Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan

2026-01-20

Tantangan dan Solusi Komunitas Literasi di Perkotaan

1/20/2026 10:27:00 AM 0

 Kota besar sering kali dianggap sebagai pusat peradaban dan pendidikan. Namun, di balik gedung-gedung pencakar langit dan akses internet yang melimpah, mengelola komunitas literasi di perkotaan justru memiliki tantangan yang unik dan kompleks. Literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan upaya menjaga kedalaman berpikir di tengah arus informasi yang serba cepat dan dangkal.

Sekelompok anak muda sedang berdiskusi santai sambil membaca buku di sebuah kafe perkotaan yang modern

 

Tantangan Utama di Tengah Modernitas

Mengelola komunitas literasi di kota besar bukanlah perkara mudah. Pengelola biasanya berhadapan dengan tiga tembok besar sebagai berikut.


Krisis Waktu dan Mobilitas

Warga kota terjebak dalam ritme kerja yang padat dan kemacetan yang menguras energi. Membaca buku sering kali dianggap sebagai kegiatan mewah yang membutuhkan waktu luang yang tidak mereka miliki.

 

Dominasi Distraksi Digital

Di kota, akses hiburan instan sangat melimpah. Bersaing dengan algoritma media sosial atau layanan streaming menjadi tantangan berat bagi penggerak literasi untuk menarik minat anggota baru.

 

Keterbatasan Ruang Publik yang Terjangkau

Mencari tempat berkumpul yang tenang namun strategis sering kali terkendala biaya sewa yang tinggi. Banyak komunitas yang terpaksa berpindah-pindah tempat karena tidak memiliki markas tetap.

 

Contoh Pengelolaan: Dari Taman hingga Kafe

Untuk memahami cara kerja komunitas ini, mari kita lihat dua model pengelolaan yang sering ditemui.

 

Model "Silent Book Club"

Komunitas ini biasanya tidak mewajibkan semua orang membaca buku yang sama. Anggota berkumpul di sebuah kafe, membaca buku pilihan masing-masing dalam diam selama satu jam, lalu berbagi kesan singkat setelahnya. Ini sangat cocok untuk warga kota yang introvert namun butuh koneksi sosial.

 

Model Lapak Baca Gratis

Sering ditemukan di Car Free Day (CFD) atau taman kota. Pengelola membawa koleksi buku menggunakan motor atau troli, lalu menghampiri massa. Ini adalah upaya menjemput bola demi mendekatkan buku ke masyarakat yang jarang ke perpustakaan.

 

Koleksi buku yang ditata rapi di taman kota sebagai bagian dari kegiatan komunitas literasi gratis
Foto oleh Alwi Hafizh Al Mumtaz: https://www.pexels.com/id-id/foto/buku-buku-pustaka-perpustakaan-rak-kayu-4840994/

 

Solusi Strategis bagi Pengelola

Agar komunitas tetap relevan dan berkelanjutan, diperlukan pendekatan yang lebih kreatif dan adaptif. Mari kita bahas berikut ini.

1. Integrasi Gaya Hidup (Lifestyle Integration)

Literasi tidak boleh terlihat kaku. Solusinya adalah mengaitkan literasi dengan tren perkotaan. Misalnya, mengadakan diskusi buku yang digabung dengan sesi menyeduh kopi atau lokakarya menulis kreatif yang instagramable. Ketika literasi menjadi bagian dari gaya hidup, orang akan lebih tertarik untuk terlibat.


2. Pemanfaatan Platform Hybrid

Jangan melawan digitalisasi, tapi manfaatkanlah. Pengelola bisa menggunakan aplikasi pesan untuk diskusi rutin dan media sosial untuk membagikan ulasan buku singkat. Pertemuan fisik (offline) cukup dilakukan sebulan sekali sebagai ajang silaturahmi yang lebih dalam.


3. Kolaborasi dengan Pihak Ketiga

Mengatasi kendala biaya tempat, komunitas dapat bekerja sama dengan pemilik kedai kopi atau coworking space. Skemanya bisa berupa promosi tempat mereka sebagai imbalan atas izin penggunaan ruang secara gratis di jam-jam sepi pengunjung.


4. Gamifikasi Literasi

Gunakan elemen permainan untuk meningkatkan keterlibatan. Misalnya, buatlah tantangan membaca (misalnya: 30 Days Reading Challenge) dengan poin atau penghargaan kecil bagi anggota yang paling konsisten. Hal ini memberikan rasa pencapaian bagi warga kota yang kompetitif.

 

Mengelola komunitas literasi di perkotaan memang menantang, namun dampaknya sangat krusial sebagai penyeimbang kesehatan mental dan intelektual masyarakat kota. Dengan mengubah pendekatan dari "instruksi" menjadi "interaksi" dan memadukan literasi ke dalam gaya hidup modern, komunitas akan mampu bertahan dan terus tumbuh.


Literasi di kota besar bukanlah tentang berapa banyak buku yang dilalap, melainkan tentang membangun ruang aman untuk berpikir jernih di tengah kebisingan kota.

2026-01-13

Mengapa Pembinaan Komunitas Literasi Penting Dilakukan

1/13/2026 09:59:00 AM 0
Literasi sering kali disalahpahami hanya sebatas kemampuan mengeja huruf atau merangkai kalimat. Padahal, di balik itu, literasi adalah fondasi dari kemajuan peradaban dan kunci kesejahteraan sosial. Semangat literasi di akar rumput membutuhkan lebih dari sekadar tumpukan buku. Ia juga membutuhkan pendampingan yang konsisten dan pembinaan yang terarah.

