Sabtu, 22 Juli 2017

3 Langkah Penting untuk Mewujudkan Tujuan Anda

Setiap orang pasti memiliki impian besar dalam hidupnya. Sebuah impian mungkin sesuai dan menunjang tujuan hidup Anda. Oleh karena itu, Anda perlu mengejar impian itu melalui sebuah proses panjang dan penuh perjuangan. Proses ini bisa memakan banyak waktu. Namun, Anda juga bisa menghemat banyak waktu dan menghilangkan rasa frustrasi dengan mengeliminasi impian yang tidak tepat untuk Anda saat ini. Anda perlu mengidentifikasi apa saja yang harus Anda fokuskan mulai sekarang.


Berikut ini adalah tiga kiat yang bisa membantu Anda mewujudkan suatu impian.

1. Targetkan Tujuan Anda

Tujuan Anda harus spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan tepat waktu. Ingat, ada rencana jangka pendek dan ada rencana jangka panjang.

Tujuan yang signifikan harus dipecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil untuk memastikan akuntabilitas harian. Misalnya, jika Anda ingin menurunkan berat badan sekitar 10 kg dalam tahun ini, Anda dapat memecahnya menjadi 1 kg per bulan atau lebih. Dengan demikian, Anda mengetahui berapa banyak kalori yang perlu Anda bakar untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Identifikasi Bagaimana Anda Mendapatkan Keuntungan dari Tujuan Tersebut

Orang sering gagal mencapai tujuan mereka karena mereka hanya berkonsentrasi pada biaya daripada manfaatnya. "Jika saya kehilangan berat badan," mereka beralasan, "Saya harus melepaskan ini dan melakukan itu." Atau "Jika saya berhenti merokok, saya tahu bahwa saya akan bertambah berat badan dan menderita dan sulit bergaul. "

Alih-alih berkonsentrasi pada hal negatif, pikirkan manfaat yang akan Anda nikmati. Saat Anda menetapkan sasaran, buatlah daftar benefit atau manfaat yang akan Anda dapatkan saat mencapai setiap sasaran. Setiap kali Anda mulai bertanya pada diri sendiri apakah hasil akhir akan sepadan dengan usaha, cukup ambil daftar manfaat dan bacalah keras-keras .

3. Sebutkan Hambatan yang Menghalangi Tujuan Anda

Anda perlu mengidentifikasi hambatan agar lebih realistis dan tidak terkejut. Banyak orang yang kurang memahami bahwa mengejar sebuah tujuan semacam itu akan sangat menuntut banyak usaha, membutuhkan waktu lama, dan melibatkan begitu banyak kesulitan yang tak terduga. 

Perencanaan yang cermat sebelumnya akan menghindarkar diri Anda dari banyak kekecewaan karena Anda sudah benar-benar siap. Anda harus mengerti bahwa Anda tidak dapat selalu melihat penghalang jalan di depan, akan banyak hambatan tak terduga yang muncul. Itulah sebabnya komitmen, sikap, tanggung jawab, dan fokus pada manfaat tetap merupakan suatu keharusan. Kesabaran juga sangat penting. Ingat bahwa dengan menjaga diri tetap fokus pada tujuan, Anda bisa melihat lebih banyak manfaatnya dan bukan hanya rintangannya.


Sangat sedikit orang yang menyukai tantangan dan rintangan. Kekecewaan atau kemunduran dalam bentuk apapun jarang dilihat dengan antusias, kebanyakan menjadi frustrasi. Namun, yakinlah bahwa kesulitan itu akan menimbulkan kegembiraan, Jika Anda berhasil mengatasi rintangan, Anda akan menjadi semakin kuat dan meningkatkan derajat Anda menjadi lebih tinggi.

Semoga bermanfaat dan selamat terus berjuang.

Rabu, 19 Juli 2017

Jangan Sepelekan Penulisan Nama

Sumber gambar: https://www.behindthename.com
Ada pepatah yang mengatakan "Apalah arti sebuah nama." Namun, bagi saya pribadi, nama adalah sebuah doa indah yang disematkan orang tua kepada anaknya. Nama adalah sebuah identitas yang memudahkan orang lain mengenali diri kita. Dalam KBBI, paling tidak ada tiga makna untuk kata nama sebagaimana berikut.
na.ma
  1. kata untuk menyebut atau memanggil orang (tempat, barang, binatang, dan sebagainya): -- anjing itu Miki
  2. gelar; sebutan: dikaruniai -- Adipati; --nya saja pegawai tinggi, tetapi kekuasaannya tidak ada
  3. kemasyhuran; kebaikan (keunggulan); kehormatan: ia beroleh (menda-pat) --
Dalam artikel ini saya ingin menyoroti masalah penulisan nama. Penulisan nama terkadang dianggap sepele, tetapi akibatnya sungguh bisa fatal. Akan banyak waktu dan tenaga tersita gara-gara ketidaktepatan penulisan nama.
Apa yang saya alami sendiri bisa dijadikan contoh. Nama lengkap saya adalah AHMAD KHOIRUS SALIM. Namun, ketika masa sekolah dan kuliah, saya lebih suka menuliskan nama dengan disingkat menjadi A. KHOIRUS SALIM.
Apa yang terjadi kemudian? Ketika hendak mengurus ijazah kelulusan, saya harus bolak-balik ke bagian administrasi kampus untuk membenarkan penulisan nama saya. Hanya gara-gara AHMAD yang disingkat menjadi A.. Bisa dibayangkan betapa repotnya kalau nama yang disingkat tersebut terlanjur dicetak di ijazah kelulusan. Saya akan lebih pontang-panting mengurusnya karena tidak sinkron dengan ijazah jenjang sebelumnya.
Kabar yang sempat saya dengar, mengurus kesalahan penulisan nama di ijazah jauh lebih sulit dan rumit dibanding mengurus kesalahan nama di kartu atau surat identitas yang lain seperti KK atau KTP. Jadi, demikian halnya dengan nama yang tercetak di surat atau kartu identitas yang lain, semua harus ditulis sama persis.
Penulisan nama juga penting apabila berhubungan dengan hajat hidup yang lain. Misal, ketika membeli tiket karena hendak bepergian, membuat rekening di bank, mendaftar kerja, dan lain-lain. Bayangkan apabila hendak bepergian dengan pesawat kemudian ditolak petugas check in karena nama tidak sama antara di kartu identitas dengan yang tertulis di tiket.
Oleh karena itu, penulisan nama perlu benar-benar diperhatikan. Jangan sampai salah meskipun satu huruf saja.  Kelihatannya sepele, tetapi nama adalah identitas yang melekat pada diri kita.

