Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan

2017-06-14

Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi 2017

6/14/2017 11:00:00 AM 4
Pertemuan penulis bahan bacaan literasi nasional tahap 1 usai diselenggarakan pada Selasa-Kamis, 6-8 Juni 2017. Pertemuan Para penulis se-Indonesia ini merupakan tindak lanjut hasil Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi untuk Anak SD yang diadakan oleh Badan Bahasa Kemendikbud. Sebanyak 110 penulis yang karyanya terpilih, diundang pada pertemuan tersebut.

Para peserta, pejabat Badan Bahasa, dan panitia
berfoto bersama seusai acara pembukaan.
Saya begitu bahagia mendapati kenyataan bahwa saya adalah salah satu di antara mereka. Jujur saja saya merasa minder karena banyak penulis senior yang berada di pertemuan tersebut. Ajang tersebut tidak saya sia-siakan untuk menimba ilmu dari para penulis lain, Selain, tentu saja, sebagai ajang berswafoto dengan penulis lain, he he he. 

Pertemuan hari pertama diisi dengan pembukaan dan pengarahan dari panitia. Pada acara tersebut, kepala Bidang Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bpk Gufran Ali Ibrahim dan Kepala Badan Bahasa, Prof. Dadang Sunendar, turut memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. 

Pertemuan hari kedua diisi dengan kegiatan perbaikan naskah hasil seleksi. Para penulis dibagi menjadi tiga kelas. Setiap kelas diampu oleh seorang penulis senior. Saya berada di kelas A dan kebetulan diampu oleh Bapak Ahmadun Yosi Herfanda. 



Kelas perbaikan naskah yang dipandu oleh Bapak Ahmadun Yossi Herfanda
Pada saat kelas perbaikan naskah, metode yang digunakan di kelas A adalah metode presentasi. Jadi, setiap peserta menampilkan buku yang sudah direvisinya untuk dilihat oleh pengampu. Di sinilah kami bisa saling melihat karya setiap peserta yang sangat bagus. Baik dari sisi cerita, ilustrasi, maupun layout-nya. Saya bisa banyak menimba ilmu dari sini.

Salah satu hal yang agak dikeluhkan oleh kebanyakan peserta adalah format file akhir yang dikumpulkan harus berformat indesign. keluhan itu lebih disebabkan karena sejak awal penulis sudah menata letak bukunya menggunakan program Ms. Office Word. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena banyak peserta, termasuk saya, yang belum pernah berkenalan sama sekali dengan program indesign. Saat ingin mencoba, laptop ternyata tidak support karena ukurannya yang cukup besar dan membutuhkan spesifikasi laptop yang berkapasitas lumayan. Akhirnya, menggunakan jasa pengatak (layouter) menjadi solusi terbaik.

Tampilan sampul buku saya yang terpilih.
Buku yang sudah terseleksi oleh Badan Bahasa akan diseleksi kembali oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Insyaallah bulan September akan keluar hasil seleksi tersebut. Jadi, para penulis akan dihubungi kembali kalau nanti ada hal yang perlu direvisi ulang. 

Hari ketiga diisi dengan penutupan dan penyelesaian administrasi. Saat acara penutupan, Bang Iyut Fitra dan Marhalim Zaini, penyair dari Riau, membacakan puisi mereka. Acara pun akhirnya ditutup secara resmi oleh Bapak Fairul Zabadi, Kepala Bidang Pembelajaran, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Usai sudah seluruh rangkaian acara, saatnya kami pulang ke daerah masing-masing untuk beraktifitas sesuai dengan profesi masing-masing.

Acara penutupan.
Menjadi pemenang lomba menulis sampai ke level nasional ialah pengalaman pertama bagi saya. Ini menjadi sebuah pengalaman sangat berharga. Saya masih harus banyak belajar dan belajar. Satu hal yang ingin terus saya tekuni ialah tentang menulis cerita anak. Dunia anak itu menarik, sangat menarik. Menulis cerita mempunyai tantangan tersendiri, dikatakan mudah, tidak, dibilang sulit, iya, he he he.






Foto-foto bersama teman-teman penulis.
Maaf, foto ini cuma tambahan, he he he...
(Menulis bisa membawamu naik pesawat, guys..)
Baiklah, sekian dulu cerita saya, ya. Sampai bertemu lagi di tulisan berikutnya. 


