Observasi Pribadi: Blog tentang gaya hidup

2016-08-24

TORCH, Lagi dan Lagi...




Membaca postingan dalam capture posting tersebut, saya pun kembali tergeragap. TORCH! Akronim dari Toxoplasma, Rubella, CMV dan Herpes itu begitu dahsyat menghantui keluarga kecil kami beberapa tahun terakhir ini. Kami yang terlambat menyadari, kami terlambat mengetahui, sehingga menjadi lantaran anak pertama kami dipanggil lagi oleh Gusti Allah, pun anak kedua kami juga masih mendapatkan efek dari salah satu virus TORCH, yaitu CMV.

Saya yakin banyak orang tua di mana pun berada yang minim pengetahuan soal TORCH ini, bahkan kadang
tenaga medis pun kurang ngeh dengan efek dahsyat virus tersebut. Karena minim pengetahuan tersebut, sehingga hanya bisa berpasrah tanpa screening medis maupun alternatif, menganggap bahwa demikianlah adanya apa yang digariskan Tuhan untuk anak mereka. Kepasrahan dan ketidaktahuan yang hanya akan berujung pembiaran pada nasib buah hati. Anda yang tahu Cerebral Palsy (lumpuh otak), Global Development Delay, hipotonus (lemas otot), spastik (otot kaku), kebocoran jantung, gangguan pendengaran (ATR), pasti akan mafhum akan efek dahsyat virus tersebut. Ya, semua gangguan tadi bisa disebabkan oleh virus TORCH.

TORCH bisa dipelajari, insyaallah bisa diobati untuk meminimalkan efek pada tubuh manusia. Ada juga terapi-terapi khusus untuk memaksimalkan potensi tumbuh kembang pada anak-anak. Memang semua itu ikhtiar dengan hasil Tuhan yang menentukan, tetapi bukankah itu lebih baik daripada sebuah pembiaran?
Sebenarnya ada komunitas-komunitas yang dengan gigih berjuang menyosialisasikan tentang TORCH tersebut. Beragam media entah online maupun offline digunakan. Beruntung para orang tua yang melek media tentu akan dengan mudah mendapatkan info tersebut. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang berada di lokasi terpencil, pegunungan, yang sulit mendapatkan akses seperti itu? Tentu menjadi tugas kita bersama, yang sudah mengetahui informasi tentang TORCH dan juga (seharusnya) pemerintah berperan besar dalam hal ini.

Kampanye tentang TORCH perlu lebih digalakkan. Di dunia pendidikan, terutama pendidikan kesehatan, materi TORCH ini saya kira wajib diberikan seberapapun porsinya agar nanti bisa disebarluaskan ke masyarakat. Calon pengantin, pasangan yang akan program hamil, adalah sasaran utama kampanye ini. Tes darah untuk mengetahui ada atau tidaknya keberadaan virus TORCH sangat diperlukan sebelum semuanya terlambat.

Sekali lagi, pemerintah memegang peran penting. Selama ini yang disorot lebih banyak yaitu bahaya rokok, narkoba, HIV/AIDS, ISPA, demam berdarah, penyakit jantung, karena dipandang sebagai 'yang sangat berbahaya'. Padahal, dampak dari virus TORCH pun demikian dahsyat untuk sebuah generasi. Sangat riskan membiarkan virus TORCH terus berkembang tanpa menggalakkan kampanye tentang TORCH secara lebih intensif.

Memang, berbagai tes untuk mengetahui keberadaan virus-virus tersebut tidak bisa dikatakan murah. Silakan mencari tahu di RS atau laboratorium yang Anda ketahui.

Mohon maaf, tulisan ini hanyalah uneg-uneg dari seorang ayah, yang memiliki dua anak dengan infeksi CMV, salah satu bagian dari TORCH. Kami masih beruntung bisa belajar dari komunitas-komunitas online yang ada dan dengan tulus berbagi tentang TORCH.

Dengan tulisan ini, saya hanya bermaksud untuk sekadar berbagi. Jangan sampai terlambat mengetahui hingga menjadi terlambat semuanya.

Salam hangat,
Ayah Hanum

#TORCH
#CMV
#Rumah Ramah Rubella

2 komentar:

  1. Begitu dahsyat efek virus TORCH, ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, virus TORCH sangat berbahaya, terutama bagi anak dan ibu hamil. Tes TORCH sebelum hamil sangat dianjurkan untuk menghindari infeksi yang tidak diinginkan.

      Hapus

~ Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar di sini. Komentar Anda sangat berharga bagi saya. Jangan ada spam, SARA, pornografi, dan ungkapan kebencian. Semoga bermanfaat. ~