Apalagi, nama anak-anak masa kini demikian rumit dan sulit dieja. Contohnya adalah  penggunaan kata Muhamad dengan berbagai variannya seperti 'muhamad', 'muhammad', 'mochammad', 'muchammad', 'muhamat', 'mohamet', 'mohamat', 'akhmad', 'ahmad', 'ahmat', dan lain sebagainya. Contoh lain yaitu Xiovariel, Queennaya, Ghassan, Aldebaran, Altair, Azzahra, Ixia, Yuriexa, Razanaraghda, Odhiyaulhaq (tribunnews.com). 

Sebenarnya sah-sah saja karena itu kewajiban orang tua untuk memberi nama yang baik pada anaknya. Orang tua sekarang tentu ingin nama anak yang keren dan kekinian. Namun, ya itu tadi, konsekuensinya adalah harus jeli dan teliti menuliskan ejaan nama anaknya. Jangan sampai merugi di kemudian hari gara-gara penulisan nama yang rumit dan sulit dieja.

Selasa, 18 Juli 2017

Perundungan, Lagi dan Lagi

Di awal tahun pelajaran 2017 ini, kita tersentak dengan adanya dua berita viral. Kita disuguhi dua video viral berisi perundungan (bullying) yang mirisnya terjadi dan melibatkan mereka yang sedang ada di dunia pendidikan.

Video pertama adalah seorang mahasiswa berkebutuhan khusus yang dirundung oleh teman-teman di kampusnya. mahasiswa itupun marah dan melemparkan tong sampah ke arah teman yang mengganggunya.

Video kedua adalah video sekelompok anak smp yang merundung seorang siswi. siswi tersebut dijambak, dipukuli, dan terakhir disuruh mencium tangan dan bersimpuh di kaki salah seorang pelaku perundungan tersebut.

Dua video itupun sekejap menjadi viral. Cacian dan hujatan ditumpahkan kepada para pelaku. Banyak yang kemudian mencoba menelisik siapa saja pelakunya. Pihak berwenang pun akhirnya turun tangan menangani persoalan tersebut. Berita terakhir yang dirilis media menyebutkan, para siswa SMP yang merundung temannya tersebut akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan KJP-nya dicabut.Adapun para mahasiswa yang merundung mahasiswa berkebutuhan khusus tersebut sudah mendatangi keluarga korban dan meminta maaf, meskipun demikian, pihak kampus dikabarkan akan tetap melakukan tindakan sesuai prosedur.


Sebelum dua video perundungan itu beredar dan viral, sebenarnya sudah ada beberapa kasus serupa yang terjadi. Kasus tersebut juga menjadi viral dan mendapat perhatian secara nasional. 

Ah, apa sih yang salah dengan para generasi muda tersebut? tidakkah mereka sadar tindakan mereka tersebut sangat tidak pantas dan melukai perasaan dan psikis orang lain? Apakah hal-hal perundungan demikian sangat menyenangkan bagi mereka?

Tentu saja kita sangat emosi melihat perlakuan yang demikian itu dari mereka. Kita yang sudah dewasa saja miris, bagaimana mereka yang masih belia bisa dengan enjoi melakukannya?

Kita bisa berpraduga bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi perilaku mereka. satu yang utama tentu dari keluarga. Keluarga adalah awal mula, semua bermula dari keluarga. Bagaimana keluarga, kedua orang tua mereka, memperlakukan dan mendidik mereka adalah hal yang patut dicermati. 

Ada kalanya perilaku tersebut terjadi karena pembiaran, anak terlalu dimanja seakan tidak pernah salah. Yang lebih tragis lagi kalau anak terbukti bersalah dan tetap dibela. Hal tersebut akan menumbuhkan sikap mau menang sendiri, bila salah, toh nanti tetap dibela orang tua. Mungkin seperti itu jadinya pola pikir mereka.


Bisa juga perilaku sadis tersebut muncul karena trauma dengan lingkungan dan kondisi rumah. Orang tua mereka terlalu galak dan mengekang, sehingga mereka mencari pelampiasan dengan merundung temannya yang dinilai lebih lemah. Apalagi jika ada teman lain yang mendukung, tindakan mereka akan semakin menjadi-jadi. sebenarnya, di satu sisi mereka bersifat penakut, mereka berani kalau beramai-ramai.

Di samping faktor keluarga dan lingkungan, faktor eksternal lain juga patut diwaspadai. Gencarnya arus informasi melalui internet dan media massa yang lain patut diwaspadai.Tontonan yang kurang mendidik akhir-akhir ini juga sudah cukup meresahkan. 


Sudah tak terhitung curahan hati para orang tua di medsos yang mengeluhkan kualitas tayangan televisi yang bermutu rendah, cenderung murahan. Apa daya jika rating masih menjadi tujuan utama dibanding kualitas dan mutu tayangan. Semua tahu, rating is profit. Perhatian pemerintah sebagai pengendali siaran sangat dibutuhkan. 

