Tampilkan postingan dengan label buku karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku karyaku. Tampilkan semua postingan

2026-01-24

Mengajarkan Keamanan Diri pada Anak Lewat Buku "Akhirnya Didi Tahu"

1/24/2026 09:28:00 AM 0
Mengajarkan Keamanan Diri pada Anak Lewat Buku "Akhirnya Didi Tahu"
Dalam era digital dan dinamika sosial yang semakin kompleks, isu keselamatan anak menjadi prioritas utama bagi orang tua dan pendidik. Buku Akhirnya Didi Tahu, yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, hadir sebagai instrumen literasi yang krusial untuk mengedukasi anak-anak mengenai pencegahan kekerasan dan kewaspadaan terhadap orang asing. Melalui pendekatan naratif yang sederhana namun kuat, buku ini berhasil mengemas pesan keselamatan yang berat menjadi cerita yang mudah dicerna oleh anak-anak tingkat sekolah dasar.

Buku Akhirnya Didi Tahu karya Ahmad Khoirus Salim

Ringkasan Cerita dan Konflik

Tokoh utama dalam buku ini adalah Didi, seorang anak laki-laki yang digambarkan sebagai representasi anak-anak pada umumnya: polos, ceria, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Konflik utama muncul ketika Didi dihampiri oleh seorang individu yang tidak dikenalnya (orang asing). Orang tersebut berusaha menarik perhatian Didi dengan memberikan jajanan favoritnya.

Pada titik ini, penulis, Ahmad Khoirus Salim, dengan sangat baik menggambarkan pergulatan batin Didi. Di satu sisi, ada godaan besar untuk menerima jajanan tersebut. Di sisi lain, ada rasa ragu dan takut yang muncul dari instingnya. Narasi ini sangat efektif karena memposisikan pembaca anak-anak pada situasi yang sangat mungkin mereka hadapi di dunia nyata. Judul Akhirnya Didi Tahu merujuk pada proses penemuan atau pemahaman Didi mengenai batasan aman dan bagaimana seharusnya ia bersikap ketika orang asing mencoba mendekatinya dengan iming-iming tertentu.

Analisis Tema dan Edukasi
Tema utama buku ini adalah pencegahan kekerasan terhadap anak. Namun, alih-alih menggunakan gaya bahasa yang menakut-nakuti, penulis memilih untuk menekankan pada konsep "pemberdayaan diri". Anak diajarkan untuk mendengarkan kata hati mereka dan berani berkata "tidak" atau menolak pemberian dari orang yang tidak dikenal.

Secara visual, ilustrasi yang digarap oleh Plankton Studio memainkan peran vital. Penggunaan warna-warna yang cerah khas dunia anak membuat buku ini menarik secara estetika, namun ilustrator juga berhasil menangkap ekspresi keraguan dan ketegasan Didi dengan sangat apik. Visualisasi ini membantu pembaca yang masih dalam tahap literasi awal untuk memahami emosi karakter dan urgensi situasi tanpa merasa terancam secara psikologis.

Kelebihan Buku
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kesederhanaan bahasanya. Kalimat-kalimatnya pendek dan langsung pada sasaran, sangat sesuai dengan perkembangan kognitif anak usia SD. Selain itu, buku ini berfungsi sebagai pemantik diskusi antara orang tua/guru dengan anak. Setelah membaca cerita Didi, orang tua dapat bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan jika menjadi Didi?", yang secara tidak langsung membangun protokol keamanan bagi anak.

Akhirnya Didi Tahu adalah bacaan yang sangat direkomendasikan untuk masuk dalam kurikulum literasi di sekolah maupun koleksi bacaan di rumah. Buku ini membuktikan bahwa edukasi mengenai keselamatan diri tidak harus bersifat kaku atau menyeramkan. Melalui kisah Didi, anak-anak Indonesia belajar satu pelajaran paling berharga dalam hidup mereka: bahwa kewaspadaan adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri. Buku ini merupakan langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi generasi masa depan melalui kekuatan literasi.