2017-05-30

MENYOAL GELIAT LITERASI DI INDONESIA

5/30/2017 02:57:00 PM 4
Sumber gambar: dakwatuna.com

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.
Menurut UNESCO, pengertian literasi adalah sebagai berikut. “Literacy as the “ability to identify, understand, interpret, create, communicate and compute, using printed and written materials associated with varying contexts. Literacy involves a continuum of learning in enabling individuals to achieve their goals, to develop their knowledge and potential, and to participate fully in their community and wider society”(The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)).

Di Indonesia sendiri, fakta memprihatinkan terungkap dari pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016. Dari penelitian tersebut terungkap fakta kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara (www.jpnn.com, 13 April 2016).

Menilik dari fakta tersebut, sudah semestinya program literasi terus diupayakan secara maksimal. Pemerintah sudah mulai memberikan perhatian serius pada program-program literasi. Upaya untuk meningkatkan minat baca dan menjaga agar kegiatan literasi terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat pun terus dilakukan. 

Permendikud nomor 23 tahun 2015 yang mengharuskan para siswa membaca 15 menit sebelum memulai KBM adalah langkah revolusioner pemerintah untuk memulai kebiasaan membaca di kalangan siswa, sekaligus Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini adalah gerakan wajib baca buku sukarela di sekolah setiap hari selama minimal 15 menit. Gerakan ini dikenal dengan nama sustained silent reading. Meskipun wajib kegiatan ini termasuk bersifat rekreatif dan free voluntary reading. Berdasarkan 51 dari 54 penelitian pada program SSR ini siswa meningkat prestasinya dan semakin lama program ini dilaksanakan semakin besar pula keberhasilannya. (Krashen, S. 2007). Gerakan ini diharapkan mampu memacu dan memicu kebiasaan membaca di kalangan pelajar. 

Di tahun 2017 ini, Direktorat Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Dit. Bindiktara), Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyelenggarakan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Kampung Literasi (KL) di beberapa Kabupaten/Kota di tanah air. 

GIM yang dicanangkan pertama kali di tahun 2015 ini merupakan kegiatan membangun budaya baca masyarakat yang diselenggarakan secara lintas sektoral dengan melibatkan lembaga swasta, organisasi sosial, kemasyarakatan, keagamaan, kepemudaan, profesi, satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan nonformal, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan forum-forum yang menjadi mitra dinas pendidikan. GIM bertujuan agar masyarakat dapat memperoleh informasi dan mengakses bahan bacaan yang dibutuhkannya dan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup serta bisa menjadikannya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Menurut informasi, GIM 2017 akan diselenggarakan di 19 Kabupaten/Kota dan KL 2017 akan diselenggarakan di 34 lembaga. (http://donasibuku.kemdikbud.go.id)

Berbagai gerakan literasi juga sedang dikembangkan oleh para pegiat literasi. Berbagai upaya pun dilakukan untuk memupus kesenjangan bahan bacaan di kota besar dengan di daerah. Pemerintah pun menanggapi positif. Salah satunya dengan solusi menggratiskan biaya ongkir untuk pengiriman donasi buku melalu kantor pos. Dengan menggratiskan biaya ongkir buku, diharapkan donatur semakin bersemangat untuk mendistribusikan buku kepada TBM dan perpustakaan yang dituju. Bagaimanapun, upaya meningkatkan minat baca masyarakat perlu ditunjang dengan ketersediaan bahan bacaan yang memadai.

Dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk menyukseskan gerakan literasi ini. Salah satu yang utama adalah peran keluarga. Sebagai unit masyarakat terkecil, keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Oleh karena itu, berkaitan dengan gerakan literasi, tentunya peran keluarga harus diperkuat. 

Mewujudkan gerakan literasi dimulai dari rumah bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Perlu ditumbuhkan pondasi awal berupa kesadaran dan rasa butuh terhadap pentingnya membaca. Jika hal tersebut belum terbangun, maka akan sulit budaya literasi terwujud.

*Artikel ini dimuat di Harian Bengkulu Ekspress edisi Selasa, 30 Mei 2017.