Pentingnya pembinaan ini menjadi kian krusial saat kita menoleh ke wilayah pedesaan. Di desa, tantangan literasi jauh lebih kompleks dibandingkan di perkotaan. Kesenjangan akses terhadap informasi, keterbatasan bahan bacaan bermutu, hingga minimnya fasilitas pendukung membuat komunitas literasi —seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM)— menjadi satu-satunya oase bagi haus intelektual warga. Namun, mendirikan TBM jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Di sinilah peran pendampingan masuk untuk memastikan "nyala" itu tidak lekas padam.
Argumen pertama mengapa pembinaan itu penting adalah demi keberlanjutan (sustainability). Banyak komunitas literasi di desa lahir dari semangat kolektif yang menggebu, namun perlahan layu karena kehilangan arah atau kehabisan ide program. Melalui pembinaan yang dilakukan oleh lembaga kompeten seperti Balai Bahasa, juga pihak lain yang memiliki kapasitas, para penggerak literasi dibekali dengan kemampuan manajerial, strategi pengelolaan koleksi, hingga cara mengemas kegiatan yang menarik minat generasi muda. Pembinaan mengubah gerakan yang tadinya bersifat sporadis menjadi gerakan yang sistematis dan berjangka panjang.
Kedua, pendampingan berfungsi sebagai jembatan jaringan. Komunitas literasi di desa sering kali merasa berjuang sendirian di tengah keterbatasan. Dengan adanya pembinaan, mereka dipertemukan dengan sesama penggiat, pakar, dan pemerintah. Jalinan relasi ini memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan kolaborasi lintas daerah. Ketika seorang pengelola TBM di sudut desa merasa didukung dan diakui oleh negara, motivasi mereka akan berlipat ganda. Pengakuan ini adalah "bahan bakar" emosional yang tak ternilai harganya.
Ketiga, pembinaan mendorong literasi yang kontekstual dan fungsional. Literasi di pedesaan tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan membaca fiksi. Melalui pendampingan, komunitas diarahkan untuk mengembangkan literasi berbasis potensi lokal—misalnya literasi keuangan bagi petani atau literasi digital bagi perajin desa. Pembinaan membantu komunitas memetakan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, sehingga kehadiran taman bacaan benar-benar memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata.
Sebagai penutup, langkah membina komunitas literasi adalah sebuah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menjaga asa literasi, terutama di pedesaan bukan hanya tugas para aktivis lokal, melainkan tanggung jawab kolektif. Tanpa pendampingan yang kuat, komunitas literasi hanyalah deretan rak buku yang berdebu. Namun, dengan pembinaan yang hangat dan berkelanjutan, komunitas-komunitas ini akan menjadi motor penggerak perubahan yang mampu membawa masyarakat desa melompat melampaui keterbatasan mereka. Mari kita pastikan pelita literasi di pelosok negeri tetap menyala, terang, dan menginspirasi.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
~ Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar di sini. Komentar Anda sangat berharga bagi saya. Jangan ada spam, menyinggung SARA, pornografi, dan ungkapan kebencian. Semoga bermanfaat. ~