Pentingnya pembinaan ini menjadi kian krusial saat kita menoleh ke wilayah pedesaan. Di desa, tantangan literasi jauh lebih kompleks dibandingkan di perkotaan. Kesenjangan akses terhadap informasi, keterbatasan bahan bacaan bermutu, hingga minimnya fasilitas pendukung membuat komunitas literasi —seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM)— menjadi satu-satunya oase bagi haus intelektual warga. Namun, mendirikan TBM jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Di sinilah peran pendampingan masuk untuk memastikan "nyala" itu tidak lekas padam.


Kegiatan pembinaan komunitas literasi di pedesaan.


Argumen pertama mengapa pembinaan itu penting adalah demi keberlanjutan (sustainability). Banyak komunitas literasi di desa lahir dari semangat kolektif yang menggebu, namun perlahan layu karena kehilangan arah atau kehabisan ide program. Melalui pembinaan yang dilakukan oleh lembaga kompeten seperti Balai Bahasa, juga pihak lain yang memiliki kapasitas, para penggerak literasi dibekali dengan kemampuan manajerial, strategi pengelolaan koleksi, hingga cara mengemas kegiatan yang menarik minat generasi muda. Pembinaan mengubah gerakan yang tadinya bersifat sporadis menjadi gerakan yang sistematis dan berjangka panjang.

Kedua, pendampingan berfungsi sebagai jembatan jaringan. Komunitas literasi di desa sering kali merasa berjuang sendirian di tengah keterbatasan. Dengan adanya pembinaan, mereka dipertemukan dengan sesama penggiat, pakar, dan pemerintah. Jalinan relasi ini memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan kolaborasi lintas daerah. Ketika seorang pengelola TBM di sudut desa merasa didukung dan diakui oleh negara, motivasi mereka akan berlipat ganda. Pengakuan ini adalah "bahan bakar" emosional yang tak ternilai harganya.

Ketiga, pembinaan mendorong literasi yang kontekstual dan fungsional. Literasi di pedesaan tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan membaca fiksi. Melalui pendampingan, komunitas diarahkan untuk mengembangkan literasi berbasis potensi lokal—misalnya literasi keuangan bagi petani atau literasi digital bagi perajin desa. Pembinaan membantu komunitas memetakan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, sehingga kehadiran taman bacaan benar-benar memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata.

Sebagai penutup, langkah membina komunitas literasi adalah sebuah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menjaga asa literasi, terutama di pedesaan bukan hanya tugas para aktivis lokal, melainkan tanggung jawab kolektif. Tanpa pendampingan yang kuat, komunitas literasi hanyalah deretan rak buku yang berdebu. Namun, dengan pembinaan yang hangat dan berkelanjutan, komunitas-komunitas ini akan menjadi motor penggerak perubahan yang mampu membawa masyarakat desa melompat melampaui keterbatasan mereka. Mari kita pastikan pelita literasi di pelosok negeri tetap menyala, terang, dan menginspirasi.

Bagaimana kondisi literasi di daerah Anda? Apakah sudah ada komunitas yang aktif bergerak? Bagikan cerita Anda di kolom komentar!

2026-01-10

Kenalan sama "Penjaring", Portal Keren dari Kemendikdasmen buat Kamu yang Hobi Baca & Terjemahin Buku

1/10/2026 08:14:00 AM 0

Pernah gak sih kamu lagi asyik cari referensi tugas, atau pengen baca buku cerita seru, tapi terhambat gara-gara bahasanya asing banget? Atau buat Bapak/Ibu Guru, sering bingung cari bahan bacaan anak yang berkualitas dan multibahasa untuk murid-murid di kelas?

Tenang, sekarang ada solusinya! Kenalin nih, Penjaring (Penerjemahan Daring), sebuah platform kece dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen. Lewat situs penerjemahan.kemendikdasmen.go.id, dunia literasi jadi cuma sejauh klik doang.

Tampilan website Penjaring Kemendikdasmen untuk literasi digital

Yuk, kita bedah kenapa website ini wajib masuk ke bookmark browser kamu!

1. Rak Buku Digital yang "Gak Kaleng-Kaleng"

Di fitur Baca Buku, kamu bakal nemuin ribuan koleksi buku cerita anak yang visualnya gemesin banget. Gak cuma bahasa Indonesia, buku-buku di sini hasil kerja sama dengan mitra internasional seperti StoryWeaver dan Let’s Read.

Buat Remaja & Dewasa Muda: Ini tempat pas banget buat kamu yang mau asah kemampuan bahasa asing secara santai. Baca buku cerita anak dalam bahasa Inggris atau bahasa daerah bisa jadi cara healing yang produktif!

Buat Bapak/Ibu Guru SD: Website ini adalah "harta karun". Anda bisa mendapatkan bahan bacaan literasi yang sudah terkurasi untuk mendukung Gerakan Literasi Nasional. Gambarnya menarik, bahasanya mudah dipahami, dan yang terpenting: aksesnya GRATIS!

2. Bisa Ikutan Jadi Penerjemah, Lho!

Punya skill bahasa asing tapi bingung mau disalurin ke mana? Di fitur Terjemahkan, kamu bisa berkontribusi langsung. Penjaring menyediakan ruang bagi masyarakat untuk ikut menerjemahkan buku cerita anak.

Ini kesempatan emas buat mahasiswa atau dewasa muda yang mau bangun portofolio sebagai penerjemah. Bayangin, nama kamu bisa berkontribusi dalam memperkaya literasi anak bangsa!

3. Fitur "Inventaris" yang Super Lengkap

Buat yang suka riset atau butuh data dokumen, fitur Inventaris di laman ini menyediakan basis data hasil terjemahan yang sudah pernah dilakukan oleh Badan Bahasa. Mulai dari karya sastra sampai dokumen pendidikan, semuanya tertata rapi. Gak perlu lagi ugal-ugalan cari referensi di situs yang gak jelas sumbernya.

