2017-04-16

Menakar Geliat Pasar di Bengkulu

4/16/2017 10:13:00 AM 14

Pasar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah (1) n tempat orang berjual beli; pekan, (2) Ek kekuatan penawaran dan permintaan, tempat penjual yang ingin menukar barang atau jasa dengan uang, dan pembeli yang ingin menukar uang dengan barang atau jasa. Pasar adalah tempat imteraksi antara penjual dan pembeli, produsen dan konsumen. 

Karena fungsinya yang mempertemukan penjual dan pembeli, pasar menjadi area penting yang seringkali menjadi barometer kondisi ekonomi suatu daerah. Ada kalanya pasar menjadi sangat ramai karena ekonomi masyarakat yang sedang bergairah, ada kalanya pasar menjadi sepi karena keadaan ekonomi juga sedang lesu. 

Apabila kita melihat pola interaksi kehidupan di pasar, sebenarnya pola interaksi di dalam pasar tidak hanya terjadi pada produsen dengan konsumen saja, tetapi terdapat pola interaksi lain. Pola interaksi ini disebut dengan eksternalitas. Eksternalitas dapat dipahami dengan dampak bagi sebuah pihak dari keputusan yang diambil oleh pihak lain. Eksternalitas terdiri dari empat macam pola dampak interaksi yaitu dampak produsen terhadap produsen lain, dampak produsen terhadap konsumen, dampak konsumen dengan konsumen lain, dan dampak konsumen dengan produsen (http://pradipta-aditya-fisip12.web.unair.ac.id/)

Interaksi tersebut bisa mengakibatkan beberapa hal seperti harga yang naik turun,komoditas tertentu yang tidak laku, dan lain sebagainya. Di sinilah peran pemerintah menjadi penting sebagai pihak yang berwenang mengintervensi kegiatan ekonomi di dalam pasar. Pemerintah berperan dalam penetapan harga tertinggi (ceiling price) dan harga terendah (floor price) di dalam pasar. Jika tidak ditetapkan bisa terjadi ketimpangan, seperti penjual bisa menentukan harga seenaknya sendiri yang mengakibatkan tidak adanya keseimbangan sehingga akan berpengaruh pada kehidupan pasar. 

Lalu bagaimana dengan di Bengkulu sendiri? Situs berita Kompas versi online edisi 23/5/2016 melansir bahwa ternyata,
80 persen perekonomian di Provinsi Bengkulu berasal dari sektor konsumsi, bukan sektor produksi. Hal ini menjadi perhatian Bank Indonesia (BI). 
Deputi Perwakilan BI di Bengkulu, Christin R Sidabutar, mengungkapkan bahwa 80 persen pertumbuhan ekonomi di Bengkulu masih ditopang oleh faktor konsumsi, bukan produksi.
"Dari 80 persen itu, sebanyak 65 persen adalah konsumsi rumah tangga. Sisanya, konsumsi pemerintah. Sektor produksi masih kecil," kata Christin, Senin (23/5/2016).
BI menilai, dengan pertumbuhan ekonomi yang didominasi oleh konsumsi menandakan perekonomian Bengkulu rapuh. 
Dari kenyataan tersebut, keberadaan pasar sebagai tempat bertransaksi menjadi sangat penting. Pun menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk lebih meningkatkan peran pasar sebagai penopang ekonomi Bengkulu. Perbaikan infrastruktur, perbaikan sistem pasar, juga menjadi PR besar pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pasar. Pasar di Bengkulu seharusnya lebih banyak menjadi tempat bertransaksi antara produsen di Bengkulu dengan konsumen di Bengkulu, bukan produsen dari luar Bengkulu saja. 

Harus diakui letak geografis Bengkulu memang kurang menguntungkan. Angka kemiskinan di Bengkulu juga masih cukup tinggi, bahkan menurut data di tahun 2016 termasuk tertinggi di Sumatra (beritasatu.com). Tantangan yang sangat berat untuk bisa mengoptimalkan pasar sebagai penopang ekonomi rakyat. 