Dari sisi dunia pendidikan sendiri, bukan rahasia lagi kalau sistem senioritas di banyak lembaga pendidikan ketika masa orientasi sudah hampir tidak ada bedanya dengan perundungan massal yang dilakukan kakak kelas pada adik kelasnya.

Akhirnya, dari kejadian-kejadian perundungan tersebut, kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa belajar bahwa ada hak dan kebebasan orang lain yang tidak bisa dikekang, ada sisi kelam anak dan remaja yang perlu diperhatikan, dan ada solidaritas sosial yang tinggi dalam masyarakat saat melihat kesewenang-wenangan menindas rasa kemanusiaan.

Kita tetap berharap pihak-pihak yang berpengaruh, termasuk diri kita sendiri, lantang bersuara melawan perundungan, bullying. Dilihat dari sisi manapun, walaupun dengan dalih pembelajaran, perundungan tetap tidak bisa dibenarkan. Akan timbul trauma dan rasa ingin balas dendam yang terus berputar menjadi lingkaran setan. 

Kamis, 06 Juli 2017

SEBUAH PUISI PEMANTIK

Menjadi seorang yang menyukai dunia menulis tentu bukan suatu kebetulan belaka. Dapat dipastikan ada suatu hal/alasan kuat yang melatarbelakangi seseorang menjadi penulis. Saya termasuk di antara mereka yang memiliki kisah awal menjadi seorang penulis atau paling tidak menjadi seseorang yang suka menulis.
Semenjak kecil, tepatnya usia SD yang sudah bisa membaca, saya terbiasa 'melahap' majalah “RINDANG” terbitan Depag (sekarang Kemenag) Jawa Tengah yang dibawa Bapak saya setiap awal bulan. Setiap PNS Depag, termasuk Bapak, wajib berlangganan majalah tersebut. Alhasil, saya pun terkena imbasnya yaitu keranjingan membaca. Beragam rubrik di dalamnya saya baca meski kadang tak paham. Untunglah kala itu ada rubrik komik dan cerpen yang lumayan menghibur.
Saya juga sering mengunjungi rumah Paman yang kebetulan tidak terlampau jauh jaraknya. Paman yang seorang guru SD memiliki koleksi ratusan majalah berbahasa Jawa "Panjebar Semangat". Maklum, beliau berlangganan majalah tersebut. Di samping itu, kadangkala Paman membawa majalah anak-anak dari sekolah. Saya pun suka sekali menikmati rubrik-rubriknya. Ada cerita lucu, kartun, cerita misteri, dan lain-lain. Kadang saya sampai lupa harus pulang kalau sudah asik membaca.
Jejalan informasi dari bacaan-bacaan yang saya dapatkan ternyata menyisakan pertanyaan. Apakah saya bisa menulis seperti mereka yang ada di dalam majalah-majalah itu? Sepertinya keren sekali kalau tulisan saya bisa muncul di majalah dan dibaca banyak orang.
Saya lantas mulai meniru cerita-cerita ringan di majalah tersebut. Saya tiru tetapi saya ubah nama tokohnya. Cerita yang berbahasa Jawa coba saya ubah ke bahasa Indonesia.
‘Hasil karya’ saya kemudian saya pamerkan ke teman-teman. Mereka ternyata cukup antusias dan menyukai 'hasil karya' saya. Saya senang sekali meskipun ada perasaan malu dalam hati karena tulisan itu bukan seratus persen karya saya.
Saya akhirnya tertantang mencoba membuat cerita sendiri. Saya buat cerita berdasarkan imajinasi sendiri. Saya menghayalkan diri ini menjadi seorang pendekar, superhero, dan seorang detektif. Hasilnya? Ternyata teman-teman tetap saja antusias dan menyukai karya saya. Saya semakin bersemangat menulis.
Satu peristiwa yang cukup berkesan terjadi ketika sekolah saya mengadakan perpisahan dan pelepasan kelas VI. Saya menjadi bagian kelas VI yang akan dilepas. Beberapa hari sebelum acara, saya memberanikan diri menyodorkan puisi bertema perpisahan karya saya kepada wali kelas. Saya ingin puisi tersebut menjadi pilihan yang dibaca saat acara pembacaan puisi. Walhasil, setelah menimbang sejenak, wali kelas akhirnya mengabulkan permohonan saya.
Puisi saya akhirnya dibacakan di atas panggung dan nama saya pun disebutkan sebagai penulisnya. Alangkah senang hati saya. Saya merasa hasil karya begitu dihargai.
Sayang sekali puisi tersebut tidak sempat saya dokumentasikan dengan baik. Kala itu puisi karya saya hanya berupa tulisan tangan. Seusai acara tidak ada yang menyimpannya sehingga raib entah ke mana.
Namun, saya akui peristiwa itu semakin melecut semangat saya untuk menulis. Saya sudah terlanjur percaya diri bahwa karya saya bisa dinikmati dan dihargai oleh orang lain.
Saat mulai memasuki SMA, saya aktif mengisi mading dan kadangkala membuat drama untuk dipentaskan di ajang pentas seni sekolah. Keaktifan saya itu bahkan membawa berkah tersendiri. Saya ditunjuk menjadi salah satu pengurus OSIS yang membidangi publikasi dan dokumentasi.
Usai lulus SMA, saya melanjutkan kuliah ke salah satu PTN di Semarang. Kegemaran menulis semakin menjadi. Saya bergabung dengan salah satu forum penulis dengannama besar di Indonesia, yaitu Forum Lingkar Pena (FLP). Pelatihan serta ajang kumpul penulis yang seringkali diadakan cukup mengasah intensitas dan ketajaman tulisan yang saya hasilkan.
            Berbagai lomba menulis saya ikuti demi mengasah kemampuan menulis. Tidak peduli lomba menulis fiksi maupun nonfiksi, setiap ada kesempatan dan saya mampu pasti saya ikuti. Saya tidak memfokuskan diri menjadi penulis salah satu genre saja. Saya ingin menjadi penulis generalis yang mampumenulis dengan genre apa saja. Urusan menang atau kalah tidak menjadi soal karena bagi saya yang penting ide yang ada di kepala bisa tersalurkan sehingga ada kepuasan batin tersendiri bagi saya.
           Ya, sebuah puisi sederhana akhirnya bisa memantik semangat saya untuk menulis dan terus menulis. Saya masih terus mencoba meningkatkan kemampuan menulis yang menurut saya pribadi masih sangat kurang. Perkembangan Iptek mau tidak mau harus diikuti agar hasil tulisan relevan dengan keadaan zaman. Saya masih memegang teguh keyakinan bahwa kemampuan menulis yang ditekuni akan membawa manfaat yang besar dalam kehidupan.