Kenapa Harus Akses Penjaring Sekarang?

  • Legal & Terpercaya: Semua konten di sini resmi dari Kemendikdasmen. Gak perlu takut kena masalah hak cipta.

  • User Friendly: Tampilan websitenya bersih dan gak bikin pusing, bahkan buat adik-adik SD sekalipun.

  • Mendukung Bahasa Daerah: Penjaring juga fokus pada pelestarian bahasa daerah, jadi kita gak bakal lupa sama akar budaya sendiri.

Literasi Tanpa Batas!

Zaman sekarang, bahasa bukan lagi penghalang. Lewat Penjaring, Kemendikdasmen ngasih kita pintu buat menjelajahi dunia lewat buku. Jadi, entah kamu seorang siswa yang lagi cari bacaan seru, mahasiswa yang mau coba jadi penerjemah, atau guru SD yang pengen kelasnya lebih berwarna, langsung aja meluncur ke penerjemahan.kemendikdasmen.go.id.

Jangan lupa share artikel ini ke temen-temen atau grup WhatsApp guru kalian, ya! Mari kita buat literasi Indonesia makin keren!


2026-01-09

Membaca Tanpa Batas: Menjelajahi Dunia Literasi dalam Genggaman Lewat SIBI

1/09/2026 10:32:00 AM 0



Pernahkah Anda membayangkan memiliki akses ke ribuan buku berkualitas tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam atau pergi ke toko buku yang jauh? Di era digital yang serba cepat ini, mimpi tersebut bukan lagi sekadar angan-angan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menghadirkan sebuah "harta karun" digital bernama Sistem Informasi Perbukuan Indonesia atau yang lebih dikenal dengan SIBI. Melalui laman buku.kemendikdasmen.go.id, jendela dunia kini benar-benar berada dalam genggaman kita.


Menjawab Tantangan Pendidikan Modern

Pendidikan yang berkualitas berawal dari akses literasi yang setara. Namun, kita tahu tantangan geografis dan ekonomi seringkali menjadi penghalang bagi siswa, guru, atau orang tua untuk mendapatkan buku teks maupun buku bacaan yang bermutu. SIBI hadir sebagai solusi cerdas atas tantangan tersebut. Platform ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap anak bangsa, dari Sabang sampai Merauke, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dengan materi yang standar, mutakhir, dan tentu saja, legal. SIBI bukan sekadar situs penyimpanan file, melainkan ekosistem perbukuan digital yang mendukung penuh implementasi Kurikulum Merdeka dan semangat literasi nasional.


Lebih dari Sekadar Buku Teks
Apa yang membuat SIBI begitu istimewa dan layak Anda kunjungi sekarang juga? Berikut adalah beberapa fitur unggulannya:

Koleksi Super Lengkap dan Gratis: Di sini, Anda bisa mengunduh buku teks pelajaran mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK. Tidak hanya Kurikulum Merdeka, koleksi Kurikulum 2013 pun masih tersedia lengkap. Semuanya bisa diakses secara cuma-cuma!


Buku Non-Teks yang Mengasyikkan: Belajar tidak harus selalu kaku. SIBI menyediakan ribuan buku non-teks, mulai dari cerita bergambar yang penuh warna, komik edukatif, hingga novel remaja yang menginspirasi. Ini adalah surga bagi anak-anak untuk menumbuhkan minat baca sejak dini.


Inklusivitas Tanpa Batas: Inilah yang paling membanggakan. SIBI sangat ramah bagi penyandang disabilitas. Tersedia buku dalam format audio untuk tuna netra, serta buku dengan bahasa isyarat untuk teman tuli. SIBI memastikan bahwa "Merdeka Belajar" benar-benar dirasakan oleh semua orang.


Format Interaktif dan Multimedia: Beberapa koleksi hadir dalam bentuk buku digital interaktif yang membuat kegiatan membaca menjadi pengalaman multimedia yang seru, sehingga anak-anak tidak mudah bosan.


Mari Menjadi Generasi Literat!

Investasi terbaik untuk masa depan adalah ilmu pengetahuan, dan buku adalah kendaraannya. Kehadiran SIBI adalah undangan terbuka bagi kita semua—para orang tua yang ingin mendampingi anak belajar, para guru yang membutuhkan referensi mengajar kreatif, hingga siswa yang haus akan informasi baru.

Jangan biarkan kemudahan ini berlalu begitu saja. Mari manfaatkan layanan luar biasa dari Kemendikdasmen ini sebagai modal untuk bertumbuh. Segera berselancar di
buku.kemendikdasmen.go.id, pilih buku favorit Anda, dan rasakan sensasi petualangan literasi yang tak terbatas. Karena dengan membaca, kita tidak hanya mengenal dunia, tapi kita sedang bersiap untuk menggenggamnya. Ayo membaca, ayo cerdas bersama SIBI!


2026-01-08

Menjelajahi Jendela Dunia Melalui Ruang Bahasa: Saatnya Literasi Tanpa Batas!

1/08/2026 09:37:00 AM 0

 Pernahkah Anda merasa ragu saat ingin menuliskan kata baku, atau sekadar ingin tahu seberapa mahir kemampuan berbahasa Indonesia Anda? Di era digital yang serba cepat ini, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan kunci pembuka cakrawala informasi. Kabar baiknya, kini hadir Ruang Bahasa dalam ekosistem Rumah Pendidikan, sebuah platform digital terpadu dari Kemendikdasmen yang siap menjadi sahabat setia literasi Anda.


Latar Belakang: Mengapa Ruang Bahasa Hadir?

