Tampilkan postingan dengan label Ahmad Khoirus Salim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Khoirus Salim. Tampilkan semua postingan

2026-01-24

Mengajarkan Keamanan Diri pada Anak Lewat Buku "Akhirnya Didi Tahu"

1/24/2026 09:28:00 AM 0
Mengajarkan Keamanan Diri pada Anak Lewat Buku "Akhirnya Didi Tahu"
Dalam era digital dan dinamika sosial yang semakin kompleks, isu keselamatan anak menjadi prioritas utama bagi orang tua dan pendidik. Buku Akhirnya Didi Tahu, yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, hadir sebagai instrumen literasi yang krusial untuk mengedukasi anak-anak mengenai pencegahan kekerasan dan kewaspadaan terhadap orang asing. Melalui pendekatan naratif yang sederhana namun kuat, buku ini berhasil mengemas pesan keselamatan yang berat menjadi cerita yang mudah dicerna oleh anak-anak tingkat sekolah dasar.

Buku Akhirnya Didi Tahu karya Ahmad Khoirus Salim

Ringkasan Cerita dan Konflik

Tokoh utama dalam buku ini adalah Didi, seorang anak laki-laki yang digambarkan sebagai representasi anak-anak pada umumnya: polos, ceria, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Konflik utama muncul ketika Didi dihampiri oleh seorang individu yang tidak dikenalnya (orang asing). Orang tersebut berusaha menarik perhatian Didi dengan memberikan jajanan favoritnya.

Pada titik ini, penulis, Ahmad Khoirus Salim, dengan sangat baik menggambarkan pergulatan batin Didi. Di satu sisi, ada godaan besar untuk menerima jajanan tersebut. Di sisi lain, ada rasa ragu dan takut yang muncul dari instingnya. Narasi ini sangat efektif karena memposisikan pembaca anak-anak pada situasi yang sangat mungkin mereka hadapi di dunia nyata. Judul Akhirnya Didi Tahu merujuk pada proses penemuan atau pemahaman Didi mengenai batasan aman dan bagaimana seharusnya ia bersikap ketika orang asing mencoba mendekatinya dengan iming-iming tertentu.

Analisis Tema dan Edukasi
Tema utama buku ini adalah pencegahan kekerasan terhadap anak. Namun, alih-alih menggunakan gaya bahasa yang menakut-nakuti, penulis memilih untuk menekankan pada konsep "pemberdayaan diri". Anak diajarkan untuk mendengarkan kata hati mereka dan berani berkata "tidak" atau menolak pemberian dari orang yang tidak dikenal.

Secara visual, ilustrasi yang digarap oleh Plankton Studio memainkan peran vital. Penggunaan warna-warna yang cerah khas dunia anak membuat buku ini menarik secara estetika, namun ilustrator juga berhasil menangkap ekspresi keraguan dan ketegasan Didi dengan sangat apik. Visualisasi ini membantu pembaca yang masih dalam tahap literasi awal untuk memahami emosi karakter dan urgensi situasi tanpa merasa terancam secara psikologis.

Kelebihan Buku
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kesederhanaan bahasanya. Kalimat-kalimatnya pendek dan langsung pada sasaran, sangat sesuai dengan perkembangan kognitif anak usia SD. Selain itu, buku ini berfungsi sebagai pemantik diskusi antara orang tua/guru dengan anak. Setelah membaca cerita Didi, orang tua dapat bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan jika menjadi Didi?", yang secara tidak langsung membangun protokol keamanan bagi anak.

Akhirnya Didi Tahu adalah bacaan yang sangat direkomendasikan untuk masuk dalam kurikulum literasi di sekolah maupun koleksi bacaan di rumah. Buku ini membuktikan bahwa edukasi mengenai keselamatan diri tidak harus bersifat kaku atau menyeramkan. Melalui kisah Didi, anak-anak Indonesia belajar satu pelajaran paling berharga dalam hidup mereka: bahwa kewaspadaan adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri. Buku ini merupakan langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi generasi masa depan melalui kekuatan literasi.