Buku digital Akhirnya Didi Tahu bisa diunduh atau dibaca di https://budi.kemendikdasmen.go.id/baca/digital/akhirnya-didi-tahu









2017-10-11

Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional Tahap II: Sebuah Refleksi

10/11/2017 11:15:00 AM 5
Sesekali suara notifikasi whatsapp terdengar memecah kebisuan rutinitas. Grup penulis GLN 2017 itu masih terus ramai dan aktif. Para penulis GLN memang dikumpulkan kembali untuk menyelaraskan bahan bacaan yang sudah ditulis dan direvisi pada pertemuan Penulis GLN Tahap I. Pertemuan ke-II juga sekaligus menjadi ajang penyerahan hadiah bagi peserta yang lolos seleksi.


Dok. pribadi
Akhirnya, hadiah itu diterima juga, hehehe. Alhamdulillah. Sayembara kali ini memang cukup unik. Meskipun sudah dinyatakan lolos seleksi, penulis tetap berkewajiban merevisi naskahnya sendiri, seperti pernah saya tuliskan di artikel sebelumnya tentang Pertemuan penulis Gerakan Literasi Tahap I

Bagi para penulis, ini merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, kami diharuskan merevisi menggunakan software indesign. Masalah pun bermunculan, mulai laptop atau notebook yang tidak mendukung, sampai kekurangmahiran untuk mengoperasikannya. Maklum, software indesign cukup besar kapasitasnya, perlu laptop dengan memori lumayan.

Mau tidak mau, meskipun ada prinsip tugas penulis ya menulis, soal tata letak, grafika, dan lain-lain itu lain soal. Bekerja sama dengan pengatak (layouter) profesional pun jadi pilihan, meskipun terpaksa ngutang dulu untuk honor mereka, deu...

Kover buku cerita Markas Rumah Pohon sebelum dan sesudah revisi
Meskipun demikian, kepuasan hakiki adalah ketika naskah buku kami lolos seleksi dan akan dijadikan bahan bacaan bagi siswa dan masyarakat. Buku tersebut menurut rencana akan disebarkan ke seluruh Indonesia. 

Acara pertemuan penulis tahap ke-2 dalam rangka penyelarasan bahan bacaan literasi dengan slogan "Penulis Bahan Bacaan, Pencerah Masa Depan"tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Acara diselenggarakan di Hotel Santika TMII mulai tanggal 5—7 Oktober 2017. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyempurnakan buku berdasarkan rekomendasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), serta memperkuat pemahaman penulis mengenai bacaan yang baik dan layak digunakan serta dapat menumbuhkan budi pekerti.



Sumber foto: badanbahasa.kemdikbud.go.id
Pertemuan ini dihadiri oleh 110 penulis dan berbagai daerah di Indonesia. Acara pembukaan kegiatan dimeriahkan oleh Paduan Suara Labschool Jakarta dan penampilan dongeng anak, serta pemberian piagam penghargaan kepada pemenang sayembara secara simbolis untuk enam penulis, antara lain Zulfitra (Sumatra Barat, Jembatan Ratapan Ibu dan Kawa Daun), Rismawati (Aceh, Lanskap Negeri Saman), Tria Ayu K. (Yogyakarta, Batik Tambal untuk Kakek), Paskalina (Jakarta, Jajanan Tradisional Asli Indonesia), I Gusti Made Dwiguna (Bali, Nyoman Nuarta: Pematung Internasional yang Pantang Menyerah), Dzikri el Han (Papua, Cerita dari Lembah Baliem)