Selama ini, banyak layanan kebahasaan kita tersebar di berbagai situs yang berbeda. Terkadang kita harus berpindah-pindah tab hanya untuk mencari arti kata di kamus atau mendaftar uji kemahiran bahasa. Menyadari hal tersebut, pemerintah meluncurkan Ruang Bahasa sebagai bagian dari transformasi digital pendidikan. Tujuannya sederhana namun mulia: mengintegrasikan seluruh layanan kebahasaan ke dalam satu pintu agar masyarakat, mulai dari pelajar, guru, hingga pegiat literasi, dapat mengaksesnya dengan lebih mudah, cepat, dan transparan.


Hal-hal Menarik yang Sayang untuk Dilewatkan

Ruang Bahasa bukan sekadar kumpulan tautan biasa. Di dalamnya, Anda akan menemukan "harta karun" literasi yang sangat fungsional:

1.  

    Portal KBBI Daring yang Canggih: Lupakan kamus fisik yang tebal. Di sini, portal Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tersedia secara instan. Mencari ejaan yang benar atau makna kata yang arkais kini semudah menggerakkan jari.

2.  

    Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI): Ingin tahu level kemahiran bahasa Anda? Layanan UKBI kini hadir lebih dekat. Ini adalah standar resmi yang setara dengan tes kemahiran bahasa internasional lainnya, sangat berguna bagi profesional maupun akademisi.

3.   

      Penerjemahan Daring: Komunikasi lintas bahasa kini tidak lagi menjadi kendala. Melalui akses produk penerjemahan Badan Bahasa, Anda bisa mendapatkan rujukan terjemahan yang akurat dan sesuai kaidah.

4.   

    BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing): Layanan ini membuktikan bahwa bahasa kita sedang mendunia. Ruang Bahasa menyediakan sarana belajar bagi warga asing yang ingin mendalami bahasa dan budaya Indonesia secara daring.


Penutup: Mari Menjadi Bagian dari Perubahan!

Bahasa yang terjaga adalah cermin bangsa yang berwibawa. Dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh Ruang Bahasa, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk abai terhadap kualitas literasi. Layanan ini dapat diakses secara bebas tanpa perlu proses login yang rumit, menjadikannya sangat ramah bagi siapa saja.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita manfaatkan fasilitas luar biasa ini. Segera kunjungi rumah.pendidikan.go.id/ruang/bahasa dan rasakan sendiri bagaimana kemudahan teknologi dapat meningkatkan kualitas diri Anda. Mari kita cintai, gunakan, dan lestarikan bahasa Indonesia dengan cara yang lebih modern dan inspiratif!

 


2025-07-22

Mau Tahu Komunitas Literasi di Jogja? Baca Buku "Meniti Jejak"!

7/22/2025 09:57:00 AM 0


Buat kamu yang ngaku anak literasi atau sekadar penasaran dengan denyut pergerakan literasi di Yogyakarta, buku Meniti Jejak: Kumpulan Profil Komunitas Literasi di Daerah Istimewa Yogyakarta ini bisa jadi pintu masuk yang asyik. Diterbitkan oleh Balai Bahasa DIY, buku ini ibarat sebuah album foto yang merekam jejak langkah berbagai komunitas literasi di penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta.

Alih-alih menyajikan teori literasi yang njelimet, Meniti Jejak langsung tancap gas mengenalkan kita pada para pejuang literasi di lapangan. Mulai dari komunitas yang fokus pada anak-anak, pegiat sastra, hingga kelompok diskusi buku, semuanya terekam di sini. Kita diajak untuk kenalan lebih dekat dengan siapa saja mereka, apa yang mereka kerjakan, dan bagaimana mereka berjuang menyalakan api literasi di lingkungan masing-masing.

Menurut hemat penulis, keunggulan utama buku ini adalah perannya sebagai direktori dan sumber inspirasi. Buat kamu yang mungkin ingin gabung komunitas atau malah mau bikin gerakan literasi sendiri, buku ini menyajikan banyak contoh nyata. Dari sisi visual, buku ini cukup menarik dengan tata letak yang bersih dan penggunaan foto-foto komunitas yang memberikan gambaran langsung tentang aktivitas mereka. Pemilihan font juga nyaman dibaca, mendukung pengalaman membaca yang menyenangkan. Bahasanya juga tidak kaku, lebih mirip laporan jurnalistik yang ringan dan mudah dicerna, sehingga pembaca tidak akan bosan.

Sayangnya, karena sifatnya yang berupa profil singkat, kita tidak akan mendapatkan analisis yang mendalam tentang tantangan atau strategi pengembangan komunitas-komunitas tersebut. Pembahasan di setiap profil terasa agak di permukaan. Dari sisi grafis, meskipun tata letaknya rapi, kualitas beberapa foto tampak kurang maksimal, mungkin karena keterbatasan dokumentasi saat itu. Selain itu, desain sampulnya menurut saya kurang Eye-catching bagi target pembaca remaja dan dewasa muda. Akan lebih menarik jika desain sampulnya lebih segar dan modern. Selain itu, karena beberapa data diambil tahun 2022, mungkin ada beberapa informasi yang sudah perlu diperbarui, mengingat dinamika komunitas yang bisa berubah dengan cepat.

Secara keseluruhan, Meniti Jejak adalah bacaan penting bagi siapa pun yang tertarik dengan dunia literasi di Yogyakarta. Buku ini berhasil memetakan ekosistem literasi yang hidup dan beragam, sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat literasi terus menyala berkat kerja keras para pegiat di akar rumput.

  





2024-10-24

Peran Keluarga dalam Meningkatkan Literasi Anak: Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini

10/24/2024 10:38:00 AM 0


Literasi, kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi, merupakan fondasi penting dalam perkembangan anak. Keluarga memiliki peran yang sangat krusial dalam menanamkan minat baca sejak dini. Dengan menciptakan lingkungan yang kondusif dan memberikan stimulasi yang tepat, orang tua dapat membantu anak-anak mereka tumbuh menjadi individu yang cerdas dan berpengetahuan luas.