Buku digital Akhirnya Didi Tahu bisa diunduh atau dibaca di https://budi.kemendikdasmen.go.id/baca/digital/akhirnya-didi-tahu









2021-02-25

Balada Abimanyu ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim

2/25/2021 02:20:00 PM 0
Balada Abimanyu ~ Oleh: Ahmad Khoirus Salim
Ilustrasi wayang Abimanyu
 ==========================

Baca juga ceritaku di KBM App ya 😊


“Bagaimana Tun, tentang tawaranku tadi? Pak Harja menatap Atun sembari membenahi letak kacamata tebalnya.
Atun masih juga tertunduk. Tiada keberanian menatap balik ke wajah Pak Harja. Wajah yang selalu dikaguminya. Hening. Hingga detak detik jam dinding terdengar amat jelas. Tik… tik… tik… tak putus-putus. Kecuali berkeloneng saat nanti menunjuk pada pukul tertentu,  mengingatkan waktu yang terus melaju. Pak Harja sudah sangat gelisah menunggu seperti ini. Diliriknya arloji di pergelangan tangannya, hampir Maghrib, sudah sejam lebih rupanya dia menunggu.
“Tun, jawablah. Bapak tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” desaknya lagi.
Dengan masih menunduk, Atun akhirnya mengeluarkan jawabannya. Meski hal itu dilakukannya dengan agak tersendat dan parau.
“Maafkan saya, Pak. Saya tidak bisa menerimanya. Saya belum siap. Saya takut akan mengecewakan dia nantinya. Maafkan….”
Pak Harja tidak berkata-kata lagi. Sepertinya dia sudah menduga akan begini jadinya. Perangai Atun semenjak dia datang tadi telah menyiratkan penolakan. Sedikit jengah dia saat ini. Aduh, sendi-sendinya serasa terlolosi seluruhnya. Lemas tiada daya.
Jika begini akhirnya, apa yang akan dikatakannya nanti pada Abimanyu? Dibayangkannya bergumpal-gumpal kekecewaan akan terhampar di wajah Abimanyu. Pak Harja menarik napas berat. Dia mencoba membuyarkan lamunan tentang anak angkat lelakinya itu.
“Ya sudahlah, Tun. Sekarang kamu pulanglah dulu. Jangan merasa terbebani oleh permintaanku tadi ya… Besok kembalilah bekerja layaknya biasa. Bapak tidak marah sama sekali kepadamu.”
“Iya Pak, terima kasih.”
Cekak saja jawaban itu.
Toko kelontong itu pun kembali sepi. Toko terbesar di kampung, kepunyaan Pak Harja itu, telah ditinggal satu per satu karyawannya, kecuali dua orang penjaga. Tinggal Atun karyawan yang terakhir. Gara-gara urusan tadi ia mesti terlambat pulang. Lekas-lekas pula ia menghambur pulang seiring petang yang merangkak. Sayap kelelawar mulai menebah-nebah udara kelam.
##

