Di awal tahun pelajaran 2017 ini, kita tersentak dengan adanya dua berita viral. Kita disuguhi dua video viral berisi perundungan (bullying) yang mirisnya terjadi dan melibatkan mereka yang sedang ada di dunia pendidikan.
Video pertama adalah seorang mahasiswa berkebutuhan khusus yang dirundung oleh teman-teman di kampusnya. mahasiswa itupun marah dan melemparkan tong sampah ke arah teman yang mengganggunya.
Video kedua adalah video sekelompok anak smp yang merundung seorang siswi. siswi tersebut dijambak, dipukuli, dan terakhir disuruh mencium tangan dan bersimpuh di kaki salah seorang pelaku perundungan tersebut.
Dua video itupun sekejap menjadi viral. Cacian dan hujatan ditumpahkan kepada para pelaku. Banyak yang kemudian mencoba menelisik siapa saja pelakunya. Pihak berwenang pun akhirnya turun tangan menangani persoalan tersebut. Berita terakhir yang dirilis media menyebutkan, para siswa SMP yang merundung temannya tersebut akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan KJP-nya dicabut.Adapun para mahasiswa yang merundung mahasiswa berkebutuhan khusus tersebut sudah mendatangi keluarga korban dan meminta maaf, meskipun demikian, pihak kampus dikabarkan akan tetap melakukan tindakan sesuai prosedur.
Baca juga: Memahami untuk Peduli
Sebelum dua video perundungan itu beredar dan viral, sebenarnya sudah ada beberapa kasus serupa yang terjadi. Kasus tersebut juga menjadi viral dan mendapat perhatian secara nasional.
Ah, apa sih yang salah dengan para generasi muda tersebut? tidakkah mereka sadar tindakan mereka tersebut sangat tidak pantas dan melukai perasaan dan psikis orang lain? Apakah hal-hal perundungan demikian sangat menyenangkan bagi mereka?
Tentu saja kita sangat emosi melihat perlakuan yang demikian itu dari mereka. Kita yang sudah dewasa saja miris, bagaimana mereka yang masih belia bisa dengan enjoi melakukannya?
Kita bisa berpraduga bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi perilaku mereka. satu yang utama tentu dari keluarga. Keluarga adalah awal mula, semua bermula dari keluarga. Bagaimana keluarga, kedua orang tua mereka, memperlakukan dan mendidik mereka adalah hal yang patut dicermati.
Ada kalanya perilaku tersebut terjadi karena pembiaran, anak terlalu dimanja seakan tidak pernah salah. Yang lebih tragis lagi kalau anak terbukti bersalah dan tetap dibela. Hal tersebut akan menumbuhkan sikap mau menang sendiri, bila salah, toh nanti tetap dibela orang tua. Mungkin seperti itu jadinya pola pikir mereka.
Baca juga: Menjadi Orang Tua yang Baik.
Bisa juga perilaku sadis tersebut muncul karena trauma dengan lingkungan dan kondisi rumah. Orang tua mereka terlalu galak dan mengekang, sehingga mereka mencari pelampiasan dengan merundung temannya yang dinilai lebih lemah. Apalagi jika ada teman lain yang mendukung, tindakan mereka akan semakin menjadi-jadi. sebenarnya, di satu sisi mereka bersifat penakut, mereka berani kalau beramai-ramai.
Di samping faktor keluarga dan lingkungan, faktor eksternal lain juga patut diwaspadai. Gencarnya arus informasi melalui internet dan media massa yang lain patut diwaspadai.Tontonan yang kurang mendidik akhir-akhir ini juga sudah cukup meresahkan.
Sudah tak terhitung curahan hati para orang tua di medsos yang mengeluhkan kualitas tayangan televisi yang bermutu rendah, cenderung murahan. Apa daya jika rating masih menjadi tujuan utama dibanding kualitas dan mutu tayangan. Semua tahu, rating is profit. Perhatian pemerintah sebagai pengendali siaran sangat dibutuhkan.
Dari sisi dunia pendidikan sendiri, bukan rahasia lagi kalau sistem senioritas di banyak lembaga pendidikan ketika masa orientasi sudah hampir tidak ada bedanya dengan perundungan massal yang dilakukan kakak kelas pada adik kelasnya.
Akhirnya, dari kejadian-kejadian perundungan tersebut, kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa belajar bahwa ada hak dan kebebasan orang lain yang tidak bisa dikekang, ada sisi kelam anak dan remaja yang perlu diperhatikan, dan ada solidaritas sosial yang tinggi dalam masyarakat saat melihat kesewenang-wenangan menindas rasa kemanusiaan.
Kita tetap berharap pihak-pihak yang berpengaruh, termasuk diri kita sendiri, lantang bersuara melawan perundungan, bullying. Dilihat dari sisi manapun, walaupun dengan dalih pembelajaran, perundungan tetap tidak bisa dibenarkan. Akan timbul trauma dan rasa ingin balas dendam yang terus berputar menjadi lingkaran setan.