Jumat, 30 Juni 2017

Jenis Kuah Ramen Sebagai Makanan Jepang Enak di Jakarta yang Harus Diketahui

Ramen menjadi salah satu makanan khas Jepang yang banyak disukai oleh masyarakat di Indonesia karena rasanya yang enak dan menggunakan mie. Mie yang digunakan untuk membuat ramen memiliki ukuran yang kecil dan kemudian mie tersebut dicampurkan ke dalam kuah yang terbuat dari bumbu dan kaldu. Umumnya, jika di Jepang, jenis kuah miso dicampurkan dengan kaldu ayam atau babi. Namun, makanan Jepang enak di Jakarta ini, memiliki beragam jenis kuah yang wajib diketahui bagi para penggila ramen.

Pertama adalah kuah kari. Kari atau curry menjadi yang paling umum dijumpai di kedai ramen yang ada di Jepang. Kuah ramen ini memiliki rasa yang kaya akan rempah dari bumbu kari kuat dan lebih kental dibandingkan dengan jenis kuah ramen yang lainnya. Jenis kuah ini menjadi salah satu favorit bagi penggemar ramen. Jenis curry Jepang berbeda dengan curry Indonesia karena curry Jepang lebih kental dan memiliki rasa yang lebih kuat dibandingkan dengan curry Indonesia. Curry ramen ini biasanya menggunakan jenis mie yang lebih tebal.

Kedua adalah kuah miso. Miso berasal dari fermentasi rebusan kedelai dan beras yang ditambahkan dengan sedikit garam. Kuah ramen miso memiliki warna yang coklat dan kekentalan yang lebih ringan dibandingkan dengan curry. Kuah ini sering dipadukan dengan kuah kaldu ataupun jenis rempah lainnya sehingga terasa agar manis dan asin. Jenis mie yang paling cocok adalah mie tebal, kenyal dan keriting.

Jenis kuah ramen enak di Jakarta lainnya untuk makanan Jepang enak di Jakarta yang wajib diketahui oleh pencinta ramen, yaitu:

  • Kuah Chizu yang cocok bagi Anda yang suka dengan keju. Kuah ini menggunakan kuah ramen miso yang dipadukan dengan keju sehingga timbul rasa creamy dan gurih. Jenis mie yang digunakan adalah original dan yang kecil.
  • Kuah shiro yang memiliki warna putih dari kaldu miso dan soy milk susu kedelai sehingga rasanya gurih, manis dan asam segar.
  • Kuah wakame yang cocok untuk diet dari kaldu sayuran sehingga rasanya asin.
  • Shio tori paitan dengan rasa khas yang asin dari kaldu ayam yang kental.

Rabu, 14 Juni 2017

Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi 2017

Pertemuan penulis bahan bacaan literasi nasional tahap 1 usai diselenggarakan pada Selasa-Kamis, 6-8 Juni 2017. Pertemuan Para penulis se-Indonesia ini merupakan tindak lanjut hasil Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi untuk Anak SD yang diadakan oleh Badan Bahasa Kemendikbud. Sebanyak 110 penulis yang karyanya terpilih, diundang pada pertemuan tersebut.

Para peserta, pejabat Badan Bahasa, dan panitia
berfoto bersama seusai acara pembukaan.
Saya begitu bahagia mendapati kenyataan bahwa saya adalah salah satu di antara mereka. Jujur saja saya merasa minder karena banyak penulis senior yang berada di pertemuan tersebut. Ajang tersebut tidak saya sia-siakan untuk menimba ilmu dari para penulis lain, Selain, tentu saja, sebagai ajang berswafoto dengan penulis lain, he he he. 

Pertemuan hari pertama diisi dengan pembukaan dan pengarahan dari panitia. Pada acara tersebut, kepala Bidang Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bpk Gufran Ali Ibrahim dan Kepala Badan Bahasa, Prof. Dadang Sunendar, turut memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. 

Pertemuan hari kedua diisi dengan kegiatan perbaikan naskah hasil seleksi. Para penulis dibagi menjadi tiga kelas. Setiap kelas diampu oleh seorang penulis senior. Saya berada di kelas A dan kebetulan diampu oleh Bapak Ahmadun Yosi Herfanda. 



Kelas perbaikan naskah yang dipandu oleh Bapak Ahmadun Yossi Herfanda
Pada saat kelas perbaikan naskah, metode yang digunakan di kelas A adalah metode presentasi. Jadi, setiap peserta menampilkan buku yang sudah direvisinya untuk dilihat oleh pengampu. Di sinilah kami bisa saling melihat karya setiap peserta yang sangat bagus. Baik dari sisi cerita, ilustrasi, maupun layout-nya. Saya bisa banyak menimba ilmu dari sini.

Salah satu hal yang agak dikeluhkan oleh kebanyakan peserta adalah format file akhir yang dikumpulkan harus berformat indesign. keluhan itu lebih disebabkan karena sejak awal penulis sudah menata letak bukunya menggunakan program Ms. Office Word. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena banyak peserta, termasuk saya, yang belum pernah berkenalan sama sekali dengan program indesign. Saat ingin mencoba, laptop ternyata tidak support karena ukurannya yang cukup besar dan membutuhkan spesifikasi laptop yang berkapasitas lumayan. Akhirnya, menggunakan jasa pengatak (layouter) menjadi solusi terbaik.