Pak Harja terpaku di kursinya. Apa yang harus dikatakannya pada Abimanyu nanti? Lagi-lagi pertanyaan itu yang menyeruak. Abimanyu, anak angkat yang sangat dikasihinya. Abimanyu kecil dulu mulai diasuhnya saat kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan bus yang ditumpanginya. Keduanya masih terhitung saudara jauhnya.
Ditimang-timang, diasuh layaknya buah hati sendiri, itulah tindakannya pada Abimanyu kecil. Demikian besar rasa cinta itu. Apalagi, semenjak kematian istrinya beberapa tahun lalu, hasratnya untuk beristri lagi seakan memudar. Entahlah, seperti trauma yang terus saja menghantuinya. Jadilah Abimanyu tumpuan curahan kasih sayang satu-satunya, hingga kini Abimanyu sudah menginjak dewasa.
Selama ini, Abimanyu dikenalnya sebagai anak penurut dan baik, pun tidak banyak tingkah. Pak Harja demikian bersyukur. Pilihannya pada Abimanyu dulu tidaklah salah. Abimanyu menjadi harapan masa depannya. Dialah yang akan mewarisi seluruh miliknya kelak.
Seiring usia Abimanyu yang semakin dewasa, pernah Pak Harja menanyakan kapan dia hendak menikah. Abimanyu hanya tersenyum-senyum kala itu. Sepertinya, dia sangat sungkan untuk berterus terang pada ayah angkatnya tersebut. Namun, Pak Harja menangkap ada isyarat lain. Abimanyu memang menaksir seseorang, tapi hal itu masih tersimpan rapat di hatinya.
Perlahan-lahan, Pak Harja mulai mengorek informasi siapakah gadis yang didambakan Abimanyu. Akhirnya, dari bisik-bisik para anak buah yang menjaga toko kelontongnya, dia mengetahui siapakah gadis itu sebenarnya. Gadis itu tak lain adalah Atun. Gadis itu memang pendiam dan beraut manis. Pak Harja bertekad membantu Abimanyu mendapatkan bunga pujaannya itu.
Lalu…
Entah mengapa jadi seperti ini kenyataannya? Atun dengan halus menolak Abimanyu. Pak Harja tidak habis mengerti. Apa yang kurang dari Abimanyu? Menurutnya anaknya itu cukup tampan, gagah, serta berkepribadian menawan. Apalagi? Lagipula, secara materi Abimanyu juga tak kekurangan. Bukankah Atun tahu kalau Abimanyu pewaris miliknya nanti? Atau Atun tak tahu hal itu, karena Abimanyu hanya anak angkatnya?
Masih kurangkah semua itu di mata Atun? Ah, pikiran perempuan memang kadang sulit dipahami. Penuh lika-liku misteri. Perasaan kadang jauh lebih mendominasi daripada pertimbangan logika.
Pak Harja tak jua beranjak dari duduknya. Sebentar lagi Abimanyu pulang. Dia memang sedang ikut kursus montir di kecamatan. Pak Harja sebenarnya menghendaki Abimanyu kuliah. Namun, Abimanyu menolak. Kuliah mahal dan belum tentu bisa langsung bekerja seusai lulus nanti, alasan Abimanyu kala itu. Ah, Abimanyu… Abimanyu… kau selalu saja bijaksana dalam menentukan pilihan. Tapi, kenapa Atun sampai menolak?
Abimanyu datang dan langsung mencium tangan ayah angkatnya. Wajahnya tampak tersaput keletihan dan berkilat-kilat. Namun, senyuman tak lepas-lepas dari bibirnya. Amat pantas Pak Harja begitu menyayanginya.
“Mandilah dulu, nanti kita makan bersama-sama,” Pak Harja mengusap pundak Abimanyu.
Tirai malam sempurna mengurung. Gelap dan pekat.
“Bagaimana kursus yang kamu ikuti?”
“Lancar-lancar saja, Pak. Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa selesai.”
“Oh, bagus sekali. Mmm… Abimanyu anakku, tidakkah kamu berkeinginan segera beristri?”
“Ah Bapak, hidup saya saja masih belum mandiri. Bagaimana nanti saya bertanggung jawab pada istri saya?”
“Rezeki seseorang kan tidak disangka-sangka datangnya. Tuhan Maha Kaya. Kenapa masih kamu takutkan?”
“Sebenarnya, saya mencintai seseorang, tapi…”
“Kamu masih ragu?”
“Ya, bisa dikatakan seperti itu. Saya belum sepenuhnya yakin.”
“Atunkah gadis itu?”
Amat terkejut Abimanyu dengan ucapan terakhir ayah angkatnya itu. Sendok yang hendak menyungkah nasi pun sontak terhenti. Dengan raut kebingungan dia tak henti menatap muka Pak Harja.
“Kenapa Bapak tahu?”
“Telinga bisa mendengar, mata pun bisa melihat apa saja. Firasat juga bisa menafsirkan apa yang tersirat. Aku masih peka untuk membaca perlambang-perlambang itu anakku. Tidak ada yang salah dengan perasaanmu, hanya saja…”
“Kenapa Bapak?”
“Dewi keberuntungan rupanya masih jauh dari kita. Tadi dia berkata padaku, dia belum bisa menerimamu.”
Bergetar tubuh Abimanyu. Apa yang baru saja didengarnya terasa bagai ribuan anak panah yang menghajar dan melumat tubuhnya. Sakit. Pilu.
“Maafkan Bapak, anakku. Bapak tadi bersungguh-sungguh menawari Atun agar bersedia menjadi istrimu kelak. Aku tahu pasti engkau akan sulit mengatakannya sendiri. Dengan keyakinanku sendiri, aku lancang menanyakannya pada Atun. Dan… seperti itulah jawabannya.”
Hening, tak ada jawaban.
Malam pun terus melaju dingin. Kelelawar masih menebah-nebah udara malam dengan sayapnya.
Dua bulan berselang. Abimanyu bersiap-siap dan mengemasi barang-barangnya. Tekadnya telah bulat. Dia akan merantau ke Kalimantan. Mencari kehidupan yang mandiri. Meninggalkan ayah angkatnya, kampungnya, terutama masa lalunya, Atun.
Pak Harja, bagaimanapun sedihnya, tak mampu membendung tekad bulat Abimanyu.
“Hati-hatilah anakku. Segera kirim kabar jika sudah sampai di tujuan.”
“Jangan khawatir, Bapak. Saya tidak akan lupa selalu berkirim kabar. Tolong juga saya lekas diberi kabar pabila Atun nanti sudah menikah. Seperti janji yang telah saya ucapkan, saya tidak akan pulang sebelum Atun menikah.”
Dengan hati hancur Pak Harja melepas kepergian Abimanyu. Anak kebanggaannya kini pergi dari pelukannya. Namun, dirinya akhirnya sadar. Tetap tinggal di kampung hanya akan menyiksa batin Abimanyu. Setiap hari dia akan bersua dengan Atun. Apalagi jika menyaksikan Atun menikah nanti. Tentu hal itu akan sangat mengiris-iris hatinya.  
# #