Mengapa Membaca Penting untuk Anak?

Membaca tidak hanya sekadar memperoleh informasi. Kegiatan ini juga merangsang perkembangan otak, meningkatkan kosakata, mengembangkan imajinasi, dan melatih kemampuan berpikir kritis. Selain itu, membaca juga dapat menjadi sarana yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.


Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Minat Baca

  1. Jadikan Membaca Kebiasaan Sehari-hari:

    • Contoh: Bacakan dongeng sebelum tidur, bersama-sama membaca koran atau majalah saat sarapan, atau mengunjungi perpustakaan di akhir pekan.
  2. Sediakan Lingkungan yang Mendukung:

    • Contoh: Lengkapi rumah dengan berbagai jenis buku bacaan yang sesuai dengan usia dan minat anak, buat sudut baca yang nyaman, dan sering membawa anak ke toko buku.
  3. Jadilah Teladan:

    • Contoh: Tunjukkan pada anak bahwa Anda sendiri senang membaca. Ketika anak melihat orang tua mereka menikmati membaca, mereka akan lebih termotivasi untuk mengikuti.
  4. Libatkan Anak dalam Pemilihan Buku:

    • Contoh: Ajak anak ke toko buku dan biarkan mereka memilih buku yang mereka suka. Dengan begitu, mereka akan merasa memiliki buku tersebut dan lebih bersemangat untuk membacanya.
  5. Diskusikan Isi Buku:

    • Contoh: Setelah selesai membaca, ajak anak untuk berdiskusi tentang isi buku. Tanyakan pendapat mereka, hubungkan cerita dalam buku dengan kehidupan sehari-hari, atau ajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang merangsang pemikiran kritis.
  6. Manfaatkan Teknologi:

    • Contoh: Manfaatkan e-book, aplikasi membaca, atau audio book untuk memperkaya pengalaman membaca anak.


Tips Tambahan untuk Menumbuhkan Minat Baca

  • Buat Membaca Menjadi Kegiatan yang Menyenangkan:
    • Contoh: Gabungkan membaca dengan aktivitas lain yang disukai anak, seperti menggambar, mewarnai, atau bermain peran.
  • Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Menarik:
    • Contoh: Sesuaikan bahasa yang digunakan dengan usia dan tingkat pemahaman anak.
  • Berikan Pujian dan Dorongan:
    • Contoh: Pujilah setiap usaha anak dalam membaca, meskipun awalnya mereka masih kesulitan.
  • Ikut Serta dalam Kegiatan Literasi di Sekolah atau Komunitas:
    • Contoh: Libatkan anak dalam kegiatan perpustakaan sekolah, klub buku, atau acara literasi lainnya.


Membaca adalah hadiah berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka. Dengan memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan yang kondusif, orang tua dapat menumbuhkan minat baca pada anak sejak dini. Ingatlah, kebiasaan membaca yang baik akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perkembangan anak, baik dari segi kognitif, sosial, maupun emosional. 


2024-07-31

Komunitas Literasi: Ruang Inspirasi dan Kreasi

7/31/2024 08:52:00 AM 0

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh dengan teknologi, menemukan tempat untuk mengejar minat pada membaca dan menulis bisa menjadi tantangan. Bagi remaja dan dewasa muda, komunitas literasi menawarkan oasis di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Komunitas ini tidak hanya menjadi tempat untuk mengeksplorasi dunia buku, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, membangun koneksi, dan menemukan inspirasi baru. 


Komunitas literasi adalah kelompok orang yang memiliki kecintaan terhadap membaca, menulis, dan berbagi pengetahuan. Mereka berkumpul untuk mengadakan diskusi buku, lokakarya menulis, dan berbagai kegiatan literasi lainnya. Dengan bergabung dalam komunitas ini, Anda bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama, saling mendukung, dan menginspirasi satu sama lain. Komunitas literasi menjadi tempat di mana Anda bisa memperdalam pengetahuan dan mendapatkan perspektif baru.


Menjelajahi Dunia Buku


Salah satu manfaat utama dari bergabung dengan komunitas literasi adalah kesempatan untuk mengeksplorasi dunia buku dengan cara yang lebih mendalam. Diskusi buku yang diadakan secara rutin memungkinkan Anda untuk melihat berbagai perspektif dan interpretasi dari sebuah cerita. Tidak hanya sekadar membaca, tetapi Anda juga dapat memahami lebih dalam tentang karakter, plot, dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Melalui komunitas literasi, setiap buku menjadi jembatan untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan orang lain.


Mengembangkan Keterampilan Menulis


Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk mengekspresikan diri, tetapi seringkali bisa menjadi tantangan. Komunitas literasi menawarkan berbagai lokakarya menulis dan sesi umpan balik yang membantu anggotanya untuk mengasah keterampilan menulis mereka. Dengan masukan konstruktif dari sesama anggota, Anda bisa memperbaiki teknik menulis, menemukan suara unik Anda, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam karya Anda. Proses ini tidak hanya memperkaya keterampilan menulis, tetapi juga memperdalam koneksi emosional dengan karya yang dihasilkan.


Membangun Koneksi yang Berarti


Salah satu aspek paling berharga dari bergabung dengan komunitas literasi adalah kesempatan untuk membangun koneksi yang berarti. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup modern, memiliki ruang untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat dan nilai yang sama adalah sesuatu yang sangat berharga. Pertemanan yang terbentuk di komunitas literasi sering kali didasarkan pada cinta bersama terhadap literatur dan seni, menciptakan ikatan yang kuat dan mendalam. Melalui pertemuan rutin, diskusi online, atau kolaborasi proyek, anggota komunitas menemukan dukungan sosial dan emosional yang memperkaya kehidupan mereka.