Tampilan sampul buku saya yang terpilih.
Buku yang sudah terseleksi oleh Badan Bahasa akan diseleksi kembali oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Insyaallah bulan September akan keluar hasil seleksi tersebut. Jadi, para penulis akan dihubungi kembali kalau nanti ada hal yang perlu direvisi ulang. 

Hari ketiga diisi dengan penutupan dan penyelesaian administrasi. Saat acara penutupan, Bang Iyut Fitra dan Marhalim Zaini, penyair dari Riau, membacakan puisi mereka. Acara pun akhirnya ditutup secara resmi oleh Bapak Fairul Zabadi, Kepala Bidang Pembelajaran, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Usai sudah seluruh rangkaian acara, saatnya kami pulang ke daerah masing-masing untuk beraktifitas sesuai dengan profesi masing-masing.

Acara penutupan.
Menjadi pemenang lomba menulis sampai ke level nasional ialah pengalaman pertama bagi saya. Ini menjadi sebuah pengalaman sangat berharga. Saya masih harus banyak belajar dan belajar. Satu hal yang ingin terus saya tekuni ialah tentang menulis cerita anak. Dunia anak itu menarik, sangat menarik. Menulis cerita mempunyai tantangan tersendiri, dikatakan mudah, tidak, dibilang sulit, iya, he he he.






Foto-foto bersama teman-teman penulis.
Maaf, foto ini cuma tambahan, he he he...
(Menulis bisa membawamu naik pesawat, guys..)
Baiklah, sekian dulu cerita saya, ya. Sampai bertemu lagi di tulisan berikutnya. 


Selasa, 30 Mei 2017

MENYOAL GELIAT LITERASI DI INDONESIA

Sumber gambar: dakwatuna.com

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.  

Menurut UNESCO, pengertian literasi adalah sebagai berikut. “Literacy as the “ability to identify, understand, interpret, create, communicate and compute, using printed and written materials associated with varying contexts. Literacy involves a continuum of learning in enabling individuals to achieve their goals, to develop their knowledge and potential, and to participate fully in their community and wider society”(The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)).

Di Indonesia sendiri, fakta memprihatinkan terungkap dari pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016. Dari penelitian tersebut terungkap fakta kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara (www.jpnn.com, 13 April 2016).

Menilik dari fakta tersebut, sudah semestinya program literasi terus diupayakan secara maksimal. Pemerintah sudah mulai memberikan perhatian serius pada program-program literasi. Upaya untuk meningkatkan minat baca dan menjaga agar kegiatan literasi terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat pun terus dilakukan. 

Permendikud nomor 23 tahun 2015 yang mengharuskan para siswa membaca 15 menit sebelum memulai KBM adalah langkah revolusioner pemerintah untuk memulai kebiasaan membaca di kalangan siswa, sekaligus Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini adalah gerakan wajib baca buku sukarela di sekolah setiap hari selama minimal 15 menit. Gerakan ini dikenal dengan nama sustained silent reading. Meskipun wajib kegiatan ini termasuk bersifat rekreatif dan free voluntary reading. Berdasarkan 51 dari 54 penelitian pada program SSR ini siswa meningkat prestasinya dan semakin lama program ini dilaksanakan semakin besar pula keberhasilannya. (Krashen, S. 2007). Gerakan ini diharapkan mampu memacu dan memicu kebiasaan membaca di kalangan pelajar. 

Di tahun 2017 ini, Direktorat Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Dit. Bindiktara), Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyelenggarakan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Kampung Literasi (KL) di beberapa Kabupaten/Kota di tanah air. 

GIM yang dicanangkan pertama kali di tahun 2015 ini merupakan kegiatan membangun budaya baca masyarakat yang diselenggarakan secara lintas sektoral dengan melibatkan lembaga swasta, organisasi sosial, kemasyarakatan, keagamaan, kepemudaan, profesi, satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan nonformal, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan forum-forum yang menjadi mitra dinas pendidikan. GIM bertujuan agar masyarakat dapat memperoleh informasi dan mengakses bahan bacaan yang dibutuhkannya dan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup serta bisa menjadikannya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Menurut informasi, GIM 2017 akan diselenggarakan di 19 Kabupaten/Kota dan KL 2017 akan diselenggarakan di 34 lembaga. (http://donasibuku.kemdikbud.go.id)

Berbagai gerakan literasi juga sedang dikembangkan oleh para pegiat literasi. Berbagai upaya pun dilakukan untuk memupus kesenjangan bahan bacaan di kota besar dengan di daerah. Pemerintah pun menanggapi positif. Salah satunya dengan solusi menggratiskan biaya ongkir untuk pengiriman donasi buku melalu kantor pos. Dengan menggratiskan biaya ongkir buku, diharapkan donatur semakin bersemangat untuk mendistribusikan buku kepada TBM dan perpustakaan yang dituju. Bagaimanapun, upaya meningkatkan minat baca masyarakat perlu ditunjang dengan ketersediaan bahan bacaan yang memadai.

Dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk menyukseskan gerakan literasi ini. Salah satu yang utama adalah peran keluarga. Sebagai unit masyarakat terkecil, keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Oleh karena itu, berkaitan dengan gerakan literasi, tentunya peran keluarga harus diperkuat. 

Mewujudkan gerakan literasi dimulai dari rumah bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Perlu ditumbuhkan pondasi awal berupa kesadaran dan rasa butuh terhadap pentingnya membaca. Jika hal tersebut belum terbangun, maka akan sulit budaya literasi terwujud.

*Artikel ini dimuat di Harian Bengkulu Ekspress edisi Selasa, 30 Mei 2017.