Di Bengkulu, utamanya di Kota Bengkulu, pasar-pasar besar seperti Pasar Panorama, Pasar Minggu, dan Pasar Barukoto berperan cukup sentral dan strategis mempertemukan penjual dan pembeli dari luar maupun dalam Kota Bengkulu. Meskipun demikian, seperti yang sudah saya tulis di atas, komoditas yang dijual lebih banyak disuplai dari luar Bengkulu. Imbasnya, perputaran modal pun kembali ke luar Bengkulu. 

Baiklah, ini hanya sekadar catatan seseorang yang bukan ahli ekonomi, hehehe. Saya hanya mencoba menuliskan apa yang saya pahami, serta mencoba menyimpulkan bahan-bahan yang sudah saya baca dari berbagai media. Tulisan ini juga saya sertakan dalam tantangan #nulisserempak bertema #PasarBengkulu yang dimotori oleh blogger Bengkulu

Semoga bermanfaat.

=================
Sumber Referensi: 

2017-04-15

Antara Zaffa dan Zalfa, Cerita Salah Masuk Hotel di Bintuhan

4/15/2017 06:17:00 PM 8
Seperti pernah saya singgung di postingan Sekilas Kisah Tur di Kaur tentang kejadian lucu di hotel. Kejadian tersebut adalah salah masuk hotel sewaktu di Bintuhan, maka seperti inilah ceritanya.

Ketika berangkat dari Bengkulu menuju Kaur, rombongan kami terpisah menjadi dua mobil. Kebetulan saat itu mobil yang saya tumpangi sudah sampai lebih dulu di Kaur, sementara mobil satunya yang ditumpangi rombongan lain termasuk ketua panitia kegiatan tiba belakangan karena ada urusan di Manna.

Nah, ketika itu, hotel sebenarnya sudah dipesan sebelumnya. kami tinggal check in. Yang kami ingat nama hotelnya adalah Zalfa. Begitu kami tiba di Bintuhan, segera kami masuk ke Hotel Zalfa. Melapor ke resepsionis, dan leyeh-leyeh beristirahat. 

Resepsionis mengatakan kalau hotel belum di-booking. Namun kami belum merasa curiga saat itu. Kami pun dipersilakan untuk menunggu sambil membuat teh atau kopi sesuai selera. Kami pun dengan santainya ngopi dan ngeteh.

Bangunan Hotel Zalfa cukup luas. Ada setidaknya 18 kamar di hotel tersebut. Terdapat juga aula yang bisa menampung 100 orang. Kami tidak bertanya lebih lanjut tentang spesifikasi hotel, kami lebih memilih beristirahat di lobby.
Hotel Zalfa tampak dari depan
Sumber gambar: kupasbengkulu.com
Tak berapa lama, rombongan kedua itu pun sampai. Mereka menuju Hotel Zalfa setelah diberitahu melalui telepon oleh salah satu teman yang ada di rombongan pertama. Betapa malunya kami ketika diberi tahu bahwa hotel yang akan ditempati adalah Hotel Zaffa. Untung, kami belum sempat menurunkan tas dan perlengkapan kami. Untung saja. Dengan menahan malu, kami pun meminta maaf pada resepsionis. Kopi dan teh yang sudah telanjur dinikmati hendak kami bayar, tetapi ditolak oleh resepsionis.

Hmmm, ternyata ada dua hotel yang hampir mirip namanya, satu bernama Zalfa, satunya lagi Zaffa. Bahkan kami sempat melihat ada papan nama hotel bernama Fa. Entah ada hubungan apa mereka, hehehe…

Kami pun check in di Hotel Zaffa. Melihat bangunannya, terlihat kalau hotel ini masih baru. Hotel ini mempunyai sekitar 20 kamar. Kisaran harga antara Rp150.000--Rp350.000 termasuk sarapan dan snack harian. 



Hotel Zaffa
Dari segi pelayanan, menurut saya hotel ini cukup baik. Sprei dan handuk diganti setiap hari, tidak hanya dibersihkan seperti di beberapa hotel lain. Ada juga fasilitas wifi yang cukup memanjakan tamu. Tamu pun bebas membuat teh atau kopi yang sudah disediakan di ruang televisi.