Menginspirasi Kreativitas dan Imajinasi


Komunitas literasi adalah tempat kreativitas dan imajinasi dapat berkembang tanpa batas. Kegiatan seperti pembacaan puisi, mendongeng, read aloud, dan pameran seni hasil karya sering menjadi bagian dari program komunitas. Ini memberikan ruang bagi anggota untuk menunjukkan bakat mereka, mendapatkan pengakuan, dan menginspirasi orang lain. Selain itu, lingkungan yang mendukung dan mendorong ini memungkinkan ide-ide segar dan inovatif untuk muncul, memperkaya pengalaman kreatif setiap individu yang terlibat.


Komunitas literasi menawarkan lebih dari sekadar tempat untuk membaca dan menulis. Ini adalah ruang di mana kata-kata mendapatkan makna baru, di mana keterampilan ditingkatkan, koneksi yang berarti dibangun, dan kreativitas serta imajinasi didorong untuk berkembang. Bagi remaja dan dewasa muda yang mencari tempat untuk mengejar minat mereka dan menemukan dukungan yang berharga, komunitas literasi adalah pilihan yang sempurna. Dengan berbagai manfaat yang ditawarkannya, komunitas ini dapat menjadi bagian penting dari perjalanan pribadi dan kreatif setiap individu. Jadi, mari bergabung dengan komunitas literasi dan mulai mengeksplorasi dunia penuh inspirasi dan koneksi yang bermakna ini.

=====


Baca juga:

> Menemukan dunia baru melalui komunitas sastra

> Menggemakan bahasa daerah di Yogyakarta

> Kondisi pendidikan di Indonesia





2024-01-03

Peran Komunitas Literasi dan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

1/03/2024 02:11:00 PM 0

 


Problematika Sampah

 

Sampah merupakan salah satu masalah lingkungan yang serius di dunia. Dengan pertumbuhan populasi yang cepat dan konsumsi yang tinggi, jumlah sampah yang dihasilkan terus meningkat. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah sampah yang dihasilkan telah meningkat secara signifikan. Hal itu mengarah pada dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia  Oleh karena itu, penting untuk mengelola sampah dengan bijaksana guna menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah dampak negatifnya. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa langkah yang dapat diambil oleh komunitas literasi dan masyarakat untuk mengelola sampah dengan efektif.


Langkah pertama dalam mengelola sampah adalah dengan menguranginya. Mengurangi sampah berarti menghindari penggunaan bahan yang tidak perlu atau mengurangi konsumsi barang-barang sekali pakai. Ini dapat dilakukan dengan mengadopsi prinsip 3R: Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, seperti kantong plastik, adalah salah satu cara yang efektif untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Selain itu, kita juga dapat menggunakan kembali barang-barang yang masih layak pakai, seperti kemasan makanan atau botol air minum. Misalnya, mengganti botol air plastik dengan botol air yang dapat digunakan berulang kali atau menggunakan kantong belanja kain. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan pilihan produk yang ramah lingkungan dan memiliki siklus pakai yang lebih lama.


Selanjutnya, langkah penting dalam mengelola sampah adalah mendaur ulang. Mendaur ulang berarti memproses kembali bahan-bahan yang dapat didaur ulang untuk digunakan kembali. Banyak jenis sampah seperti kertas, plastik, logam, dan kaca dapat didaur ulang. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam membangun sistem daur ulang yang efektif. Pemerintah dapat menyediakan fasilitas dan infrastruktur daur ulang yang memadai, sementara masyarakat dapat mendukung dengan memisahkan sampah sesuai dengan jenisnya dan mengirimkannya ke tempat daur ulang.


Selain mengurangi dan mendaur ulang, pengelompokan sampah juga penting dalam mengelola sampah dengan baik. Pengelompokan sampah akan lebih memudahkan pengeolaan sampah tersebut. Sampah yang dihasilkan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah berbahaya.


Sangat penting untuk memperhatikan pengelolaan sampah organik. Sampah organik, seperti sisa makanan dan tumbuhan, dapat diolah menjadi kompos yang sangat berguna sebagai pupuk tanah. Dengan memisahkan sampah organik dari sampah non-organik, kita dapat menciptakan sumber daya bernilai dari apa yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam mendirikan fasilitas kompos dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat dari pengelolaan sampah organik.


Selanjutnya, pengelolaan sampah beracun dan berbahaya juga harus diberikan perhatian serius. Sampah seperti baterai, limbah elektronik, dan bahan kimia beracun harus dikelola dengan benar agar tidak mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Pemerintah harus memastikan ada sistem pengumpulan yang aman dan fasilitas pengolahan yang sesuai untuk sampah berbahaya ini. Selain itu, masyarakat juga harus teredukasi tentang risiko dan cara penanganan yang tepat untuk sampah berbahaya ini.


Selain langkah-langkah tersebut, edukasi dan kesadaran masyarakat juga sangat penting dalam mengelola sampah. Masyarakat harus diberi pemahaman tentang pentingnya mengelola sampah dengan benar, baik melalui kampanye penyuluhan, pelatihan, atau pendidikan di sekolah. Menanamkan sikap peduli lingkungan sejak dini pada generasi muda adalah investasi yang berharga untuk masa depan bumi kita.


Pemerintah juga harus memiliki peran aktif dalam mengelola sampah. Membangun fasilitas pengelolaan sampah yang modern, memperkuat peraturan tentang pengelolaan sampah, dan menggalakkan program-program pengelolaan sampah komunitas merupakan beberapa langkah yang dapat diambil oleh pemerintah untuk mencapai tujuan ini.