Kamis, 18 Mei 2017

Gratis Biaya Ongkir Buku di Kantor Pos

Angin segar dihembuskan pemerintah untuk para penggiat literasi. Presiden Joko Widodo akhirnya menepati janjinya untuk menggratiskan biaya ongkos kirim buku pada hari tertentu melalui PT Pos Indonesia.

Upaya ini dilakukan demi mengurangi kesenjangan bahan bacaan masyarakat di ibukota atau kota besar dengan masyarakat di daerah. Masyarakat Indonesia sebenarnya melek dan tahu huruf, tetapi kurang membaca. Salah satu penyebabnya adalah karena pendistribusian bahan bacaan yang tidak merata. Akibatnya terjadilah kesenjangan bahan bacaan tersebut. Oleh karena itu, para penggiat literasi berusaha melakukan berbagai upaya untuk paling tidak mengurangi kesenjangan tersebut.

Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan Presiden RI, para penggiat literasi mengeluhkan persoalan-persoalan teknik yang menyulitkan. Salah satunya adalah permasalahan ongkos kirim—dikenal dengan akronim ongkir; biaya yang harus dibayarkan ketika melakukan pengiriman barang—yang begitu tinggi untuk daerah-daerah yang berusaha mereka jangkau. Kenyataannya, ongkir sebuah buku bahkan lebih tinggi dari harga buku itu sendiri.

Presiden Jokowi akhirnya menanggapi masukan yang diberikan para penggiat literasi tersebut dan memberikan satu solusi yang mudah-mudahan dapat menyelesaikan permasalahan ini. Berikut berita lengkap tentang solusi dari Presiden Jokowi yang penulis kutip dari kompas.com.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo pernah berjanji akan menggratiskan biaya pengiriman buku pada hari tertentu setiap bulannya melalui PT Pos Indonesia.
Janji itu disampaikan di depan para pegiat literasi saat bertatap muka di Istana Negara, Jakarta, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada Selasa (2/5/2017) lalu.
Pada Rabu (17/5/2017) ini, bertepatan dengan Hari Buku Nasional 2017, Presiden Jokowi menepati janjinya.
"Sesuai janji saya kepada seluruh pegiat literasi, setiap bulan kita bisa mengirimkan buku ke pelosok Tanah Air lewat kantor pos. Untuk bulan ini, (gratis) setiap tanggal 20," ujar Jokowi usai mendongeng di halaman Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.
Sementara, mulai bulan depan, pembebasan biaya pengiriman buku ke pelosok Indonesia akan berlaku setiap tanggal 17.
"Jangan terbalik ya. Bulan ini tanggal 20. Mulai bulan depan, setiap tanggal 17 gratis (mengirimkan buku melalui PT Pos Indonesia)," ujar Jokowi kembali menegaskan.
Semoga upaya pemerintah ini bisa menjadi solusi mengatasi kesenjangan bahan bacaan di Indonesia.

Ada info tambahan bahwa maksimal kiriman buku yang digratiskan adalah 10 kg. Informasi ini penulis dapatkan dari akun facebook Kang Ali Muakhir. Selengkapnya bisa dilihat di https://www.facebook.com/lineproalimuakhir/posts/1407149912661320 .

Semoga bermanfaat.

===
Sumber:

Minggu, 16 April 2017

Menakar Geliat Pasar di Bengkulu


Pasar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah (1) n tempat orang berjual beli; pekan, (2) Ek kekuatan penawaran dan permintaan, tempat penjual yang ingin menukar barang atau jasa dengan uang, dan pembeli yang ingin menukar uang dengan barang atau jasa. Pasar adalah tempat imteraksi antara penjual dan pembeli, produsen dan konsumen. 

Karena fungsinya yang mempertemukan penjual dan pembeli, pasar menjadi area penting yang seringkali menjadi barometer kondisi ekonomi suatu daerah. Ada kalanya pasar menjadi sangat ramai karena ekonomi masyarakat yang sedang bergairah, ada kalanya pasar menjadi sepi karena keadaan ekonomi juga sedang lesu. 

Apabila kita melihat pola interaksi kehidupan di pasar, sebenarnya pola interaksi di dalam pasar tidak hanya terjadi pada produsen dengan konsumen saja, tetapi terdapat pola interaksi lain. Pola interaksi ini disebut dengan eksternalitas. Eksternalitas dapat dipahami dengan dampak bagi sebuah pihak dari keputusan yang diambil oleh pihak lain. Eksternalitas terdiri dari empat macam pola dampak interaksi yaitu dampak produsen terhadap produsen lain, dampak produsen terhadap konsumen, dampak konsumen dengan konsumen lain, dan dampak konsumen dengan produsen (http://pradipta-aditya-fisip12.web.unair.ac.id/)

Interaksi tersebut bisa mengakibatkan beberapa hal seperti harga yang naik turun,komoditas tertentu yang tidak laku, dan lain sebagainya. Di sinilah peran pemerintah menjadi penting sebagai pihak yang berwenang mengintervensi kegiatan ekonomi di dalam pasar. Pemerintah berperan dalam penetapan harga tertinggi (ceiling price) dan harga terendah (floor price) di dalam pasar. Jika tidak ditetapkan bisa terjadi ketimpangan, seperti penjual bisa menentukan harga seenaknya sendiri yang mengakibatkan tidak adanya keseimbangan sehingga akan berpengaruh pada kehidupan pasar. 