Kini, Pak Harja kembali berhadapan dengan Atun. Ada keinginan yang kuat di benaknya, dia harus tahu apa sebetulnya alasan Atun hingga sampai menolak Abimanyu. Masuk akalkah? Atau sekadar emosi sesaat? Atau mungkin sudah ada calon lain yang tersedia untuknya?
“Atun, sekarang Abimanyu sudah pergi jauh. Tidak ada yang perlu kau jadikan alasan untuk sungkan. Jujurlah pada Bapak apa sebenarnya alasanmu menolak Abimanyu jadi suamimu? Tidak usah sungkan atau takut. Bapak berjanji tak akan memarahimu atau memecatmu. Katakanlah…”
“Benarkah Bapak tidak akan marah?”
Keragu-raguan Atun terlihat jelas di roman mukanya.
“Iya, katakanlah.”
“Sesungguhnya sayalah yang sangat tidak tahu diri, Pak. Dari dulu, saya selalu bermimpi untuk membahagiakan keluarga saya. Bapak tahu sendiri kan keadaan ekonomi keluarga saya.  Saya ingin bersuamikan seseorang yang mapan. Tidak peduli siapa pun dia. Saya rela demi kebahagiaan keluarga saya.”
“Hmmm, Berarti kamu sudah punya calon suami, kan? Lalu siapakah calon suami yang kamu harapkan itu? Tenang saja, bapak tidak akan membuka hal ini pada siapa pun. Anggaplah bapak sebagai ayahmu sendiri.”
Sejenak hening. Bisu dan kaku.
“Saya… saya mencintai Bapak... Bukan Abimanyu.”
Duh Gusti, betapa gila cerita hidup ini. Pak Harja hampir terhuyung pingsan mendengar pengakuan jujur anak buahnya itu. Jadi… jadi… selama ini?
Senyuman indah Atun, kerlingan matanya yang sering beradu dengan mata Pak Harja, sapaan malu-malunya, perhatiannya yang terkadang terlalu tinggi, jadi, semua itu untuk dirinya?! Oalah… ini benar-benar edan!
Abimanyu, apa yang hendak kukabarkan padamu? Haruskah nanti ada surat undangan dari ayah untuk anaknya sendiri?

2018-12-21

Yuk, Wisata Kuliner Malam Hari di Malang

12/21/2018 01:58:00 PM 0

Malam hari bukan hanya untuk beristirahat. Anda juga dapat mengagendakan wisata kuliner di Malang untuk sebuah pengalaman yang berkesan.