 

Peran Komunitas Literasi dalam Pengelolaan Bank Sampah

 

Salah satu program pengelolaan sampah yang marak dilaksanakan di masyarakat yaitu bank sampah. Bank sampah adalah lembaga yang diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengelola uang dan limbah. Regulasi mengenai bank sampah ini terdapat dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah.

 

Dalam laman https://waste4change.com/ disampaikan pengertian bank sampah berikut ini.

Bank sampah menerapkan sistem seperti perbankan, namun yang ditabung adalah sampah, bukan uang. Warga yang menabung juga disebut sebagai nasabah dan mempunyai buku tabungan. Awalnya, nasabah harus mengumpulkan sampah-sampah dan memilahnya terlebih dahulu menjadi sampah organik dan non-organik. Sampah organik dapat dibuang sendiri oleh nasabah yang bersangkutan, sementara sampah non-organik dibawa ke bank. Ada pula lembaga yang menerima sampah organik untuk dijadikan pupuk.

 

Kemudian, sampah nonorganik di bank akan ditimbang dan dikonversi agar memiliki nilai ekonomi. Sampah-sampah ini dijual ke pengepul, dikreasikan menjadi karya berupa barang-barang baru yang nantinya juga akan dijual dan menghasilkan uang, dapat pula ditukar untuk emas, membeli sembako, membayar listrik, hingga biaya kesehatan. Nasabah juga diperbolehkan meminjam uang dan mengembalikannya dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Sampah-sampah ini akan diserahkan untuk diproses ke pabrik, agen daur ulang, atau ibu-ibu PKK.


Komunitas literasi dapat berperan besar dalam pengelolaan bank sampah dalam masyarakat. Bank sampah bisa menjadi salah satu program komunitas literasi untuk berperan serta mengajak masyarakat mengelola sampah dengan baik.


Dalam laman https://dlh.luwuutarakab.go.id/ disampaikan bahwa “Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mencapai pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola ini maka warga selain menjadi disiplin dalam mengelola sampah juga mendapatkan tambahan pemasukan dari sampah-sampah yang mereka kumpulkan.”


Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama yang harus kita hadapi dengan serius. Mengurangi, menggunakan kembali, mengelompokkan, dan mendaur ulang sampah adalah langkah-langkah penting dalam mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Memisahkan dan mengelola sampah organik, serta mengatasi sampah berbahaya juga penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta diperlukan untuk mencapai tujuan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dengan adopsi langkah-langkah ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik.

 

 


Sumber rujukan:


dlh.luwuutarakab.go.id. “Apa Itu Bank Sampah dan Apa Manfaatnya”. 29 Juli 2017. https://dlh.luwuutarakab.go.id/berita/7/apa-itu-bank-sampah-dan-apa-manfaatnya.html 


waste4change.com. “Peran Bank Sampah Bagi Masyarakat dan Lingkungan”. 19 Oktober 2022. https://waste4change.com/blog/peran-bank-sampah-bagi-masyarakat-dan-lingkungan/ 






2017-06-14

Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi 2017

6/14/2017 11:00:00 AM 4
Pertemuan penulis bahan bacaan literasi nasional tahap 1 usai diselenggarakan pada Selasa-Kamis, 6-8 Juni 2017. Pertemuan Para penulis se-Indonesia ini merupakan tindak lanjut hasil Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi untuk Anak SD yang diadakan oleh Badan Bahasa Kemendikbud. Sebanyak 110 penulis yang karyanya terpilih, diundang pada pertemuan tersebut.

Para peserta, pejabat Badan Bahasa, dan panitia
berfoto bersama seusai acara pembukaan.
Saya begitu bahagia mendapati kenyataan bahwa saya adalah salah satu di antara mereka. Jujur saja saya merasa minder karena banyak penulis senior yang berada di pertemuan tersebut. Ajang tersebut tidak saya sia-siakan untuk menimba ilmu dari para penulis lain, Selain, tentu saja, sebagai ajang berswafoto dengan penulis lain, he he he. 

Pertemuan hari pertama diisi dengan pembukaan dan pengarahan dari panitia. Pada acara tersebut, kepala Bidang Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bpk Gufran Ali Ibrahim dan Kepala Badan Bahasa, Prof. Dadang Sunendar, turut memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. 

Pertemuan hari kedua diisi dengan kegiatan perbaikan naskah hasil seleksi. Para penulis dibagi menjadi tiga kelas. Setiap kelas diampu oleh seorang penulis senior. Saya berada di kelas A dan kebetulan diampu oleh Bapak Ahmadun Yosi Herfanda. 



Kelas perbaikan naskah yang dipandu oleh Bapak Ahmadun Yossi Herfanda
Pada saat kelas perbaikan naskah, metode yang digunakan di kelas A adalah metode presentasi. Jadi, setiap peserta menampilkan buku yang sudah direvisinya untuk dilihat oleh pengampu. Di sinilah kami bisa saling melihat karya setiap peserta yang sangat bagus. Baik dari sisi cerita, ilustrasi, maupun layout-nya. Saya bisa banyak menimba ilmu dari sini.

Salah satu hal yang agak dikeluhkan oleh kebanyakan peserta adalah format file akhir yang dikumpulkan harus berformat indesign. keluhan itu lebih disebabkan karena sejak awal penulis sudah menata letak bukunya menggunakan program Ms. Office Word. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena banyak peserta, termasuk saya, yang belum pernah berkenalan sama sekali dengan program indesign. Saat ingin mencoba, laptop ternyata tidak support karena ukurannya yang cukup besar dan membutuhkan spesifikasi laptop yang berkapasitas lumayan. Akhirnya, menggunakan jasa pengatak (layouter) menjadi solusi terbaik.