Lalu bagaimana dengan di Bengkulu sendiri? Situs berita Kompas versi online edisi 23/5/2016 melansir bahwa ternyata,
80 persen perekonomian di Provinsi Bengkulu berasal dari sektor konsumsi, bukan sektor produksi. Hal ini menjadi perhatian Bank Indonesia (BI). 
Deputi Perwakilan BI di Bengkulu, Christin R Sidabutar, mengungkapkan bahwa 80 persen pertumbuhan ekonomi di Bengkulu masih ditopang oleh faktor konsumsi, bukan produksi.
"Dari 80 persen itu, sebanyak 65 persen adalah konsumsi rumah tangga. Sisanya, konsumsi pemerintah. Sektor produksi masih kecil," kata Christin, Senin (23/5/2016).
BI menilai, dengan pertumbuhan ekonomi yang didominasi oleh konsumsi menandakan perekonomian Bengkulu rapuh. 
Dari kenyataan tersebut, keberadaan pasar sebagai tempat bertransaksi menjadi sangat penting. Pun menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk lebih meningkatkan peran pasar sebagai penopang ekonomi Bengkulu. Perbaikan infrastruktur, perbaikan sistem pasar, juga menjadi PR besar pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pasar. Pasar di Bengkulu seharusnya lebih banyak menjadi tempat bertransaksi antara produsen di Bengkulu dengan konsumen di Bengkulu, bukan produsen dari luar Bengkulu saja. 

Harus diakui letak geografis Bengkulu memang kurang menguntungkan. Angka kemiskinan di Bengkulu juga masih cukup tinggi, bahkan menurut data di tahun 2016 termasuk tertinggi di Sumatra (beritasatu.com). Tantangan yang sangat berat untuk bisa mengoptimalkan pasar sebagai penopang ekonomi rakyat. 

Di Bengkulu, utamanya di Kota Bengkulu, pasar-pasar besar seperti Pasar Panorama, Pasar Minggu, dan Pasar Barukoto berperan cukup sentral dan strategis mempertemukan penjual dan pembeli dari luar maupun dalam Kota Bengkulu. Meskipun demikian, seperti yang sudah saya tulis di atas, komoditas yang dijual lebih banyak disuplai dari luar Bengkulu. Imbasnya, perputaran modal pun kembali ke luar Bengkulu. 

Baiklah, ini hanya sekadar catatan seseorang yang bukan ahli ekonomi, hehehe. Saya hanya mencoba menuliskan apa yang saya pahami, serta mencoba menyimpulkan bahan-bahan yang sudah saya baca dari berbagai media. Tulisan ini juga saya sertakan dalam tantangan #nulisserempak bertema #PasarBengkulu yang dimotori oleh blogger Bengkulu

Semoga bermanfaat.

=================
Sumber Referensi: 

Sabtu, 15 April 2017

Antara Zaffa dan Zalfa, Cerita Salah Masuk Hotel di Bintuhan

Seperti pernah saya singgung di postingan Sekilas Kisah Tur di Kaur tentang kejadian lucu di hotel. Kejadian tersebut adalah salah masuk hotel sewaktu di Bintuhan, maka seperti inilah ceritanya.

Ketika berangkat dari Bengkulu menuju Kaur, rombongan kami terpisah menjadi dua mobil. Kebetulan saat itu mobil yang saya tumpangi sudah sampai lebih dulu di Kaur, sementara mobil satunya yang ditumpangi rombongan lain termasuk ketua panitia kegiatan tiba belakangan karena ada urusan di Manna.

Nah, ketika itu, hotel sebenarnya sudah dipesan sebelumnya. kami tinggal check in. Yang kami ingat nama hotelnya adalah Zalfa. Begitu kami tiba di Bintuhan, segera kami masuk ke Hotel Zalfa. Melapor ke resepsionis, dan leyeh-leyeh beristirahat. 

Resepsionis mengatakan kalau hotel belum di-booking. Namun kami belum merasa curiga saat itu. Kami pun dipersilakan untuk menunggu sambil membuat teh atau kopi sesuai selera. Kami pun dengan santainya ngopi dan ngeteh.

Bangunan Hotel Zalfa cukup luas. Ada setidaknya 18 kamar di hotel tersebut. Terdapat juga aula yang bisa menampung 100 orang. Kami tidak bertanya lebih lanjut tentang spesifikasi hotel, kami lebih memilih beristirahat di lobby.
Hotel Zalfa tampak dari depan
Sumber gambar: kupasbengkulu.com
Tak berapa lama, rombongan kedua itu pun sampai. Mereka menuju Hotel Zalfa setelah diberitahu melalui telepon oleh salah satu teman yang ada di rombongan pertama. Betapa malunya kami ketika diberi tahu bahwa hotel yang akan ditempati adalah Hotel Zaffa. Untung, kami belum sempat menurunkan tas dan perlengkapan kami. Untung saja. Dengan menahan malu, kami pun meminta maaf pada resepsionis. Kopi dan teh yang sudah telanjur dinikmati hendak kami bayar, tetapi ditolak oleh resepsionis.

Hmmm, ternyata ada dua hotel yang hampir mirip namanya, satu bernama Zalfa, satunya lagi Zaffa. Bahkan kami sempat melihat ada papan nama hotel bernama Fa. Entah ada hubungan apa mereka, hehehe…

Kami pun check in di Hotel Zaffa. Melihat bangunannya, terlihat kalau hotel ini masih baru. Hotel ini mempunyai sekitar 20 kamar. Kisaran harga antara Rp150.000--Rp350.000 termasuk sarapan dan snack harian. 



Hotel Zaffa
Dari segi pelayanan, menurut saya hotel ini cukup baik. Sprei dan handuk diganti setiap hari, tidak hanya dibersihkan seperti di beberapa hotel lain. Ada juga fasilitas wifi yang cukup memanjakan tamu. Tamu pun bebas membuat teh atau kopi yang sudah disediakan di ruang televisi.



Akhirnya, kami tiba di hotel yang benar dan bisa beristirahat dengan nyaman. Hal ini menambah pengalaman kami, hotel di Kota Bintuhan cukup banyak dan ada yang namanya mirip-mirip. Dari sisi marketing mungkin bagus, tapi bisa juga membingungkan untuk tamu yang baru pertama kali berkunjung.

