhan, Kab. Kaur. Kami akan mengadakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Indonesia se-Kabupaten Kaur.
Kaur adalah salah satu kabupaten di Bengkulu yang berbatasan dengan Provinsi Lampung. Kaur, nama ini cukup membekas dalam ingatan saya. Dulu, awal-awal berkunjung ke Bengkulu saya naik travel yang selalu singgah beristirahat di salah satu warung makan di wilayah Kaur. Kalau tidak salah ingat nama warung makan tersebut adalah Kaur Raya, di daerah penyimpangan. Jadi, perjalanan dinas seakan menjadi perjalanan nostalgia, napak tilas perjalanan saat pertama kali ke Bengkulu.
Perjalanan Bengkulu-Kaur kami tempuh kurang lebih selama 6 jam. Kami berangkat pukul 09.00, sampai di Bintuhan pukul 16.00. Kondisi jalan yang kadang rusak, sering memperlambat perjalanan. Semoga pemerintah yang berwenang memperhatikan hal ini.
Saya awalnya sempat berpikir akan kesulitan mendapatkan penginapan di Bintuhan. Ternyata dugaan saya salah. Banyak sekali penginapan di sana. Kami akhirnya menginap di hotel Zaffa. Ada cerita lucu tentang penginapan ini, hehehe. Cerita lucu tersebut saya posting di artikel lain mengenai hotel di Kaur.
![]() |
| Hotel Zaffa Kaur |
Bintuhan sebagai ibukota Kabupaten Kaur cukup terkenal dengan pantai dan lautnya. Sayang sekali karena jadwal kegiatan yang padat membuat saya tidak bisa leluasa bermain di pantai. Sedih… kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore hari.
Akhirnya saya hanya berkesempatan mengunjungi Pantai Linau, salah satu destinasi bagus di Kaur, pada malam hari. Yah, hanya bisa mendengar debur ombak dan kesiur anginnya saja.
![]() |
| Pantai Linau Sumber gambar: http://wargakaur.blogspot.co.id |
Untuk mengobati kekecewaan, saya dan teman-teman mencoba kuliner yang jarang ada, yaitu sate gurita. Kami cukup penasaran seperti apa rasa sate gurita tersebut. Akhirnya, kami mampir di rumah makan Voltus dan memesan sate gurita. Ternyata, memang unik dan sangat lezat rasanya. Tentang harga juga cukup terjangkau. Satu porsi harganya di kisaran Rp30.000. Hmmm, akhirnya terobati juga rasa penasaran akan sate gurita, hehehe
Maaf tidak ada foto satenya, lupa...
Salah satu lokasi cukup menarik yang kami temui adalah lapangan Merdeka. Lokasi ini menjadi semacam alun-alun kota. Di situ ada Masjid Al Kahfi yang menjadi kebanggaan masyarakat Kaur.
![]() |
| Masjid al Kahfi di Lapangan Merdeka Bintuhan Sumber gambar: http://wargakaur.blogspot.co.id |
Tentang gambaran sekilas Kota Bintuhan secara umum, ini adalah kota yang cukup tenang, masih cukup sepi malah, dan cukup tertata. Fasilitas publik pun lumayan tersedia. Kota ini menjadi cukup ‘hidup’ karena dilalui jalan lintas Sumatra.