Akhirnya, kami tiba di hotel yang benar dan bisa beristirahat dengan nyaman. Hal ini menambah pengalaman kami, hotel di Kota Bintuhan cukup banyak dan ada yang namanya mirip-mirip. Dari sisi marketing mungkin bagus, tapi bisa juga membingungkan untuk tamu yang baru pertama kali berkunjung.

Sekilas Kisah Tur ke Kaur

4/15/2017 12:33:00 PM 18
Apa kabar sahabat? Semoga selalu dilimpahi kesehatan dan keberkahan. Kali ini saya ingin bercerita tentang perjalanan ke Kota Bintuhan, Kabupaten Kaur.

Hari Minggu, 9 April, saya dan rombongan dari Kantor Bahasa Bengkulu bertolak dari Bengkulu menuju Kota Bintuhan, Kab. Kaur. Kami akan mengadakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Indonesia se-Kabupaten Kaur.

Kaur adalah salah satu kabupaten di Bengkulu yang berbatasan dengan Provinsi Lampung. Kaur, nama ini cukup membekas dalam ingatan saya. Dulu, awal-awal berkunjung ke Bengkulu saya naik travel yang selalu singgah beristirahat di salah satu warung makan di wilayah Kaur. Kalau tidak salah ingat nama warung makan tersebut adalah Kaur Raya, di daerah penyimpangan. Jadi, perjalanan dinas seakan menjadi perjalanan nostalgia, napak tilas perjalanan saat pertama kali ke Bengkulu.

Perjalanan Bengkulu-Kaur kami tempuh kurang lebih selama 6 jam. Kami berangkat pukul 09.00, sampai di Bintuhan pukul 16.00. Kondisi jalan yang kadang rusak, sering memperlambat perjalanan. Semoga pemerintah yang berwenang memperhatikan hal ini.

Saya awalnya sempat berpikir akan kesulitan mendapatkan penginapan di Bintuhan. Ternyata dugaan saya salah. Banyak sekali penginapan di sana. Kami akhirnya menginap di hotel Zaffa. Ada cerita lucu tentang penginapan ini, hehehe. Cerita lucu tersebut saya posting di artikel lain mengenai hotel di Kaur.


Hotel Zaffa Kaur
Bintuhan sebagai ibukota Kabupaten Kaur cukup terkenal dengan pantai dan lautnya. Sayang sekali karena jadwal kegiatan yang padat membuat saya tidak bisa leluasa bermain di pantai. Sedih… kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore hari. 

Akhirnya saya hanya berkesempatan mengunjungi Pantai Linau, salah satu destinasi bagus di Kaur, pada malam hari. Yah, hanya bisa mendengar debur ombak dan kesiur anginnya saja. 

Pantai Linau
Sumber gambar: http://wargakaur.blogspot.co.id
Untuk mengobati kekecewaan, saya dan teman-teman mencoba kuliner yang jarang ada, yaitu sate gurita. Kami cukup penasaran seperti apa rasa sate gurita tersebut. Akhirnya, kami mampir di rumah makan Voltus dan memesan sate gurita. Ternyata, memang unik dan sangat lezat rasanya. Tentang harga juga cukup terjangkau. Satu porsi harganya di kisaran Rp30.000. Hmmm, akhirnya terobati juga rasa penasaran akan sate gurita, hehehe
Maaf tidak ada foto satenya, lupa...

Salah satu lokasi cukup menarik yang kami temui adalah lapangan Merdeka. Lokasi ini menjadi semacam alun-alun kota. Di situ ada Masjid Al Kahfi yang menjadi kebanggaan masyarakat Kaur.


Masjid al Kahfi di Lapangan Merdeka Bintuhan
Sumber gambar: http://wargakaur.blogspot.co.id
Tentang gambaran sekilas Kota Bintuhan secara umum, ini adalah kota yang cukup tenang, masih cukup sepi malah, dan cukup tertata. Fasilitas publik pun lumayan tersedia. Kota ini menjadi cukup ‘hidup’ karena dilalui jalan lintas Sumatra.