Sekilas Kisah Tur ke Kaur

Apa kabar sahabat? Semoga selalu dilimpahi kesehatan dan keberkahan. Kali ini saya ingin bercerita tentang perjalanan ke Kota Bintuhan, Kabupaten Kaur.

Hari Minggu, 9 April, saya dan rombongan dari Kantor Bahasa Bengkulu bertolak dari Bengkulu menuju Kota Bintuhan, Kab. Kaur. Kami akan mengadakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Indonesia se-Kabupaten Kaur.

Kaur adalah salah satu kabupaten di Bengkulu yang berbatasan dengan Provinsi Lampung. Kaur, nama ini cukup membekas dalam ingatan saya. Dulu, awal-awal berkunjung ke Bengkulu saya naik travel yang selalu singgah beristirahat di salah satu warung makan di wilayah Kaur. Kalau tidak salah ingat nama warung makan tersebut adalah Kaur Raya, di daerah penyimpangan. Jadi, perjalanan dinas seakan menjadi perjalanan nostalgia, napak tilas perjalanan saat pertama kali ke Bengkulu.

Perjalanan Bengkulu-Kaur kami tempuh kurang lebih selama 6 jam. Kami berangkat pukul 09.00, sampai di Bintuhan pukul 16.00. Kondisi jalan yang kadang rusak, sering memperlambat perjalanan. Semoga pemerintah yang berwenang memperhatikan hal ini.

Saya awalnya sempat berpikir akan kesulitan mendapatkan penginapan di Bintuhan. Ternyata dugaan saya salah. Banyak sekali penginapan di sana. Kami akhirnya menginap di hotel Zaffa. Ada cerita lucu tentang penginapan ini, hehehe. Cerita lucu tersebut saya posting di artikel lain mengenai hotel di Kaur.


Hotel Zaffa Kaur
Bintuhan sebagai ibukota Kabupaten Kaur cukup terkenal dengan pantai dan lautnya. Sayang sekali karena jadwal kegiatan yang padat membuat saya tidak bisa leluasa bermain di pantai. Sedih… kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore hari. 

Akhirnya saya hanya berkesempatan mengunjungi Pantai Linau, salah satu destinasi bagus di Kaur, pada malam hari. Yah, hanya bisa mendengar debur ombak dan kesiur anginnya saja. 

Pantai Linau
Sumber gambar: http://wargakaur.blogspot.co.id
Untuk mengobati kekecewaan, saya dan teman-teman mencoba kuliner yang jarang ada, yaitu sate gurita. Kami cukup penasaran seperti apa rasa sate gurita tersebut. Akhirnya, kami mampir di rumah makan Voltus dan memesan sate gurita. Ternyata, memang unik dan sangat lezat rasanya. Tentang harga juga cukup terjangkau. Satu porsi harganya di kisaran Rp30.000. Hmmm, akhirnya terobati juga rasa penasaran akan sate gurita, hehehe
Maaf tidak ada foto satenya, lupa...

Salah satu lokasi cukup menarik yang kami temui adalah lapangan Merdeka. Lokasi ini menjadi semacam alun-alun kota. Di situ ada Masjid Al Kahfi yang menjadi kebanggaan masyarakat Kaur.


Masjid al Kahfi di Lapangan Merdeka Bintuhan
Sumber gambar: http://wargakaur.blogspot.co.id
Tentang gambaran sekilas Kota Bintuhan secara umum, ini adalah kota yang cukup tenang, masih cukup sepi malah, dan cukup tertata. Fasilitas publik pun lumayan tersedia. Kota ini menjadi cukup ‘hidup’ karena dilalui jalan lintas Sumatra. 

Senin, 03 April 2017

Yuk, ikuti Unnes International Novel Writing Contest 2017.

Apa kabar temans? Masih semangat menulis? Kali ini saya ingin membagikan info sayembara menulis novel yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes). Almamater saya nih, hehe. Syarat dan ketentuannya bisa dibaca berikut ini.

Universitas Negeri Semarang menyelenggarakan sayembara penulisan novel tingkat internasioal (Unnes International Novel Writing Contest 2017). Melalui sayembara ini para penulis diharapkan dapat mengeksplorasi nilai-nilai budaya lokal untuk  menumbuhkembangkan solidaritas kemanusiaan.

KETENTUAN UMUM:
  • Mengisi formulir pada tautan daring http: unnesnovelcontest.com
  • Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah novel.
  • Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
  • Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
  • Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Melayu atau Inggris.
  • Tema: eksplorasi nilai-nilai lokal untuk kontruksi solidaritas kemanusiaan.
  • Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
KETENTUAN KHUSUS:
  • Panjang karya 40.000—100.000 kata, halaman A4, spasi 1,5, huruf  Times New Roman ukuran 12.
  • Peserta mengirimkan salinan tanda pengenal beserta naskah novel.
  • Peserta tidak perlu membubuhkan nama penulis di dalam novel.
  • Naskah dikirim melalui tautan unnesnovelcontest.com
  • Batas akhir pengiriman naskah: 11 September 2017
LAIN-LAIN:
  • Pemenang akan diumumkan dalam  Anugerah Unnes International Novel Writing Contest 2017
  • Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
  • Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
  • Pajak ditanggung pemenang.
  • Sayembara ini tertutup bagi panitia dan keluarga inti Dewan Juri.
  • Maklumat/informasi dapat diakses di tautan unnesnovelcontest.com
  • Dewan Juri terdiri atas Dr. Seno Gumira Ajidarma, Prof. Agus Nuryatin, dan Prof. Suminto A Sayuti.

HADIAH:
  1. Pemenang I    Rp.20.000.000
  2. Pemenang II    Rp.15.000.000
  3. Pemenang III    Rp.10.000.000
  4. Untuk 10 karya pilihan juri @ Rp. 2.000.000

KONTAK PANITIA:

Muhamad Burhanudin
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85743563778
Izzati
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85 727 462 643