Bukan hanya pada siang hari, Malang pada malam hari pun sangat ramai. Aktivitas warga maupun para pengunjung belum sepenuhnya berhenti meskipun hari sudah temaram. Demikian pula para penjual makanan keliling, restoran, atau warung tenda, masih banyak yang melayani pembeli.
Jika Anda berkunjung ke Malang, rasanya sayang jika suasana seperti ini dilewatkan. Ada baiknya menyisihkan waktu sebentar untuk menjelajah kenikmatan kuliner di kota yang identik dengan buah apel ini. Apa saja wisata kuliner pada malam hari yang perlu Anda coba?
       Angsle dan Ronde Titone
Sumber: WisataBaru.Com
Salah satu kuliner yang cocok dikonsumsi pada malam hari adalah angsle dan ronde titone. Para pengunjung bisa menyambangi warung yang menjual menu ini di salah satu warung yang terletak tidak jauh dari Alun-Alun Malang. Warung Angsle dan Ronde Titone mulai buka pada 17.00 WIB hingga 23.30 WIB.
Meskipun sekilas hampir sama, angsle berbeda dengan roti. Makanan ini berbahan dasar potongan roti tawar, kacang hijau rebus, kacang tanah yang disangrai, kembang mayang, dan kuah santan. Sementara itu, ronde lazim berisi jenang mutiara, moci berisi kacang, kacang tanah sangrai, dan air jahe.
       Jagung Bakar Pulosari
Jagung bakar memang sangat nikmat disantap pada saat hawa sedang dingin. Nah, jika Anda ingin bersantai sejenak setelah seharian menyusuri Kota Malang, datanglah ke Café Jagung Bakar Pulosari. Kafe ini terletak di Jl. Pulosari Blimbing. Jagung bakar aneka rasa bisa Anda nikmati di sini, mulai dari original, keju, asin, manis, dan pedas.
Selain itu, Anda juga bisa mengisi perut dengan berbagai makanan kecil, seperti roti bakar dan pisang goreng. Minuman yang tersedia beragam, yaitu susu murni, kopi, atau teh. Warung ini mulai dibuka pada sore hari hingga larut malam.
       Ceker Setan
Meskipun namanya agak menakutkan, sebenarnya kuliner ini sangat lezat, terutama bagi para pecinta makanan pedas. Warung ceker setan yang berada di Jl. Jakarta, Penanggungan, Klojen, Malang, tersebut adalah sebuah warung lesehan yang ramai dikunjungi pembeli. Bahkan, Anda harus antre untuk mendapatkan giliran membeli ceker setan.
Selain ceker setan, ada pula menu lain, yaitu nasi pecel dan sayap ayam. Dengan demikian, para pengunjung memiliki alternatif menu yang bisa disantap jika bukan penyuka pedas. Harga 1 ceker ayam sangat terjangkau, yaitu hanya Rp1.000. Meskipun demikian, kuliner malam ini tidak ada duanya.
       Sate Landak Pakis
Sate landak adalah salah satu kuliner ekstrem yang dapat Anda nikmati di Malang. Pada umumnya, landak bukan jenis hewan yang disantap sebagai lauk pauk. Meskipun demikian, landak ternyata memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga bagus untuk kesehatan.
Anda bisa menikmati olahan sate landak di Jl. Raya Bugis, Saptorenggo hingga pukul 21.00 WIB. Karena bumbu rahasia yang dimiliki pemiliknya, rasa sate ini belum ada yang menyamai sehingga menjadi buruan pembeli.
       Nasi Goreng Pak Dji
Sumber: ikutilangkahkaki.com
Tampaknya, nasi goreng layak dinobatkan sebagai kuliner wajib pada malam hari yang lebih mengenyangkan. Jika Anda penyuka menu nasi goreng, berkunjunglah ke warung yang terletak di Jl. Panglima Soedirman, Gang Manunggal, Klojen. Menu yang disajikan di warung ini adalah porsi jumbo sehingga Anda harus bersiap-siap sebelum memesannya.
Nah, untuk menikmati makanan-makanan lezat tersebut, akan sangat ideal jika Anda langsung datang ke Malang. Manfaatkan promo tiket pesawat Xpress Air ke Malang yang bisa dibeli di situs resmi Airy. Membeli tiket dengan cara ini akan membuat Anda lebih hemat. Menyiapkan perjalanan pun semakin praktis.