Tampilan sampul buku saya yang terpilih.
Buku yang sudah terseleksi oleh Badan Bahasa akan diseleksi kembali oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Insyaallah bulan September akan keluar hasil seleksi tersebut. Jadi, para penulis akan dihubungi kembali kalau nanti ada hal yang perlu direvisi ulang. 

Hari ketiga diisi dengan penutupan dan penyelesaian administrasi. Saat acara penutupan, Bang Iyut Fitra dan Marhalim Zaini, penyair dari Riau, membacakan puisi mereka. Acara pun akhirnya ditutup secara resmi oleh Bapak Fairul Zabadi, Kepala Bidang Pembelajaran, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Usai sudah seluruh rangkaian acara, saatnya kami pulang ke daerah masing-masing untuk beraktifitas sesuai dengan profesi masing-masing.

Acara penutupan.
Menjadi pemenang lomba menulis sampai ke level nasional ialah pengalaman pertama bagi saya. Ini menjadi sebuah pengalaman sangat berharga. Saya masih harus banyak belajar dan belajar. Satu hal yang ingin terus saya tekuni ialah tentang menulis cerita anak. Dunia anak itu menarik, sangat menarik. Menulis cerita mempunyai tantangan tersendiri, dikatakan mudah, tidak, dibilang sulit, iya, he he he.






Foto-foto bersama teman-teman penulis.
Maaf, foto ini cuma tambahan, he he he...
(Menulis bisa membawamu naik pesawat, guys..)
Baiklah, sekian dulu cerita saya, ya. Sampai bertemu lagi di tulisan berikutnya. 


2017-05-30

MENYOAL GELIAT LITERASI DI INDONESIA

5/30/2017 02:57:00 PM 4
Sumber gambar: dakwatuna.com

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.
Menurut UNESCO, pengertian literasi adalah sebagai berikut. “Literacy as the “ability to identify, understand, interpret, create, communicate and compute, using printed and written materials associated with varying contexts. Literacy involves a continuum of learning in enabling individuals to achieve their goals, to develop their knowledge and potential, and to participate fully in their community and wider society”(The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)).

Di Indonesia sendiri, fakta memprihatinkan terungkap dari pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016. Dari penelitian tersebut terungkap fakta kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara (www.jpnn.com, 13 April 2016).

Menilik dari fakta tersebut, sudah semestinya program literasi terus diupayakan secara maksimal. Pemerintah sudah mulai memberikan perhatian serius pada program-program literasi. Upaya untuk meningkatkan minat baca dan menjaga agar kegiatan literasi terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat pun terus dilakukan. 

Permendikud nomor 23 tahun 2015 yang mengharuskan para siswa membaca 15 menit sebelum memulai KBM adalah langkah revolusioner pemerintah untuk memulai kebiasaan membaca di kalangan siswa, sekaligus Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini adalah gerakan wajib baca buku sukarela di sekolah setiap hari selama minimal 15 menit. Gerakan ini dikenal dengan nama sustained silent reading. Meskipun wajib kegiatan ini termasuk bersifat rekreatif dan free voluntary reading. Berdasarkan 51 dari 54 penelitian pada program SSR ini siswa meningkat prestasinya dan semakin lama program ini dilaksanakan semakin besar pula keberhasilannya. (Krashen, S. 2007). Gerakan ini diharapkan mampu memacu dan memicu kebiasaan membaca di kalangan pelajar. 

Di tahun 2017 ini, Direktorat Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Dit. Bindiktara), Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyelenggarakan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Kampung Literasi (KL) di beberapa Kabupaten/Kota di tanah air. 

GIM yang dicanangkan pertama kali di tahun 2015 ini merupakan kegiatan membangun budaya baca masyarakat yang diselenggarakan secara lintas sektoral dengan melibatkan lembaga swasta, organisasi sosial, kemasyarakatan, keagamaan, kepemudaan, profesi, satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan nonformal, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan forum-forum yang menjadi mitra dinas pendidikan. GIM bertujuan agar masyarakat dapat memperoleh informasi dan mengakses bahan bacaan yang dibutuhkannya dan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup serta bisa menjadikannya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Menurut informasi, GIM 2017 akan diselenggarakan di 19 Kabupaten/Kota dan KL 2017 akan diselenggarakan di 34 lembaga. (http://donasibuku.kemdikbud.go.id)

Berbagai gerakan literasi juga sedang dikembangkan oleh para pegiat literasi. Berbagai upaya pun dilakukan untuk memupus kesenjangan bahan bacaan di kota besar dengan di daerah. Pemerintah pun menanggapi positif. Salah satunya dengan solusi menggratiskan biaya ongkir untuk pengiriman donasi buku melalu kantor pos. Dengan menggratiskan biaya ongkir buku, diharapkan donatur semakin bersemangat untuk mendistribusikan buku kepada TBM dan perpustakaan yang dituju. Bagaimanapun, upaya meningkatkan minat baca masyarakat perlu ditunjang dengan ketersediaan bahan bacaan yang memadai.

Dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk menyukseskan gerakan literasi ini. Salah satu yang utama adalah peran keluarga. Sebagai unit masyarakat terkecil, keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Oleh karena itu, berkaitan dengan gerakan literasi, tentunya peran keluarga harus diperkuat. 

Mewujudkan gerakan literasi dimulai dari rumah bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Perlu ditumbuhkan pondasi awal berupa kesadaran dan rasa butuh terhadap pentingnya membaca. Jika hal tersebut belum terbangun, maka akan sulit budaya literasi terwujud.

*Artikel ini dimuat di Harian Bengkulu Ekspress edisi Selasa, 30 Mei 2017.