2015-10-27

L I L I

Karya: Ahmad Khoirus Salim

“Lili, ibumu di mana?”

“Lili, ayahmu di mana?”

“Lili, asalmu dari mana?”

Pertanyaan-pertanyaan serupa terus-menerus berseliweran di benak Lili. Tanpa ampun lagi pertanyaan-pertanyaan itu mencincang hatinya. Lili pun hanya bisa terdiam seribu bahasa. Meski aneh, sungguh dia pun tak tahu apa jawaban semua pertanyaan itu. Lili hanya merasa sendiri di dunia, sendiri dalam sunyi dan sepi. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang mau menemani menemukan jawab atas pertanyaan yang terus menyerangnya.

Lili, nama yang indah bagai sekuntum bunga menawan. Lili, gadis cilik yang manis dan lugu. Dia sama sekali tak berdosa dan tak tahu apa-apa. Dia bahkan masih terlalu lugu untuk bisa tahu jawaban-jawaban tersebut.
Ada teman nakalnya yang berkata sombong, bak dukun serba tahu, Lili hanya berasal dari sebuah bungkusan di dalam kardus yang ditemukan tergeletak di emperan rumah Nekno Leha, sapaan untuk orang tua baik hati yang kini mengasuhnya. Lili hanya mengangguk tak mengerti.
Ada teman yang berapi-api berkata, dia berasal dari sepasang sejoli tanpa ikatan yang mabuk kasmaran, lalu dia ditinggalkan begitu saja dan diasuh Nekno Leha karena sepasang sejoli itu diusir dari kampung. Lili lagi-lagi mengamini. Lili tak pernah ambil pusing. Orang-orang itu begitu pintar menghakimi, sedangkan dirinya adalah tertuduh yang tak pernah punya saksi.
#

Ramadhan kali ini, Lili sudah berlatih berpuasa sehari penuh. Nekno mengajarinya dengan sabar. Tahun lalu ia hanya berpuasa setengah hari. Ia sudah semakin besar dan mengerti bahwa puasa adalah salah satu kewajiban dari Tuhan.
Ia sudah semakin tumbuh dan banyak belajar. Seperti Ramadhan kali ini, ia bertambah rajin mengaji seperti anak-anak lain sebayanya. Ia akhirnya tahu dari Pak Ustadz, Ramadhan adalah bulan tanpa kebohongan. Setan dibelenggu hingga tak ada celah berbuat jahat. Sebaliknya, Lili ingin segera mengakhiri belenggu pertanyaan yang mengekang hidupnya. Lili semakin bertekad mencari jawaban.

Ingin dimintanya jawaban itu dari Nekno Leha. Nekno tak mungkin berbohong.

Nekno hanya tersenyum mendengar pertanyaan Lili, dikiranya Lili tak pernah sungguh-sungguh menanyakan hal itu. Lili masih teramat kecil dalam persepsinya sebagai manusia, lebih-lebih manusia yang paham lika-liku hidup. Di matanya, sosok Lili tak lebih seraut bayang-bayang yang mesti dikasihani, dipelihara, dan diasuh dengan kasih sayang. Akan terasa nista bila Lili sampai ia telantarkan, meski Lili bukan siapa-siapanya. Perasaan nista itu akan terbawa sampai mati. Demikianlah, akhirnya dielusnya Lili dengan segenap kemurnian jiwa keibuannya.

“Orang tuamu? Bapak ibumu jauuuh nian dari sini, Nak.”
“Ayolah, Nek, tunjukkan… Aku ingin lihat”
“Kamu masih terlalu kecil Lili, nanti saja kalau sudah besar, ya?”
“Lili sudah besar Nek, Lili sudah besar. Kan, Lili sudah puasa sehari penuh.”
“Orang tuamu pergi demi kau, Lili. Mereka akan sangat sedih jika kau nakal, merengek ingin selalu bertemu mereka.”
“Kenapa mereka sedih?”

Nekno tak jua menjawab, malah pergi menyibukkan diri di dapur, sepertinya menyiapkan hidangan berbuka. Semerbak harum tempoyak menyeruap dari dapur.

Lili tertunduk lesu. Nekno yang sangat diharapkannya pun tak mampu menjawab. Lili sedikit kecewa. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berdengung di kedua gendang telinganya, bergema di hati. Tetapi, seperti dikatakan Nekno tadi, dirinya masih terlalu kecil, jauh dari cukup untuk bisa tahu misteri ini.

Lili masih tak lelah mencari jawab. Semangatnya tak patah meski perlahan coba dipadamkan  Nekno. Dia yakin setiap pertanyaan mestilah ada jawabnya, meski nanti tak memuaskan. Jika sampai jawaban itu tak ia dapatkan, selamanya dirinya akan didera keingintahuan nan menyesakkan.
##

“Kau tetap ingin bertemu orang tuamu, Lili?”
Pertanyaan Nekno Leha menyentak Lili. Benarkah Nekno akan mempertemukannya dengan ayah ibunya?  Cepat Lili mengangguk. Saat ini hari masih cukup siang. Hari-hari terakhir Ramadhan, dua hari lagi menjelang Idul Fitri.

Lili hanya tertegun ketika Nekno menunjukkan padanya dua pusara. Dua pusara dari batu yang sudah kusam.

“Berdoalah untuk mereka, Lili. Doakan mereka agar tenang dalam istirahat panjang. Mereka selalu berpesan agar kau tak perlu bersedih. Tapi, sudah saatnya kau tahu. Malaria merenggut keduanya.”

Ramadhan kali ini akhirnya memunculkan jawaban untuk Lili. Ramadhan kali ini muncul pula titik kesadarannya. Ada satu hal yang ia pedomani, ia telah bersama orang yang menyayanginya. Ia sesungguhnya tak sendiri.

Elusan lembut Nekno menyapu punggungnya dari beban berat. Lili kembali tersenyum. Tak mungkin ia menyia-nyiakan kasih sayang tulus seseorang yang telah jauh melebihi kedua orang tuanya. Lili menyambut hangat tangan Nekno dan memeluknya. Nyaman sekali. Air mata keduanya sudah cukup mewakili jutaan ungkapan sayang yang kadang tak terucapkan.

Kumandang Ashar menyadarkan keduanya. Panggilan Allah yang merdu dan syahdu menenangkan hati. Lili terbuai, Allah sungguh menyayanginya. Allah memberi kesempatan pada Lili untuk berbakti, paling tidak pada Nekno Leha yang sangat ia kasihi.

Ramadhan tahun ini, menggugah kesadaran Lili. Ia tak sepatutnya terlalu menuntut jawab. Lili tahu pasti, semua manusia ada asal-muasalnya. Selama ini, dia hanya ingin menjadi seseorang seperti yang lainnya, berayah dan beribu.

*Cerpen ini pernah dimuat di Harian Bengkulu Ekspress Edisi 8 Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

~ Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar di sini. Komentar Anda sangat berharga bagi saya. Jangan ada spam, SARA, pornografi, dan ungkapan kebencian. Semoga bermanfaat. ~