2018-10-29

Berikut Kumpulan Nama-Nama Jepang yang Cocok untuk Bayi Laki-laki

10/29/2018 08:11:00 AM 0

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa nama pada seseorang itu mengandung makna dan doa untuk kehidupannya. Itu sebabnya, mengapa setiap orang tua pasti akan memberikan nama-nama yang terbaik bagi putra maupun putrinya. Seiring dengan berjalannya waktu, kini banyak dari para orang tua yang memberi nama pada anaknya, yang diambil dari bahasa-bahasa asing seperti Arab, Eropa, hingga Jepang. Nah, untuk mempersingkat waktu, mari kita langsung saja ke pembahasan intinya mengenai kumpulan nama bayi jepang laki laki :

1. Akihiro Atushi : Pangeran yang penuh keceriaan dan rajin.

2. Akira Benjiro : Anak laki-laki yang cerdas dan penuh kedamaian.

3. Akio Akeno : Seorang pahlawan yang mulia dan selalu bersinar.

4. Daichi Daisuke : Kebijaksanaan yang besar dan selalu membantu orang lain.

5. Goro Haruo : Putra kelima yang lahir pada musim semi.

6. Hideo Hideki : Orang hebat yang selalu memiliki peluang bagus.

7. Hiroshi Hotaka : Anak laki-laki yang murah hati dan memiliki langkah untuk menuju puncak tertinggi.

8. Isamu Isao : Anak lelaki penuh keberanian dan kehormatan.

9. Jirou Junichi : Putra pertama yang selalu mematuhi peraturan.

10. Katsuro Katashi : Seorang putra yang selalu menang dan memiliki ketegasan.

11. Kazuhiko Kazuo : Pangeran yang harmonis yang selalu bersinar penuh harapan.

12. Keichi Kenta : Perhiasan persegi untuk putra pertama yang selalu sehat dan kuat.

13. Kurou Kiyoshi : Putra kesembilan yang berjiwa murni.

14. Nobuo Nobuyuki : Seorang lelaki setia yang penuh dengan kebahagiaan.

15. Ryota Satoshi : Putra yang gemuk dan kuat serta memiliki kecerdasan.

16. Saburo Ryu : Anak laki-laki pertama yang memiliki roh naga.

17. Shinji Shigeo : Putra kedua yang hidupnya penuh kemewahan.

18. Shichiro Satoshi : Anak lelaki ketujuh yang cerdas dan bijaksana.

19. Takeshi Takahiro : Prajurit laki-laki yang gagah berani dan penuh kemuliaan.

20. Takeo Takumi : Pria yang gagah berani, keras, cekatan, dan terampil.

21. Tatsuo Toru : Naga tegas yang selalu berpetualang.

22. Yuudai Yutaka : Pahlawan besar yang sejahtera, kaya, dan bijaksana.

Itulah kumpulan nama-nama Jepang yang cocok untuk bayi laki-laki. Dari deretan nama bayi laki-laki Jepang tersebut, apakah kamu tertarik dengan salah satu namanya?



2018-10-18

Mengutamakan Bahasa Indonesia, Mengedepankan Jati Diri Bangsa

10/18/2018 04:17:00 PM 0
Indonesia adalah negara yang mempunyai kekayaan bahasa daerah yang sangat beragam. Setiap daerah mempunyai bahasa daerah yang menunjukkan jati diri masing-masing. Setiap bahasa daerah unik dan berciri khas tertentu. Dari beragam bahasa daerah tersebut, bahasa Indonesia dipilih untuk menjadi bahasa pemersatu bangsa. Penggunaan nama bahasa persatuan “bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. 