Penyediaan bahan bacaan literasi yang dilakukan oleh Badan Bahasa melalui Pusat Pembinaan pada tahun 2017, dilakukan melalui Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi 2017, dan telah menghasilkan bahan bacaan yang bertema lanskap dan perubahan sosial masyarakat perdesaan dan perkotaan, kekayaan bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kuliner Indonesia, dan arsitektur tradisional Indonesia. Bahan bacaan tersebut telah melalui berbagai proses penilaian dan perbaikan. Saat ini, bahan bacaan tersebut sudah masuk pada tahap akhir penyelarasan buku berdasarkan hasil penilaian dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Kemendikbud. Semua proses tersebut dilakukan untuk menghasilkan bahan bacaan yang layak bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. (badanbahasa.kemdikbud.go.id)

“Jika tahun lalu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah menerbitkan 165 buku bacaan cerita rakyat, tahun ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah menyerahkan 226 buku bahan bacaan kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan untuk dinilai, dan selanjutnya akan diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa jika lolos,” jelas Prof. Dr. Muhadjir Efendi, M.AP.


Ditambahkan bahwa dari 727 naskah yang masuk, telah terpilih 120 naskah bacaan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Aspek yang ditinjau dan diperbaiki adalah kesesuaiannya dengan tingkat pendidikan, materi yang mendukung budi pekerti, penggunan bahasa Indonesia, dan aspek grafika. (badanbahasa.kemdikbud.go.id)

Menjadi bagian dari mereka, para penulis hebat itu, adalah sebuah anugerah tersendiri. Selain bangga dengan karya yang diapresiasi, pertemuan penulis tersebut juga sebagai wadah menimba ilmu dari para penulis lain. Terbentuklah forum-forum diskusi kecil yang membahas sastra, perbukuan, penerbitan, dan tetek bengeknya.





Para panitia kegiatan yang luar biasa
Acara sudah usai, buku sudah direvisi, hadiah pun sudah diterima. Namun silaturahim dan persahabatan harus tetap terjalin. Grup whatsapp Penulis GLN 2017 yang semula dibuat untuk memudahkan koordinasi antara panitia dengan peserta, diharapkan tetap ada untuk ajang silaturahmi dan diskusi antarpenulis GLN 2017. Satu harapan lagi, semoga kami bisa bersemuka lagi di ajang sayembara GLN tahun 2018. Amiiin.


2016-10-17

Antologi Puisi dan Cerpen Dentam Swarnadwipa

10/17/2016 12:32:00 PM 0
Alhamdulillah, akhirnya lahir lagi buku antologi yang memuat karya saya. Buku antologi dengan judul Dentam Swarnadwipa ini adalah antologi Puisi dan Cerpen Balai dan Kantor Bahasa se-sumatra. Penulis sendiri memang staf di Kantor Bahasa Bengkulu, salah satu kantor bahasa yang ada di wilayah Sumatra.

Dalam antologi tersebut, termuat 39 puisi dan 10 cerpen. Antologi tersebut diterbitkan oleh Kantor Bahasa Bengkulu bekerja sama dengan palagan Press, Riau. 

Karya penulis yang dimuat adalah cerpen berjudul Balada Arjuna. Mengisahkan seorang gadis bernama Halimah yang terpaksa memendam cinta pada sosok Teguh. Apa daya karena memang tak jodoh, mereka tak bisa menyatu. Bahkan untaian cerita cinta tersebut akhirnya mengendap dalam hati.

2015-11-17

HUTAN SENJAKALA

11/17/2015 04:16:00 PM 0
HUTAN SENJAKALA
Oleh: Ahmad Khoirus Salim

Menikmati suasana langit senja, itulah yang biasa aku lakukan untuk melepaskan segala kepenatan rutinitas. Aku biasa duduk berlama-lama di atas batu di tepian hutan ini. Letaknya memang tidak seberapa jauh dari pondok sederhana yang kutempati. Bagiku, langit senja memberikan selaksa kekuatan baru. Langit senja tiba-tiba saja memberiku suntikan energi saat aku jenuh dan jengah kala memikirkan segala pekerjaanku.