Kondisi di masyarakat saat ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik belum sepenuhnya diutamakan. Dapat kita saksikan secara gamblang di baliho-baliho, kain rentang/spanduk, papan-papan nama, reklame-reklame, rambu-rambu, papan petunjuk, dan media di ruang publik lainnya bahwa bahasa Indonesia masih “kalah pamor” dibandingkan bahasa asing. Apa indikatornya? Bahasa asing ditulis lebih dulu dibandingkan bahasa Indonesia. Padahal, seharusnya bahasa Indonesia lebih diutamakan penggunaannya sebagai bentuk mengedepankan jati diri dan martabat bangsa. Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa kita.   
Pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia sudah mempunyai dasar hukum yang jelas, yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Secara konstitusional, sudah sangat jelas bahwa kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara yang harus difungsikan sebagaimana mestinya dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Pengutamaan bahasa Indonesia dalam berbagai konteks resmi merupakan upaya nyata untuk menjaga kedaulatan bahasa Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan sudah sangat jelas bagaimana aturan penggunaan bahasa Indonesia tersebut.
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai sebuah lembaga kebahasaan mempunyai tugas melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia. Melalui Unit Pelaksana Teknis Balai/Kantor Bahasa yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus menggaungkan semboyan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”.

Baca juga: Menulis dan Menerbitkan Secara Online

Tujuan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik yaitu (1) memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, (2) menanamkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia, (3) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa, (4) meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik, (5) mendokumentasikan pemakaian bahasa ruang publik di wilayah kabupaten/kota, (6) mengevaluasi pemakaian bahasa di ruang publik, dan membina  pemakaian bahasa yang baik dan benar, dan (7) mewujudkan bahasa di ruang publik yang memartabatkan bahasa Indonesia.
Bahasa asing bukan dilarang untuk digunakan, melainkan harus diatur agar sesuai dengan semangat pengutamaan bahasa Indonesia. Misal dalam penulisan papan petunjuk, maka bahasa Indonesia dituliskan di bagian paling atas, kemudian baru bahasa asingnya. Namun, kenyataan di lapangan sering menunjukkan sebaliknya. Bahasa asing masih mendominasi tulisan-tulisan di ruang publik kita.
Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut. Di antara faktor-faktor tersebut, pertama perlu digarisbawahi tentang ketidaktahuan masyarakat akan aturan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik. Di sinilah terdapat tantangan besar untuk lebih membumikan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-Undang sudah disusun secara sistematis, tinggal bagaimana sosialisasi dan aplikasi di lapangan.
Faktor kedua ialah sikap masyarakat yang turut memengaruhi dominasi penggunaan bahasa asing. Tidak dapat dimungkiri di sebagian masyarakat kita ada perasaan “istimewa” ketika menggunakan istilah-istilah asing di ruang publik. Sosialisasi secara persuasif dan masif diperlukan agar tumbuh sikap positif masyarakat terhadap pengutamaan penggunaan bahasa indonesia. Di samping itu, diperlukan juga komitmen masyarakat untuk tetap setia dan bangga mengutamakan penggunaan bahasa negara, bahasa Indonesia, di ruang publik.
Tantangan pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini semakin berat karena terdapat faktor ketiga yakni gempuran arus informasi dari media sosial. Pengguna media sosial terus bertumbuh dengan pesat. Dampak negatifnya adalah bahasa Indonesia sering digunakan untuk mengungkapkan ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoaks). 
Seiring semakin beratnya tantangan pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dengan baik dan benar, lembaga kebahasaan memiliki peran strategis untuk mengantisipasi hal itu. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa harus bersinergi dengan berbagai pihak untuk menjawab tantangan tersebut. Instansi-instansi pemerintahan, insan media massa, dan para pelaku usaha juga penting dilibatkan karena merekalah yang kerap menggunakan media di ruang publik sebagai ajang promosi dan publikasi.
          Memang tidak mudah mengubah paradigma dan kultur masyarakat terkait penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Diperlukan waktu dan usaha yang terus-menerus agar program-program pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik yang dicanangkan Badan Bahasa bisa terlaksana dengan baik dan sukses. Masyarakat harus diberi pemahaman secara komprehensif bahwa memartabatkan bahasa Indonesia berarti menunjukkan jati diri bangsa yang sebenarnya.